Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 101 - Tertampar


__ADS_3

Meminta maaf pada Bima sudah dia lakukan berkali-kali, dan jawabannya masih sama. Bima tidak butuh kata maaf, bahkan dengan jelas mengatakan jika dia geli.


Papa Atma hanya terpaku menatap Bu Seruni yang kini berlalu. Lidah pria itu itu seakan kelu, dia ingin menghentikan langkah Bu Seruni, tapi terhenti kala dia menyadari putranya sudah berdiri tidak jauh dari mereka.


Entah sejak kapan, tapi tatapan tak terbaca yang dia layangkan cukup membuat Papa Atma memerah, mungkin malu karena apa yang terlontar dari mulutnya berbeda. Tiga tahun Yudha bersamanya, beberapa kali Papa Atma menunjukkan kebencian pada Bu Seruni.


Jangankan untuk bertemu, bahkan kala Yudha dan Bima menyebut kata ibu saja dia marah. Matilah dia, tiga orang yang tidak dapat dipisahkan darinya itu seolah menyerang di waktu yang sama.


Mantan istri dan kedua putranya seolah membuat Papa Atma terpojok, tepatnya terpojok karena kesalahan yang dia ciptakan sendiri. Kendati demikian, berbeda dengan Bima, Yudha masih bicara baik-baik padanya.


"Sudah selesai, Pa?" tanya Yudha datar, agaknya kecewa dan mungkin juga turut membencinya.


"Su-sudah, apa kau harus pulang sekarang?" tanya Papa Atma bahkan gugup, sikap begini bukan dirinya sama sekali.


Yudha benar-benar melihat perubahan besar terjadi pada sang papa. Tidak biasanya pria gagah dan memiliki ketegasan luar biasa ini bisa lemah juga. Entah karena Bima atau karena ibunya, tapi yang jelas dia seolah kehilangan jati diri.


"Mungkin Papa yang harus pulang cepat, bukankah nanti papa harus pergi bersama keluarga papa?" tanya Yudha seolah tidak sedang bicara pada papanya seperti biasa, sangat berbeda.


"Yudha?"


Sesuai dugaan, Yudha ternyata mengutarakan kekecewaan juga. Dia tersenyum tipis sebelum kemudian duduk di sisi papanya. Pria itu mengusap wajah kasar seraya melonggarkan dasi, apa yang tadi Bima ucapkan semakin mempertegas lukanya.


"Kau marah juga, Yudha?"


"Tidak, hanya saja aku merasa bersalah pada Bima," ucapnya kemudian menghela napas panjang.

__ADS_1


"Kenapa justru kau yang merasa bersalah?"


"Salah saja, aku terus meminta agar hatinya terbuka tanpa aku bertanya lebih dalam apa sebabnya dan sesakit apa Bima ... jika sudah begini, aku tidak bisa memintanya untuk kembali pada papa seperti kemarin." Yudha berucap pelan, tatapannya tampak kosong dengan tangan yang mendadak dingin.


"Iya, papa tidak akan memintamu lagi." Kali pertama seorang Atmadjaya mengalah dan tidak memaksakan kehendak.


Cukup lama kedua pria itu berdiam di sana, Yudha seolah bayangan dirinya dalam bentuk lain. Tidak ingin terlalu larut dalam kekacauan, Yudha mengajak papanya berlalu pergi. Mengingat, tadi malam pria itu sudah mengukir janji pada keluarga barunya. Yudha dan Bima adalah orang yang sama-sama sakit, tapi tidak ingin kedua adiknya merasakan hal yang sama.


"Apa Papa tidak mau pamit dulu?"


"Tidak, Yudha ... papa datang hanya membuat Bima semakin marah," tolak Papa Atma pelan, antara benci dan tak tega, Yudha memalingkan wajah lantaran tidak kuasa menatap raut wajahnya.


"Baiklah, jika pergi sa_"


Tepat di waktu Yudha hendak berlalu pergi, ucapannya terhenti ketika suara khas yang begitu familiar terdengar dari jarak beberapa meter di belakangnya.


Dia berbalik, berusaha mencari sosok itu. Hingga, beberapa saat kemudian pria yang dia kenal lebih lama dari papanya itu menghampiri, dia mendekat seakan tidak ada masalah yang terjadi di masa lalu. Padahal, Yudha telah menorehkan luka begitu dalam di hati putrinya.


"Papa ...."


Sedikit ragu sebenarnya, dia merasa tidak pantas lagi memanggil pria itu dengan sebutan papa. Sama sekali tidak ada dendam di mata pria itu, dia menyapa Yudha begitu baik layaknya seseorang yang tidak bertemu cukup lama.


"Lama sekali papa tidak melihatmu, bagaimana keadaanmu? Sehat?"


"Sehat, Pa."

__ADS_1


"Syukurlah, papa senang melihatmu ... kakimu baik-baik saja, 'kan?" tanya Papa Mikhail bahkan memastikan bahwa lutut Yudha masih berada di tempat yang seharusnya.


Yudha terharu, dia ingin menangis detik itu juga. Ketakutan Yudha bahwa Papa Mikhail akan membencinya sama sekali tidak terbukti. Entah karena sudah terganti sosok Bima, atau memang karena tulus dari hati.


"Papa dari mana? Tadi di kamar kita tidak bertemu." Yudha mengalihkan pembicaraan.


"Urus administrasi Bima, kata Khayla dia sudah boleh pulang ... tapi mampir beli bubur dulu," jawabnya seketika membuat Yudha tersenyum tipis, pria ini masih sama dan hal inilah yang membuatnya dirindukan banyak orang.


Perlakuan manis itu tertangkap jelas di mata Papa Atma. Dia tertampar? Jelas saja, dia malu bahkan ingin menghilang detik ini juga. Sebagai papa, dia bahkan tidak pernah melakukan hal yang dilakukan oleh pria itu.


Pria yang ternyata papa kandung Lengkara, besannya. Papa Atma bahkan gemetar kala Papa Mikhail mengulurkan tangan. Pria yang sedikit lebih tua darinya itu masih begitu berwibawa, dia terlihat penyayang dan ramahnya luar biasa.


"Akhirnya kita bisa bertemu di sini, Pak Atma ... saya hanya mendengar tentang Anda dari Bima, apa tidak sebaiknya mampir ke rumah dulu? Biar sekalian," tutur Papa Mikhail benar-benar menepis kemarahan pada pria itu, sekalipun tahu bagaiamana sikap dan caranya memperlakukan Bima, dia tidak menunjukkan keangkuhan, tapi justru sebaliknya.


"Bagaimana, Pak Atma? Saya rasa kita perlu untuk saling mengenal ... mengingat Bima sudah menjadi anak saya juga, maka artinya kita adalah keluarga," ucap Papa Mikhail kemudian, sontak Atma terlihat bingung dan berusaha menimbang keputusan.


"Baik, Pak kebetulan saya masih banyak waktu." Dia menerima tawaran Papa Mikhail, dengan jelas dia mengatakan banyak waktu, sementara Yudha yang sadar papanya berbohong hanya tersenyum simpul.


"Papa lupa janjinya? Woah ... apa aku akan kembali menyaksikan pertikaian lagi nanti di rumah?" batin Yudha seraya mengikuti langkah kedua pria yang terlihat begitu dekat.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2