
Sama halnya seperti Bima, Yudha juga sedikit pembangkang meski caranya sedikit lebih halus. Beberapa saat setelah kepergian Bima, dia mendengar dengan jelas Papa Atma meminta orang-orangnya mendatangi kediaman Bima untuk merebut sertifikat rumah.
Bukan hanya sekadar sertifikat rumah Bima yang dia pikirkan, tapi keselamatan ibu dan juga saudaranya. Setelah berhasil membuat papanya percaya, Yudha bergegas mandatangi kediaman lamanya.
Namun, dia memang terlalu lambat. Dia tidak lagi melihat pengawal sang papa merajalela di sana, yang ada hanya dua insan yang bertukar saliva dan saling mengutarakan cinta lewat pagutan mersa.
Decapannya bahkan terdengar, Yudha sontak berbalik lantaran tidak kuasa untuk menatapnya lebih lama lagi. Pria itu menghela napas panjang, panggilan dari Bima tidak dia hiraukan untuk sementara waktu.
"Kau sudah lama, Yudha?" tanya Bima tampak gugup dan mengusap wajahnya beberapa kali.
Seketika pertemuan mereka tampak canggung. Bagaimana tidak? Mereka mencintai wanita yang sama, dan tidak munafik Yudha pernah melakukan hal yang sama seperti Bima meski tidak sepanas itu.
"Belum," jawab Yudha menggaruk lehernya yang sama sekali tidak gatal, dia benar-benar bingung hendak mengalihkan perhatian dengan cara apa.
Bima hanya mencium istrinya, bukan hal terlarang dan sama sekali tidak memalukan. Namun, kini dia justru merasa gugup seolah tertangkap basah tengah mencuri sesuatu yang bukan haknya. Dia menoleh dan menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat, agaknya yang malu bukan hanya dia, tapi Lengkara juga.
"Ibu mana?"
Yudha mengerti saudaranya ini gugup luar biasa, untuk itu dia yang mengalah dan mencoba bersikap biasa saja. Kembali pada tujuan awal, Yudha datang hanya karena khawatir tentang mereka, bukan yang lain.
"Di kamar, jangan diganggu ... ibu tidur."
"Apa mereka kasar, Bima? Katakan lebam ini dari merek_"
"Aarrrghh!! Jangan disentuh gila, sakit."
__ADS_1
Sudah tahu lebam, jelas saja sakit. Sialannya, Yudha seolah sengaja menyentuh bagian sudut mata Bima yang menjadi sasaran cincin salah-satu pengawal papanya. Istrinya saja pelan dan khawatir Bima merasakan sakit, Yudha justru sebaliknya.
"Apa mereka bersikap kasar juga pada ibu, Bima?" selidik Yudha kemudian, jika benar ibunya mengalami hal yang sama maka tentu saja dia tidak akan tinggal diam.
"Tidak sampai, jika benar-benar terjadi mungkin Jeremi sudah kubunuh, Yudha."
Bima berlalu menuju sofa yang kemudian diikuti Yudha. Pria itu menatap sekeliling dan memastikan Lengkara tidak sedang mengintai mereka dari kejauhan.
Sama-sama bingung, melihat Bima yang begini jelas saja Yudha kacau juga. Bukan seperti ini cita-citanya, dia masih berharap hubungan mereka membaik, kembali menghangat dan saling melengkapi.
Namun, hal semacam itu agaknya memang hanya akan menjadi angan semata. Jika sudah begini, Yudha hanya bisa menghela napas panjang. Dia menyayangi Bima, papa dan juga ibunya setulus itu.
Dia tidak akan menanyakan banyak hal yang sekiranya semakin membuat Bima sakit kepala. Untuk itu, tanpa banyak bicara dia mengeluarkan kartu yang dari dompetnya. Seketika Bima mengerutkan dahi dan tersadar dirinya semenderita itu.
"Kau sedang mengasihiku, Yudha? tanya Bima tersenyum kecut, sungguh miris nasibnya saat ini.
"Tidak per_"
"Perlu, Bim ... aku tahu keluarga Lengkara kaya, aku juga tahu papa Mikhail baik dan menerima bagaimanapun keadaanmu. Tapi, sebagai laki-laki apa kau bisa berada di posisi itu? Aku rasa tidak, Bima."
Bima bergeming, dia menatap sendu mata hitam Yudha yang begitu tulus mengasihinya. Yudha pernah berada di posisi merasa tidak pantas untuk Lengkara, hal itulah yang membuat dia merasa tidak yakin. Untuk itu, dia tidak ingin Bima juga merasakan hal yang sama, terlebih saat ini statusnya sudah berbeda.
"Untuk sementara gunakan ini, uang di dalamnya tidak berasal dari keringat papa dan aku mendapatkannya sejak menjadi asisten Zean ... beberapa saham atas namaku juga tidak berasal dari uang papa, kau masih bisa hidup sebagaimana mestinya."
Nestapa sekali hidup Bima, dan Yudha seolah hadir bak pelita di tengah gulita dunianya. Pria itu meyakinkan jika Bima butuh, cepat atau lambat pasti.
__ADS_1
"Jangan menumpang di rumah mertuamu andai nanti pulang ke Jakarta ... tempati saja rumahku, sudah lunas sejak lama jadi jangan khawatir." Terdengar sebagai solusi paling baik, tapi Bima mengerutkan dahi pasca mendengar ucapannya.
"Kau gila? Bagaimana bisa aku membawa Lengkara tinggal di sana, Yud?" tanya Bima yang mendadak khawatir tentang istrinya andai menerima uluran tangan dari Yudha.
"Kau bisa jual dan beli rumah yang lain karena aku juga tidak akan pernah menempatinya, Bim." Sama seperti Lengkara, dia juga tidak sekuat itu untuk menghuni rumah yang dahulu dia usahakan untuk mereka tinggali setelah menikah.
"Yakin?"
"Hm, yakin ... lakukan sesukamu, gunakan uang itu sebaik mungkin dan bangkitlah sebagai Bima tanpa uluran tangan papa seperti yang kau inginkan."
"Iya, akan aku lakukan ... hatiku benar-benar sakit, Yudha," ucap Bima menatap nanar tanpa arah.
"Aku tahu, tapi sebelum itu boleh aku mengatakan sesuatu padamu?"
"Apa? Kau hitung semua ini jadi hutang?" tanya Bima dengan polosnya hingga Yudha tertawa kecil, sudah sedewasa ini tapi Yudha masih tetap memperlakukannya seperti Raja dan juga Arjuna.
"Bukan begitu."
"Lalu apa? Katakan segera ... istriku menunggu di kamar," desak Bima seolah sengaja membuat kepala Yudha berasap.
"Dengarkan aku baik-baik, Bima."
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -