
Untuk beberapa hal, biasanya Bima mengalah. Namun, untuk yang kali ini dia berbeda dan sama sekali tidak mengizinkan Yudha untuk mengabaikan papanya. Bukan karena tidak ingin berada di sisi Yudha lebih lama, bukan pula karena dia cemburu lantaran Yudha adalah masa lalu istrinya.
Awalnya Yudha ragu, dia tidak begitu percaya dan sempat membantah ucapan Bima. Hingga, ketika tiba di rumah utama mata Yudha seakan terbuka dengan kehadiran papa Atma yang menunggu di teras padahal hari sudah malam.
Tidak biasanya dia begitu, terlebih lagi sebelum pergi Yudha sudah pamit baik-baik dan mengatakan jika dirinya ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Saat ini juga belum terlalu larut, Yudha biasa pulang malam dan papanya menunggu dengan tenang di dalam rumah, tidak di luar.
"Pa ... kenapa tunggu di luar?"
Meski hatinya berdegub tak karuan, tapi Yudha masih sempat bertanya baik-baik. Dia memerhatikan Atmadja yang beberapa kali melirik ke belakang, seolah bukan dia satu-satunya yang dinanti.
"Pa."
"Hm? Kau dari mana?"
Dia terlihat terkejut dan kembali fokus memandang ke arah Yudha. Bibirnya yang kini pucat, matanya terlihat sendu dan baju yang dia kenakan masih sama seperti tadi pagi.
"Ada pekerjaan sedikit, Pa, tapi sudah sel_"
"Masuklah, jangan terlalu lelah, Yudha, kau sering kali pulang malam entah apa yang kau kerjaan."
Jauh dari dugaan, kekhawatiran Bima sama sekali tidak terjadi. Tidak ada kemarahan, tidak juga kena getahnya atau caci maki yang dia takutkan. Pria itu seperti biasa, bersikap seolah tidak masalah dan sama sekali tidak marah.
Dia meminta Yudha untuk masuk lebih dahulu, sementara dirinya tetap bertahan di posisi yang sama seolah masih ada yang dia tunggu. Yudha berpikir jika itu Raja, tapi beberapa saat kemudian dugaannya salah lantaran mendengar suara Raja dan Arjuna di ruang keluarga.
Penasaran dengan papanya, Yudha memilih memantau dari kejauhan. Dia terlihat gelisah, beberapa kali melirik jam di pergelangan tangan kirinya, pria itu juga tampak memanggil salah-satu anak buahnya dan meluapkan amarah.
__ADS_1
Yudha tidak mendengar dengan jelas, tapi dari tempat dia berdiri saat ini terlihat jika pengawalnya meminta maaf berkali-kali usai mendapat pukulan di wajahnya. Hendak ikut campur, tapi Yudha urungkan kala mama tirinya justru menghampiri dari arah yang berbeda.
"Sedang apa kamu di sini?"
"Tidak, Ma," jawab Yudha membuang muka, dia memang tidak begitu lekat menatap wanita ini sejak dia masuk ke dalam keluarga papanya.
"Masuk sana," titah Gilsa singkat dan segera diikuti Yudha lantaran malas untuk berbicara banyak.
Kepergian Yudha tidak terlepas dari pandangan Gilsa, dia tersenyum tipis sebelum kemudian menghampiri sang suami. Sudah jelas suaminya itu meratapi kepergian putra malang yang sejak dahulu di sia-siakan, Bima.
"Mas ... masuk yuk," ajak Gilsa menggenggam lengan Atma, tapi secepat itu Atma menepis genggaman tangan sang istri.
"Nanti saja, aku belum mau."
Gilsa membuang napas kasar seraya menatap kesal Atma yang menepis tangannnya. Wanita itu mengepalkan tangan dengan dada yang kini bergemuruh, sejak tiga tahun lalu Atmadja berubah dan dia benar-benar tidak suka.
Tidak peduli dengan penolakan yang baru dia dapatkan, Gilsa kembali merayu Atma dan membuang jauh-jauh wajah kusutnya. Tentu saja hal itu tidak boleh terlihat oleh Atma, selama pria itu menjadi miliknya maka wajah cantiklah yang harus dia perlihatkan agar tidak berpindah ke lain hati, terlebih lagi kepada ibu kandung dari putra kebanggaan Atma.
"Bima ... kamu saja yang masuk, Gilsa," ucap Atma tak terbantahkan, dan hal itu kembali membuat amarah Gilsa meradang.
Sudah diperlakukan baik, masih saja menyebalkan. Padahal, dia memiliki dua putra yang lain, kenapa Atma benar-benar tidak bisa melepaskan mereka. Sungguh, hal itu sama sekali tidak bisa Gilsa terima.
"Aduh, Mas, untuk apa anak durhaka itu ditunggu? Dia tidak akan pulang. Kamu lihat sendiri bagaimana sikapnya, 'kan? Dia sudah berubah, Seruni pasti sudah menghasutnya," ucap Gilsa lembut, sama sekali tidak sesuai dengan makna dari setiap ucapan yang dia lontarkan.
"Bima tidak durhaka, Gilsa."
__ADS_1
Atma memijat pangkal hidungnya, sejak tadi kepala pria itu sudah pusing dan kini justru semakin pusing. Dia hanya butuh ketenangan, perlakuan pengawal yang sudah di luar batas dengan menyerang Bima membuat dia semakin merasa bersalah. Kini, Gilsa hadir dan semua yang dia ucapkan membuat kepala Atma seperti mau pecah.
"Lalu apa namanya kalau tidak durhaka? Dia bahkan tidak menghormati kamu lagi, menikah tanpa izin, dan menolak perjodohan tanpa etika ... lalu yang lebih miris lagi, hanya demi wanita asing dia sampai membentakmu, Mas."
"Jangan banyak bicara dulu, Gilsa."
"Aku hanya bicara fakta, jangan terlalu berlebihan padanya ... lagi pula putramu tidak hanya Bima, ada Raja dan Arjuna."
Hingga detik ini Gilsa bingung, kenapa sang suami masih menganggap Raja dan Arjuna seremeh itu, padahal mereka sudah pantas untuk terjun ke perusahaan menggantikan kedua kakaknya.
"Oh iya, Mas, Raja sudah dewasa ... aku rasa sudah pantas memimpin perusahaan."
"Astaga, di saat seperti ini kamu masih membahas hal itu?"
"Memangnya kenapa? Raja lebih berhak dibandingkan anak haram itu, Mas," ucapnya sedikit meninggi hingga membuat Atma mendelik tajam.
"Gilsa jaga bicaramu!! Mereka adalah putraku!!" sentak Atma tidak terima kala Gilsa menyebutnya anak haram.
"Iya, putra yang kamu dapatkan dari rahim pelaccur itu? Tetap saja haram, 'kan?"
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1
Waktu dan tempat dipersilahkan, yang nunggu karma sabar dulu dong😗