Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 56 - Cari Istri Itu Sulit


__ADS_3

Jika memberi pakan ayam adalah permulaan, maka yang sesungguhnya jelas lebih menantang. Bima menghela napas panjang, setelah kemarin hanya melihat Papa Mikhail dengan cangkul di tangannya, kini dia yang berada di posisi itu setelah diminta sarapan pagi.


Bagaimana perasaannya, jelas menyenangkan. Ini adalah sesuatu yang baru, dan Bima menyukainya. Jika hanya diminta bertani jelas saja bukan hal sulit. Hanya diminta menggemburkan tanah, ya tinggal cangkul-cangkul saja, pikir Bima.


"Yang benar, Bima ... yang akan kita tanam adalah kacang panjang, kau pernah lihat petani budidaya kacang tidak?"


"Tidak pernah, Pa."


"Hadeuh ilmu itu luas, Bima, jangan hanya itu-itu saja ... kau lihat, perhatikan baik-baik," tegas Papa Mikhail mengambil alih cangkul yang kini Bima pegang.


Sama sekali Bima tidak tersinggung dengan ucapan Papa Mikhail. Terlebih lagi, pria itu bukan orang sembarangan. Mungkin jika dilihat bagaimana dia sekarang, dan orang tidak tahu bagaimana kekuasaannya, terutama sewaktu muda jelas akan beranggapan berbeda.


Namun, di mata Bima pria itu memang benar-benar hebat. Tidak salah jika Lengkara begitu mempertimbangkan kebahagiaan papanya lebih dahulu dibandingkan dia sendiri.


Lahan seluas 100 meter persegi itu akan menjadi tempatnya membudidayakan kacang panjang. Bukan hal baru, memang halaman rumahnya begitu luas dan digunakan sebagai lahan perkebunan.


Alasannya sederhana, pria itu tidak bisa diam sementara untuk kembali ke perusahaan bukan lagi kapasitasnya. Selain itu, Papa Mikhail lebih percaya jika tanamannya aman dari segala zat berbahaya hingga aman dikonsumsi anak hingga cucu-cucunya.


"Kau sudah paham, Bima?"


"Paham, Pa."


"Jangan paham-paham saja, sampai gagal aku tidak akan memberikan izin kau kembali pada putriku," tegas Papa Mikhail yang seketika membuat Bima meneguk salivanya susah payah.

__ADS_1


"Iya, Pa mengerti."


Beberapa menit dibekali ilmu secara langsung oleh pakarnya, mana mungkin Bima tidak bisa. Dia adalah seseorang yang begitu cepat dalam belajar, tidak peduli sesulit apa.


Setelah sempat gagal, kali ini Bima yakin tidak akan melakukan kesalahan lagi. Dia mengikuti saran Papa Mikhail, semua terarah dan dia melakukannya dengan mudah.


Beberapa menit awal semua berjalan lancar. Namun, di tengah semangatnya yang membara hewan menjijikkan itu mulai menampakkan diri satu persatu dan membuat Bima meremang.


Tidak hanya cacing, tapi juga beberapa jenis ulat dan hewan kecil lainnya. Bima tidak berteriak, sekalipun dia ingin. Awalnya dia masih berusaha mengabaikan semua yang mengusik pandangannya, akan tetapi karena sudah terlalu banyak Bima melampiaskan ketakutannya dengan cara yang berbeda.


"Kalian ingin berperang melawanku? Cih baiklah kita lihat siapa yang lebih kuat."


Sama sekali tidak Bima duga jika dia yang melampiaskan amarah kepada begitu banyaknya hewan kecil itu membuat pandangan Papa Mikhail jadi berbeda. Dari kejauhan dia memantau kegiatan Bima, mata mereka yang rabun agaknya tidak bisa membedakan mana orang emosi dan mana yang semangat dalam bekerja.


"Benar sekali ... baru dia yang kuat mencangkul selama itu, Sean saja malas."


Memang semua anak-anaknya malas, Bima bukan orang pertama yang diminta melakukan pekerjaan semacam itu, tapi yang lain juga. Faktanya, tidak ada yang bersedia atau berjuang sekeras Bima. Bahkan, Evan dan Sean yang katanya paling manly itu enggan dengan berbagai alasan.


"Dia sungguh-sungguh sepertinya ... apa hatimu tidak terbuka, Tuan?"


"Dia sangat keras kepala, sama seperti Papa yang meminta Mama pada mending Opa Mahatma dahulu ... Lengkara butuh sosok seperti dia," ungkapnya kemudian menghela napas panjang, melihat keteguhan hati Bima, dia kembali mengingat mendiang papanya.


Jika Bima berpikir semua ucapannya kemarin tidak dihiraukan jelas saja besar. Usai Bima mendatanginya, pria itu menghubunginya sang putri demi mempertanyakan isi hatinya.

__ADS_1


Seperti kata Zia, tidak sepantasnya dia egois, terlebih lagi untuk kali ini Bima meminta Lengkara dengan cara baik-baik, bukan memaksa seperti yang dia lakukan di masa lalu. Kendati demikian, bukan berarti lulus dengan mudah. Evan saja yang kala itu sudah berstatus suami untuk Khayla masih dia uji, jelas saja Bima juga.


Merasa Bima bisa dipercaya, Papa Mikhail berlalu dan ingin melihat sejauh mana andai dibiarkan mandiri. Semua sudah dia ajarkan, bahkan dia memberikan ancaman yang tidak mungkin bisa membuat Bima berkutik.


.


.


Jauh dari jangkauannya, si pekerja keras yang Mikhail maksudkan kini tengah berjuang melawan rasa takutnya. Demi Lengkara, Bima rela sakit pinggang dan menyelesaikan pekerjaan di tanah seluas ini.


Dia menangis? Iya, sedikit. Bagaimana tidak, seorang Bima yang terbiasa hidup bersih dan begitu terjaga diminta terjun ke lapangan. Berinteraksi dengan cacing dan hewan menjijikan lainnya, tidak ada yang bisa dia mintai pertolongan. Merengek pada siapa dia? Pak Chan tidak ada di sini.


Dengan keringat dan air mata yang menyatu di sana, Bima tetap memaksakan diri. Tidak terhitung berapa hewan yang berakhir di tangannya hari ini, Bima terpaksa karena kepala pria itu bahkan sakit melihat cacing yang menggeliat di sana.


Cahaya matahari mulai menyengat dan tubuhnya mulai terasa panas. Sekeras itu Bima bekerja hingga tidak menyadari jika hari sudah menjelang siang. Keringat membasah di kening dan lehernya, Bima merasakan tenggorokannya seakan kering.


"Apa sesulit ini cari istri?" Bima bukan mengeluh, hanya bertanya saja.


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2