
"Di sini boleh ya?"
Mata itu menatap Lengkara penuh damba, wajah Bima yang bersemu sudah sangat terbaca dan Lengkara tentu saja paham apa maksud sang suami. "Boleh kok, tadi sudah izin sama mas Yudha katanya boleh berenang di sini asal jangan sampai malam," jawab Lengkara kemudian melepaskan diri dari pelukan Bima dan melanjutkan aktivitasnya dengan senyum tertahan.
"Ayo, Mas berenang tu gerak ... kata papa biar otot kita kuat," pekiknya dari kejauhan dan kini bersandari di dinding kolam.
Raut wajah Bima yang berubah drastis terlihat begitu lucu di matanya. Lengkara memang paham, tapi bukan berarti dia kehilangan akan sehat dan memenuhi keinginan Bima begitu saja.
Selain karena bukan di rumah, Lengkara juga risih lantaran belum pernah bercinta seliar itu. Yang benar saja, bisa-bisa badai karena alam mengutuk mereka, pikir Lengkara.
"Aku tidak bisa berenang."
Sejak tadi Bima masih terdiam di posisinya, berdiri bak gapura kecamatan dengan tatapan datar yang tertuju pada Lengkara. Malas sekali rasanya, untuk bergerak saja Bima sudah enggan hingga dia hanya menanti sang istri untuk menghampirinya.
"Halah bohong, waktu itu bisa ... Mas pura-pura biar aku samperin kesana?" tuduh Lengkara yang ternyata tepat sasaran hingga pria itu mencebik seketika.
"Itu dulu, sekarang tidak lagi."
Jawaban Bima jelas menunjukkan jika dirinya tengah cari perhatian. Sebuah cara yang sangat klise dan tidak akan membuat Lengkara kalah. Bukan karena tidak sayang suami, tapi Lengkara menjaga jarak demi keselamatan diri.
Bukan tidak mungkin Bima nekat dan membuatnya terbuai siang ini. Sejak dahulu Lengkara ketahui jika sang suami kerap melakukan hal tak terduga yang berakhir membuatnya menganga.
Jika keadaannya berbeda mungkin Lengkara tidak akan sepanik ini. Hanya saja masalahnya sekarang berbeda dan mereka tidak sedang di kediaman pribadi. Berbagai cara Lengkara lakukan agar tidak terjebak perangkap sang suami, bahkan dia seolah sengaja menjauh kala Bima mendekat hingga pria itu memukul air sebagai bentuk pelampiasannya.
"Mas Bima aku di sini," teriak Lengkara secepat itu sudah berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain hingga Bima mulai lelah.
"Dia keturunan ikan atau bagaimana?" gumam Bima lesu lantaran tidak ada lagi harapan bisa menjerat Lengkara dalam dekapannya.
"Kak Bima I'm coming ...."
Belum selesai tentang Lengkara, kini Bima kembali dibuat gila dengan kehadiran Arjuna yang tiba-tiba terjun ke kolam tanpa permisi. "Dasar pengganggu!!" umpat Bima dan hanya dijawab oleh riak air yang kian menjadi akibat ulah kedua duyung itu.
"Cih, bisa-bisanya dia juga punya ... Arjuna!! Singkirkan ekormu ini!!" kesal Bima karena memang sang adik seolah sengaja mengibaskan ekornya ke arah Bima.
__ADS_1
.
.
"Cocoknya sama gemini, tapi sama capricorn cocok juga ... hm jadi bingung pilih yang man_"
"Ini lagi satu, kau sedang apa?!" Entah sejak kapan Yudha berada di belakangnya, samar terdengar dia tengah mencocokan zodiak entah apa gunanya Bima tidak tahu juga.
"Hah? Cocoklogi zodiak," jawabnya santai, padahal kini Bima tengah memikirkan kata-kata untuk mengembalikan umpatan Yudha padanya beberapa waktu lalu.
"Untuk apa memangnya?" tanya Bima kini naik karena posisinya sudah tergantikan oleh Arjuna dan tidak lagi punya kesempatan untuk menggoda istrinya.
"Ini penting buat jaga-jaga, Bim. Kau tahu? Kemarin aku kencan sama Scorpio dan dia punya pacar, hampir saja aku dihajar," papar Yudha serius sekali, sebuah penjelasan yang berhasil membuat Bima tertawa sumbang.
"Kau kenapa? Aku serius, tapi kau tenang saja aku berada jauh di atasnya jadi mana berani dia memukulku," tegas Yudha seakan manusia paling berpengaruh saja.
"Ah tidak, oh iya ngomong-ngomong kau kuliah sampai S2 di dua kampus yang berbeda benar, 'kan?"
"Haha tentu saja, maka dari itu pacarnya tidak berani karena dulu adik tingkatku." Belum sadar jika tengah diejek secara perlahan, Yudha justru lanjut membanggakan diri.
"Kenapa memangnya? Kau tidak tahu saja bagaimana prestasiku di sana, lulusan terbaik universitas dengan IPK 3,97 ... tidak hanya di satu kampus, tapi dua-duanya."
"Woah ... menakjubkan, sayang sekali pintar-pintar percaya ramalan zodiak. Ada baiknya kita ke Bandung sama-sama, aku yakin yang perlu diruqyah adalah kau, bukan aku." Bima mengedipkan mata hingga membuat kepala Yudua berasap seketika.
"Kau mengejekku? Hah?!"
"Tidak, mana mungkin aku mengejekmu," jawab Bima kembali terjun ke dalam kolam demi menghindari kemarahan Yudha.
"Kembali kau, Bima."
.
.
__ADS_1
Cukup lama ketiganya bermain air, Bima yang kesal akibat keinginannya tidak dituruti, justru betah dan paling lama berada di kolam lantaran terlampau bahagia. Masa kecil kurang bahagia ternyata memang ada, Lengkara menangkap hal itu dari sang suami.
Terlalu lama di sana, bibir Bima bahkan membiru dann jemarinya sampai keriput. Beruntung saja tubuh Bima tidak panas atau semacanya, jika tidak sudah jelas Lengkara akan panik tentu saja.
"Sayang nanti hilang sendiri, 'kan?"
"Iya, jangan dilihat kalau takut," ucap Lengkara meraih jemari sang suami karena sebelumnya Bima mengatakan jika dirinya takut.
"Jelek, Ra, jadi persis kaki bebek," keluh Bima menggigit bibir, sama sekali tidak dia duga jika akan sekeriput itu.
"Sebentar lagi normal, Mas."
Bima mengangguk mengerti, segelas teh hangat yang menemani membuat tubuhnya sedikit lebih hangat. Tidak suka berenang, sekalinya berenang lama bahkan sampai lupa jika hari sudah berganti.
"Yudha!!"
"Iyaa, kenapa?" tanya Yudha menghentikan langkah, dia hendak mengambil minuman di lemari es dan kebetulan Bima tengah menikmati teh hangat di sana.
"Raja kemana?"
"Ada, baru pulang," jawab Yudha singkat dan Bima mengangguk pelan.
"Lalu papa mana?"
"Papa? Dari siang aku tidak lihat papa ... mungkin ke rumah om Andra atau kemana tidak tahulah, namanya duda terserah dia kenapa kau jadi sewot, Bima?"
"Astaga? Aku cuma bertanya!! Salahku dimana?"
"Iya juga ya, tapi serius aku tidak tahu papa dimana, Bim," jawab Yudha kali ini sedikit serius seraya menatap mata bingung Bima.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -