Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 95 - Memulai Kembali


__ADS_3

Sudah bulat tekad Bima, tujuan hidupnya sudah berubah. Tidak lagi ada kata demi papa, untuk papa dan karena papa. Yang saat ini menjadi prioritasnya adalah Lengkara, sang istri. Sebagai seorang pria dewasa, dia juga memiliki cita-cita membangun keluarga sempurna.


Semua rasa sakit dan kekurangan kasih sayang cukup sampai di dirinya. Jika Papa Atma mengira Bima akan terlunta-lunta hanya karena kekurangan harta, sudah jelas salah besar. Tidak peduli seberapa banyak harta yang mengelilingi hidupnya, Bima hanya ingin kasih sayang dan dihargai sebagai manusia.


Tuhan memang adil, dia yang sejak dahulu hidup hanya dijadikan mesin pencetak uang dipertemukan dengan keluarga yang begitu hangat. Bahkan, Bima seakan lupa diri dan merasa benar-benar pulang yang sesungguhnya.


Bak putra terbuang, dia justru disambut baik keluarga lain. Keluarga Megantara yang begitu menghargainya bak anak sendiri, Bima bahkan merasa malu ketika menginjakkan kaki di kediaman mertuanya.


Bukan hanya Bima, tapi Bu Seruni juga demikian. Terlebih lagi, sejak lama memang sudah mengenal keluarga Papa Mikhail, sebagai calon besan kala itu. Ketakutan akan penolakan yang Bu Seruni katakan, nyatanya tidak terjadi dan semua baik-baik saja.


Tanpa perlu Bima jelaskan, Papa Mikhail seolah paham keadaannya. Mungkin Lengkara yang sudah bicara, Bima tidak tahu soal ini. Tidak hanya mertua, tapi semua kakak iparnya juga demikian.


"Jangan pernah takut untuk memulai, Bima ... papa akan mendukungmu, begitu juga dengan kakak-kakakmu."


Meski terlahir dari keluarga yang harmonis sejak dahulu, tapi Papa Mikhail mengerti bagaimana perasaan Bima. Apa yang terjadi pada Bima, tidak jauh berbeda dengan mendiang papanya dahulu.


"Betul, Bim, jika butuh tambahan modal dan lainnya hubungi saja kak Evan."


Kak Evan yang sejak tadi diam saja sontak mengerutkan dahi begitu mendengar ucapan adik iparnya. Beruntung saja dia sudah terbiasa menghadapi sang mertua, sekalipun dihadirkan versi lainnya dia sudah biasa saja.


"Kau juga, Zean."


"I-iya tentu saja, mana mungkin aku tidak akan membantu, Pa ... maksudnya yang lebih memungkinkan kak Evan, dia yang lebih kaya dari kita."


Untuk yang satu ini Bima agak gugup, tatapan matanya saja sudah mengerikan sekalipun banyak uang. Tidakkah dia sadar jika orang lain juga memandangnya sama seperti dia memandang Evan, kakak iparnya.


Baru dua orang, Kak Sean belum tiba karena banyak yang harus dia kerjakan. Menurut penuturan Lengkara, Kak Sean memang sangat sibuk dan tidak bisa pulang seenaknya. Pria itu harus fokus dengan yayasan dan panti asuhan yang baru saja dia dirikan dua tahun terakhir, sejauh ini masih menjadi seseorang yang begitu Bima kagumi.

__ADS_1


Jika Bima sedang menghabiskan waktu dengan bicara bersama mertua dan iparnya, di sisi lain Lengkara juga bersiap mengambil ancang-ancang dengan menemui saudaranya, Ameera.


Kebetulan Ameera sedang tidak ada kegiatan, ketika Lengkara temui dia sedang memijat pundak Oma Kanaya yang tengah menonton film cucunya.


"Oma ... nanti Kara yang di sana, Oma nonton ya."


"Kara mau juga? Oma tunggu, Sayang." Tangan keriput itu membelai wajah cucunya. Mata itu tak lagi mampu melihat jelas, bahkan dia sendiri tidak bisa mengenali Ameera di layar kaca sebenarnya.


"Serius, Ra?" tanya Ameera berbinar, dahulu keduanya sempat berjanji dan menata karir bersama, tapi Lengkara memilih mundur demi menjaga hati Yudha.


"Hm, aku serius."


Seperti yang sempat dia katakan, di titik terendah Bima mana mungkin dia hanya diam saja. Terlebih lagi, Lengkara sudah terbiasa berjuang sendiri dalam hidupnya sejak dahulu, mana mungkin dia hanya akan duduk santai dan menunggu hasil kerja keras Bima.


"Memangnya sudah izin, Ra?" tanya Ameera mendadak ragu, seingat dia dahulu Lengkara bahkan berhenti menggeluti bidangnya demi menghargai Yudha, lantas kenapa sekarang justru nekat.


Kemarin memang dia sudah sempat bicara. Awalnya ingin sembunyi-sembunyi, tapi Lengkara yang pelupa terpaksa melibatkan Bima lantaran dia lupa password akun sosial media yang baru dia buat beberapa menit itu.


Namun, untuk melangkah ke jenjang karir seperti Ameera memang belum. Dia juga tidak berharap segera seperti Ameera, tapi setidaknya berpenghasilan seperti dahulu saja.


"Kamu yakin? Nanti jadi masalah lagi seperti Yudha dulu."


"Tidak, aman kalau yang ini ... promoin akun ig-ku, Ra. Masih sepi soalnya."


"Aman, kamu buat akun baru? Yang lama saja, Ra." Sungguh disayangkan andai akun dengan jutaan pengikut itu hilang tak berbekas.


"Sudah hilang, aku ingin buat baru saja."

__ADS_1


"Sayang banget, yang baru sudah berapa pengikutnya?" tanya Ameera sudah siap untuk terbahak, dahulu Lengkara berada jauh di atasnya dan hal itu kerap membuat Lengkara besar kepala.


"230," jawab Lengkara singkat, benar saja dia terbahak hingga Oma Kanaya mencubit kakinya.


"230 orang? Itu pengikut atau serpihan ketombe?"


"230 K," tambah Lengkara kemudian menjulurkan bibir, persis Kak Sean jika sudah menjatuhkan lawan bicaranya.


"O-oh 230 K ... pasti pengikut Bima, 'kan? Mana mungkin langsung sebanyak itu?" Suara Ameera memelan, meski saudara tetap saja agak malu.


"Mas Bima tidak punya akun sosial media, ngarang deh Meera."


"Oh aku tahu, pasti beli!!" tebak Meera tak mau kalah.


"Kau tahu, suamiku jatuh miskin dan aku juga tidak pegang tabungan sebanyak itu. Menurutmu apa mungkin seorang Lengkara beli followers? Rugi kalau kata papa."


Sulit dipercaya, apa memang pesona Lengkara belum padam hingga semudah itu muncul ke permukaan, pikir Ameera. Dia yang tidak percaya merogoh ponselnya dan demi memastikan ucapan Lengkara, detik akunnya ditemukan mulut Ameera menganga dan matanya mengerjap pelan.


"Kenapa mulutmu? Terpukau? Pesona Lengkara tidak akan pernah pudar. Benar, 'kan, Oma?" tanya Lengkara kembali meminta validasi omanya.


"Dih siapa yang terpukau? Akunmu alay!! Bima's Wife? Omo Lengkara you are very-very bucin."


"Hah?"


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2