
Ancaman itu sama sekali tidak Bima gubris, sudah dia duga pada akhirnya sang papa akan kembali menggunakan kekuasaan untuk menahannya. Bima takut? Sama sekali tidak, meski tahu setelah keluar dari rumah ini dia bukan siapa-siapa.
Bukan lagi pemimpin perusahaan yang dulunya tersohor dan membanggakan papanya berkali-kali, bukan pula seorang Bimantara Aksa yang dapat membuat bungkam hanya dengan menyebut nama papanya.
Lengkara mengerti, dia tidak menghalangi keinginan sang suami. Wanita itu mengekor dengan tangan yang selalu Bima genggam, beruntung saja Bima menghalangi Lengkara yang hendak menata pakaian ke lemari tadi malam.
Lengkara takut, dia hanya menunduk demi menghindari tatapan maut mertuanya. Ya, sekalipun Bima mengatakan tidak, tapi dengan jelas Papa Atma menyeret namanya sebagai penyebab perubahan sikap Bima.
Keduanya kembali melewati Papa Atma yang memang menunggu Bima turun, sudah tentu dengan tangan yang berkacak pinggang dan mata tajamnya. Berkali-kali dia meanggil nama Bima, tapi tetap Bima abaikan dan terus berlalu. Hingga, langkahnya terhenti kala Papa Atma melontarkan sebuah kalimat yang sama sekali tidak pernah Bima sangka.
"Semua harta yang kau milikki adalah hasil jerih payah papa ... kembalikan," pinta papa Atma yang berhasil membuat Bima tersenyum getir.
"Keluarkan semua kartumu, kecuali identitas," titahnya yang tanpa pikir panjang Bima turuti.
"Apa lagi?"
"Jam tangan."
Bima tidak berontak ketika diminta mengembalikan barang yang pernah dia dapatkan. Memang berasal dari uang papanya, tapi yang berusaha adalah dia. Terserah, akan lebih baik begini dan Bima tidak perlu berhutang budi.
Dada Lengkara sakit menyaksikannya, wajah datar Bima yang terlihat bisa saja justru membuatnya kian terluka, sungguh. Dia sempat menyaksikan papa dan kakaknya bertikai, tapi tidak separah ini.
Tidak hanya Lengkara, tapi Yudha juga merasakan hal yang sama. Dia hendak menyusul kepergian Bima, tapi secepat itu sang papa melontarkan ancaman yang berhasil membuat Yudha terdiam.
"Jika kau berani mengikuti langkahnya ... maka kau sudah siap menerima kabar tentang kematian papa, Yudha."
__ADS_1
Kekacauan itu juga sempat disaksikan pak Chan, pria itu baru tiba dan mendapati tuan rumah sudah bertikai hebat. Sama sekali tidak dia duga jika Bima ternyata diusir terang-terangan oleh Atmadja.
"Siapapun!! Jangan pernah ada yang berani menolongnya ... kau terutama," gertak Papa Atma menunjuk pak Chan yang dia curigai akan mencuri waktu demi menolong Bima.
Sudah sedewasa itu, tapi Bima masih menjadi kekhawatiran terbesar bagi pak Chan. Pria bermata sipit itu hanya berharap bahwa tuan muda kesayangannya tidak akan melarat seperti yang sempat dia dengar secara tidak sengaja.
.
.
Jika dahulu Bima tidak punya pilihan lain, sekarang jelas berbeda. Diusir papanya bukan berarti Bima kehilangan langkah, setelah meninggalkan kediaman papanya pria itu menuntun Lengkara untuk pergi ke rumah sang ibu. Ya, tidak begitu jauh dan perjalanan kesana bisa ditempuh sekitar satu jam.
Tanpa uang, hanya identitas diri di dalam dompetnya. Bima belum mengucapkan apa-apa, dia masih terdiam dan memendam malu di hadapan sang istri. Hendak bagaimana dia saat ini, bahkan untuk pergi ke rumah ibunya saja Bima bingung.
Mereka berhenti di sebuah halte, Bima tidak pernah naik kendaraan umum, tapi mungkin ini jalan satu-satunya. Lengkara terlihat lelah hingga Bima mempersilahkan sang istri untuk bersandar di pundaknya.
"Iya, Mas kenapa?"
"Pinjam uangnya boleh?"
Demi Tuhan wajah Bima memerah, dia terpaksa karena hanya Lengkara yang dia punya. Pria itu mengusap wajahnya kasar dan Lengkara paham betul perasaannya.
"Balikinnya kapan?" Lengkara bercanda, tanpa diminta juga pasti dia berikan.
"Nanti, kalau mas mampu," jawab Bima menghela napas panjang, Lengkara yang mendongak menatap wajahnya hanya tertawa pelan.
__ADS_1
"Jangan dipikirkan ... selagi bersamaku, kamu tidak akan terlunta-lunta seperti kata papa," tutur Lengkara menenangkan Bima, dia tidak perlu bertanya panjang lebar karena memang dengan jelas dia mendengar dan melihat sendiri bagaimana Atma memperlakukannya persis anak tak berharga.
"Harusnya mas yang menjamin hidupmu ... maaf, Ra, mas jatuh miskin sekarang."
"Tidak masalah, papa kaya kita numpang hidup saja."
Bima sedang pusing-pusingnya, dan Lengkara menjawab sesuka hati dan sama sekali tidak Bima duga. Mungkin terlalu banyak menonton televisi hingga otaknya sesantai ini dalam menjalani kehidupan.
"Mana bisa begitu, Sayang."
"Mas tenang pokoknya ... harta buat kami sudah papa bagi rata, kita akan tetap kaya jangan dibuat sakit kepala," ujar Lengkara terlihat benar-benar tidak ada beban sama sekali.
Memiliki istri cantik itu hal biasa, tapi memiliki istri yang tidak membesar-besarkah masalah adalah sesuatu yang luar biasa. Apa yang Lengkara hadapi saat ini, sama halnya seperti wanita yang mendapati kenyataan jika suaminya bangkrut.
Namun, Lengkara justru berbeda dan dia memang santai saja. Bima pikir istrinya akan ikut marah dan sedih dengan apa yang terjadi, tanpa dia duga hal semacam itu bak dianggap angin lalu dan dia telrihat bahagia kala bus yang ditunggu kini tiba.
"Mas ... aku mau duduknya di dekat jendela," pinta Lengkara yang membuat Bima agak sedikit bingung karena kursi yang berada di dekat jendela sudah terisi.
"Lengkara?!!"
Seorang pria yang duduk paling belakang tiba-tiba melambaikan tangan dan menepuk kursi di sisinya. Tanpa banyak berpikir, Lengkara menarik sang suami yang membuat Bima mendadak tak suka.
"Siapa laki-laki itu? Temannya kah?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -