Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 160 - Istri Tak Ternilai (Ending)


__ADS_3

Tiada yang lebih baik selain berlindung di balik punggung sang mertua. Ya, itu adalah satu-satunya cara yang dapat Bima lakukan saat ini. Khawatir andai Lengkara mengejarnya, pria itu duduk manis di sisi Papa Mikhail yang tengah duduk manis bersama Dewangga dalam pelukannya.


"Kau kenapa?"


"Tidak apa-apa, Pa," jawab Bima menyeka keringat dan sengaja duduk begitu dekat dengan harapan tubuhnya tidak akan terlihat andai nanti Lengkara turun dan mencarinya.


"Yakin?"


"Hm, yakin."


"Lalu kenapa harus sedekat ini? Geser sedikit, sofanya sempit," pinta Papa Mikhail lantaran jarak mereka sedekat itu.


"Maklumin, Pa, mungkin Bima dingin."


Meski sudah cukup lama, tapi hingga hari ini rumahnya tetap ramai juga. Tidak menginap memang, tapi mereka seolah bergantian datang dengan alasan yang sama. Yakni, mengunjungi malaikat kecil yang akhir-akhir ini menyita perhatian banyak orang.


"Kau datang juga akhirnya, bawa apa, Zean?"


"Hm? Ini, masakan Syila buat Lengkara. Papa jangan, kan tidak habis melahirkan," jawabnya seakan tengah bicara dengan teman sebaya.


Andai saja Papa Mikhail tidak sedang memeluk cucunya besar kemungkinan sendal itu melayang ke kepala Zean. Berhubung ada Dewangga, Papa Mikhail terpaksa memupuk rasa sabar lantaran khawatir mental cucunya tertekan.


"Oh iya? Hudzai mana?"


"Ada, tidur di kamar tamu sama Azkara," jawab Papa Mikhail kemudian, maklum saja Hudzai memang sejak seminggu lalu tidur di kediaman Lengkara karena terlalu bahagia menyambut adik sepupunya. Padahal, dia juga sudah punya adik, cuma memang bukan bayi lagi.


"Huft anak itu, kapan mau pulangnya?"


Zean menghela napas panjang, dia menghempaskan tubuh di sofa yang berhadapan langsung dengan Bima dan papanya. Sulit sekali membuat hati sang putra luluh, sewaktu kecil dikuasai opanya, dan kini dia seolah jatuh hati pada dua adik kecil yang sebentar lagi akan menggeser tahtanya.


"Makanya kasih adek, Kak, dia begitu sebenarnya ngasih kode pengen punya adek lagi."


Suara siapa itu? Bima yang sejak tadi ketar-ketir kembali menghimpit tubuh Papa Mikhail. Jujur saja dia takut, akan tidak lucu andai Lengkara kembali menjambak rambutnya hingga akar.


Namun, sesaat kemudian dia menghela napas panjang kala mengetahui bahwa yang bicara adalah Ameera, saudara kembar sang istri. Lega sekali rasanya, Bima mengelus dada berkali-kali, dan hal itu tertangkap jelas oleh Zean yang dapat mengerti apa yang terjadi pada Bima saat ini.


"Kamu pikir istriku pabrik bayi? Tiga saja sudah cukup ... personilnya jangan banyak-banyak," jawab Zean kemudian, sama seperti Evan, pria itu tidak tega jika istrinya harus hamil berkali-kali.


"Banyak anak banyak rezeki, jadi tidak ada salahnya, Kak Sean aja otw empat itu ... malah kalau kembar lagi bisa jadi lima," celoteh Ameera yang kemudian membuat Zean mengerjap pelan.


"Gampang itu, Meera, kalau aku berubah pikiran tinggal eksekusi. Dari pada kau memikirkanku, lebih baik kau pikirkan hidupmu ... kapan bawa calon suami? Papa peyot nanti."

__ADS_1


Serangan maut yang selalu berhasil membuat Ameera bungkam. Dia mencebik dan segera berlalu menuju kamar Lengkara. Tujuan dia datang siang ini hanya untuk menemui saudaranya, bukan mencari perkara dengan Zean, apalagi membahas pasangan hidup.


"Aih dibilangin selalu begitu, coba sesekali papa bawa dia ke orang pintar, mana tahu auranya memang tertutup."


"Auramu yang tertutup, anak mana yang berani tidak sopan dan bilang papanya peyot secara terang-terangan?" Zean pikir dirinya sudah paling benar, ternyata sangat-sangat salah.


"I-iya tapi kan memang pey_ nanti maksudnya, Pa, bukan sekarang." Masih diam, dan Bima juga ikut-ikutan diam karena khawatir kena getahnya. Memang poisisi Zean sangat sulit jika tidak ada Sean di sisinya, sayang sekali sejak dua hari lalu Sean dan Zalina baru saja pulang ke Bandung dan belum datang lagi.


Habis sudah harga diri Zean di hadapan Bima. Besar kemungkinan adik iparnya itu tengah berseru yes lantaran terlalu bahagia saat ini. Hingga, Zean seolah menemukan pelita di tengah gulita setelah mendengar pintu diketuk dan memperlihatkan mantan asisten sekaligus sahabat lamanya di depan sana.


