
Bima asal tarik sebenarnya, dia tidak punya tujuan. Dia tahu pergaulan di negara ini memang begitu bebas, sangat bebas. Andai tidak berhubungan langsung dengan Lengkara, dia juga tidak akan peduli. Namun, saat ini keadaannya berbeda dan jelas dia resah.
Kalau kata Lengkara, dia kuno dan terlalu berlebihan. Terserah, dianggap pikiran terlalu picik atau sebagainya juga Bima tidak peduli. Andai orangtua Lengkara tahu masalah ini, tentu akan bersikap sama. Terlebih lagi, mengingat betapa besar kasih sayang papa Mikhail pada putrinya itu.
"Kita mau kemana? Kalau tidak punya tujuan pulang saja ... Rona dan Gery biasanya sudah selesai, dia tidak terlalu kuat di ranjang."
Lihat ucapannya, bagaimana mata Bima tidak membulat dengan sempurna begitu mendengar ucapan Lengkara. Seluas itu yang dia ketahui tentang Gery, sontak Bima menepikan mobil.
"Tahu dari mana?"
"Mereka sahabatku, jadi aku tahu ... Rona sangat terbuka, tidak ada yang dia rahasiakan dariku."
"Bagus sekali!! Dimana kamu menemukan teman semacam itu? Hal-hal yang bersifat privasi sampai ke telinga orang lain," kesal Bima sebelum kemudian kembali melaju, agaknya menjatuhkan talak kala itu akan menjadi penyesalan seumur hidup bagi Bima.
"Setidaknya mereka tidak pernah berbohong ... tidak berusaha menutupi apapun walau mungkin tidak seharusnya didengar. Untuk orang yang dibohongi mati-matian sepertiku, aku sangat bersyukur bisa mengenal mereka."
Bak dihantam bongkahan batu besar, dada Bima seakan sesak dan sulit untuk bernapas. Lengkara tidak terdengar marah, sejak tadi dia sangat santai menghadapi Bima. Namun, sekalinya bicara berhasil membuat Bima bungkam dan lidahnya kelu untuk sekadar menjawab.
Cukup lama Bima terdiam, hingga suara yang berasal dari perut Lengkara sejenak menjadi alasan untuk Bima menunda kepulangannya. Dia tidak memiliki kemampuan untuk merayu atau membuat wanita betah, sejak dahulu dia memang paling lemah dalam mencari topik pembicaraan.
Tanpa bicara, pria itu mencari restaurant terdekat. Dia tidak bertanya Lengkara ingin apa, sesuai kehendaknya saja kemana. Sudah jelas Bima yang mengambil tindakan semacam itu menjadi umpatan Lengkara. Dia tidak berubah, tidak ada manis-manisnya sebagai pria.
"Cih, dia benar-benar tidak pernah bertanya ... Kara mau makan apa hari ini?"
__ADS_1
Lengkara mencebik dan mengutuk Bima sembari mengikutinya dari belakang. Dia tidak menolak, memang fakta dia lapar dan untuk kali ini dia tidak ingin jual mahal. Lagi pula, jual mahal pada seorang Bima sama halnya dengan bunuh diri, dia tidak akan membujuk dan berakhir menderita sendiri.
"Mau makan apa?"
Momen langka, dia bertanya dan Lengkara jelas tidak akan menjawab terserah seperti kaum wanita pada umumnya. Khawatir tidak selera dan Bima belum tentu bersedia menjadi penampungan makanannya.
Dia memesan sesuai dengan maunya, tidak tanggung-tanggung, tapi sengaja memesan empat makanan yang berbeda. Sudah tentu untuk dia sendiri, mengingat sejak tadi malam hingga sore belum makan, Bima tidak memberinya sarapan atau apapun yang mengganjal perutnya.
Bima hanya melihat, agaknya memang sengaja menemani Lengkara. Selama dia menikmati makanannya, selama itu pula Bima tidak berhenti menatap ke arahnya. Tanpa bicara, hanya memandang sembari tersenyum tipis di sana.
"Apa ada yang aneh di wajahku?" tanya Lengkara tanpa menatap ke arahnya, masih terus menikmati french fries yang terasa hambar di lidahnya sore ini.
"Tidak ada ... aku hanya tidak menyangka bisa menemukanmu, Ra."
"Aku mencarimu cukup lama ... aku mencoba bertanya pada Zean, tapi tidak menemukan petunjuk tentangmu sama sekali. Bahkan, Yudha juga tidak mampu, apa sedalam itu lukamu sampai menghilang dari kami berdua, Lengkara?"
"Aku tidak hilang, Mas, aku pamit waktu itu," jawab Lengkara kemudian, dia sudah pergi baik-baik waktu itu.
"Pamit saja, tapi tidak jelas kemana perginya."
Dia memang pamit, sengaja tidak memberitahukan kemana tujuan dan juga meminta pihak keluarga melindungi keberadaannya. Tidak hanya pada mereka, tapi juga teman dekat dan sahabat Lengkara, dia benar-benar tidak ingin diganggu dan prosesnya usai sebelum memulai.
"Kalau kukatakan jelas, nanti kamu berpikir sengaja agar dicari," ucap Lengkara santai sekali. Dugaannya benar sekali, andai tahu kemana tujuan Lengkara sudah pasti Bima akan mengejarnya.
__ADS_1
Kembali, pria itu menghela napas panjang usai mendengar penuturan Lengkara. Caranya bicara menunjukkan jika mantan istrinya sangat baik-baik saja, sudah jelas Bima bersyukur Lengkara berada di titik ini.
"Lengkara boleh mas bertanya sesuatu?"
"Tanya apa? Silahkan, kenapa harus izin dulu." Basa-basi yang terlalu basi menurut Lengkara, selama ini dia juga tidak pernah izin melakukan sesuatu, bahkan menarik paksa ke tempat ini juga tanpa izinnya.
"Kapan kamu kem_ astaga, sebentar," tutur Bima kala teleponnya berdering cukup keras, sungguh memalukan dan dia menyesali saran Yudha agar tidak lagi ada drama Bima mengabaikan pesan seseorang.
"Ngalah-ngalahin nada dering Papa, dia mulai tuli atau bagaimana?"
"Hallo, sudah kukatakan jangan hubungiku sekarang, apa tidak bisa pahami aku sedikit saja?"
Lengkara mengerjap beberapa kali, Bima bicara pelan, tapi ketika mendengar kalimat minta dipahami pikiran Lengkara justru tidak terarah. Sontak dia menghentikan makannya dan kini bersedekap dada dan tidak terima.
Jika memang sudah menjalin hubungan dengan wanita lain, untuk apa dia bersikap begini. Lengkara membatin seraya menatap nanar tanpa arah, pernah dibohongi mati-matian membuat hati Lengkara luar biasa sensitif.
"Ada, dia bersamaku sekarang ... apa kau ingin bicara dengannya, Yudha?"
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1