"Selamat Siang, Papa."


"Widih, Yudha!! Aku merindukanmu ... apa kabar?"


Kehadiran Papa Atma dan Yudha serta kedua adiknya seolah menyelamatkan nyawa Zean. Pria itu menyambut kedatangan mereka begitu hangat, bahkan Yudha yang mendapat pelukan itu dibuat geli.


"Lebay, kemarin-kemarin aku datang kau tidak begini!" celetuk Yudha yang membuat Zean panik seketika.


"Dasar tidak dapat diajak bekerja sama."


.


.


Sebuah kebisingan yang sangat Bima suka, dari kejauhan dia menatap pemandangan itu. Papa Atma dan Bu Seruni terlihat begitu dekat, seolah tidak mau kalah dengan Papa Mikhail dan Mama Zia yang kini juga mengendong salah-satu putra Bima.


Lebih lucunya lagi, mereka melakukan sesi foto bersama dan melupakan pemilik bayinya. Yudha berperan sebagai fotografer handal yang melakukan segala upaya demi mengabadikan kenangan indah mereka.


"Hahaha dasar, kenapa tidak rujuk saja sih, Bu," gumam Bima tekekeh pelan, jujur dia masih berharap meski jawaban sang ibu sudah benar-benar mantap dan dia menolak rujuk.


Kendati demikian, Bima sudah sangat bahagia. Sama sekali tidak pernah Bima bayangkan jika dia akan merasakan kebahagiaan semacam ini. Kebahagiaan yang tidak menyakiti Yudha tentu saja, dia hendak meneteskan air mata, tapi seseorang yang tiba-tiba memeluknya membuat Bima mengurungkan niat.


"Mas kenapa? Sedih ya?" tanya Lengkara begitu lembut, sejak tadi dia perhatikan Bima memang seperti hendak menangis menatap kehangatan keluarganya di depan sana.


"Bukan, Sayang, mas sangat-sangat bahagia, sampai ingin menangis rasanya," ucap Bima menghela napas pelan, matanya kembali tertuju pada Yudha yang tengah tergelak akibat Papa Mikhail protes karena terlihat gendut di kamera.


"Teruslah bahagia, sampai akhir bersamaku dan anak-anak." Sama seperti Bima, Lengkara juga merasakan hal yang sama.


"Hm, sampai akhir."


"Aku mencintaimu, sangat cinta, Mas, terima kasih sudah kembali, Dudaku," tutur Lengkara sebegitu pelannya, dia menatap lekat mata indah Bima.

__ADS_1


"Mas lebih dari sekadar cinta, jandaku." Perlahan, pria itu mengikis jarak sembari berucap amat lembut, tidak dapat dia utarakan dengan kata memang dia sangat-sangat cinta.


Bugh


"Aaawwww!! Sakit!!"


Adegan romantis itu gagal total kala kening keduanya bersatu dan bukan karena Bima melakukannya. Melainkan pemilik seringai tipis yang memang selalu iri dengan kemesraan orang lain, padahal dia juga begitu.


"Banyak anak di bawah umur!! Kalian mau ciuman di kamar sana, dasar stres!!"


"Kak Zean rese!! Kemaren Kakak juga ciuman di kolam sama kak Syila kata Ameera!!" teriak Lengkara melemparkan bantal tepat di wajahnya.


"Ah itu? Khilaf, pengecualian kalau itu mah."


Lain halnya dengan Lengkara, Bima justru tertawa lepas dengan kelakuan kakak iparnya. Sejak awal memang sudah terlihat jelas bagaimana sikapnya, dan ucapan Lengkara tidak membuat Bima terkejut karena dahulu sempat memergoki Zean di kantor, dan itu lebih parah dari ciuman.


"Kamu kenapa sih, Mas? Dia merusak momen loh," kesal Lengkara ingin sekali menyiram ubun-ubun Zean dengan air mendidih.


"Hahaha, kita teruskan di kamar saja ... selagi pengasuhnya pada akur," ucap Bima mengedipkan mata, pertama kali dia menggoda setelah sekian lama.


"Asik!! Beneran ya?"


"Hm, hanya cium!! Tidak lebih," tekan Bima sebelum kemudian terus melangkah.


"Yah, kok gitu?"


"Cium atau tidak sama sekali."


"Yaudah iya!! Cium," jawab Lengkara mencebikkan bibir dan kembali membuat Bima tertawa sumbang.


Bima susah payah menjaga jarak demi sang istri, tapi Lengkara dengan sejuta pesona seolah begitu khawatir dia tersiksa. Hal itu justru semakin membuat Bima tidak tega jika hanya berpikir tentang kepuasan batinnya. "Kamu sangat berharga ... tidak ternilai dan tidak dapat ditukar dengan apapun, sekalipun itu dunia dan isinya. Jadi mana mungkin aku tega, Ra."


.


.


- Tamat -


Terima kasih dua bulannya bersama Bima dan Lengkara❤ Sebelum berpisah, silahkan ramaikan komentar seramai-ramainya. Setelah itu, mohon untuk yang bersedia untuk hijrah ke kisah Yudha yang nggak kalah manisnya.


Hayuk, samperin di sini ya : Istri Buta Tuan Muda

__ADS_1



__ADS_2