
Awalnya dia merasa baik-baik saja dan menerima syarat dari calon mertua. Namun, setelah satu bulan merawat kebun kacang seluas 1000 meter persegi itu nyatanya cukup melelahkan. Terlebih lagi, Bima harus bertarung dengan berbagai jenis hewan melata di sana. Usai dengan cacing, dia harus berhadapan dengan ulat bulu hingga akhirnya ketakutan yang dipendam selama ini meledak juga.
"Tanam benih di rahimku."
Sebuah ide gila dari Lengkara kembali terngiang, Bima yang sudah lelah akibat serangan bertubi dari hewan itu mulai menimbang keputusan. Terlebih lagi kala dia memandangi merah-merah di leher yang gatalnya luar biasa, tidak hanya sehari dua hari, tapi setiap hari.
Namun, setiap kali ucapan itu terngiang secepat mungkin dia menggeleng dan menghitung dengan jemarinya. Tidak lama lagi, mungkin butuh waktu sekitar 20 hari kalau berdasarkan dugaan awalnya, tidak masalah. Lagi pula hanya ulat, bukan king cobra.
Papanya tidak tahu apa tujuan Bima ke Jakarta satu bulan terakhir, karena memang belum pasti hasil akhirnya bagaimana. Malam ini dia terpaksa kembali ke rumah, terpaksa dia izin pada pemilik kebun agar bisa cuti beberapa hari.
Tiba di kediamannya, keluarga besar itu sudah berkumpul di meja makan. Sudah pasti dia akan kembali menjadi sasaran amarah Papa Atma, meski hubungan telah menghangat bukan berarti Bima bisa aman dari emosi pria itu.
"Kau dari mana saja? Papa mengizinkanmu istirahat bukan berarti bebas, Bima."
"Nanti saja marahnya, Mas ... tidak baik bertengkar di depan makanan."
Suasana di ruang makan tampak tegang, tidak ada yang berani bicara walau sedikit saja. Hanya dentingan sendok yang memecah suasana, Bima sudah kenyang sebelum terbang ke Semarang, pemilik kebun itu sangat perhatian dan tidak mengizinkannya keluar dari rumah sebelum Bima kenyang.
Melihat Bima yang seolah tak naffsu makan, hal itu juga menjadi masalah. Atmadjaya kembali menegurnya usai makan malam, sudah pasti di hadapan adik-adiknya yang saling melirik karena takut padanya.
"Kau kenapa? Apa makanan di rumah tidak lagi sesuai dengan seleramu?"
"Kenyang, Pa ... sebelum pergi aku sudah makan lebih dulu."
"Oh begitu rupanya, apa keluarga wanita itu menerimamu? Jika tidak ada baiknya kau menikah dengan pilihan papa saja."
__ADS_1
Seketika Bima menatap ke arah Yudha yang mengalihkan pandangan segera. Besar kemungkinan Yudha yang menyampaikan sesuatu pada papanya, entah sebagian atau keseluruhan.
"Katakan ... benar dia menerimamu?" tanya papanya dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan.
"Diterima, Pa." Terpaksa dia menjawab demikian, walau memang dia sendiri ragu diterima atau tidaknya.
"Benarkah? Jika memang diterima kenapa tidak kau bawa istrimu ke hadapan papa? Bukankah kau hanya menjatuhkan talak satu? Papa rasa tidak perlu menikah ulang."
"Lengkara masih kuliah, Pa ... aku harus menunggunya," jawab Bima mencari alasan yang paling masuk akal, alasan yang sekiranya bisa diterima.
"Oh iya? Kenapa harus menunggu di Jakarta? Apa tidak bisa di sini saja? Hanya karena papa menunjuk Yudha mengantikan posisimu bukan berarti kau lepas tangan, Bima."
Bima bungkam, untuk masalah ini dia akui memang salahnya. Bukan lepas tangan, tapi memang dia merasa tidak mampu untuk saat ini. Bekerja juga percuma karena otaknya tidak sedang di sana, bekerja juga percuma karena hanya akan membuat Yudha sakit kepala.
Bima bergeming, tidak salah lagi Yudha yang mengatakan semua pada papanya. Dia yang tidak pernah marah ataupun kecewa pada Yudha sontak mengepalkan tangan, janji Yudha benar-benar tidak dapat dipercaya.
"Tidak, Pa ... aku yakin buk_"
"Memang benar-benar bodoh!! Papa tidak mau tahu, lupakan wanita itu dan kau harus menikah dengan wanita pilihan papa ," tegas Papa Atma tak terbantahkan, sontak mata Bima membulat sempurna.
"Pa? Soal Lengkara papa tidak perlu ikut campur!! Aku sudah dewasa jadi biarkan aku menyelesaikan semuanya sendiri."
"Kau selalu gagal setiap kali mengambil keputusan sendiri ... contohnya saja menerima permintaan Yudha untuk menikahinya, dan untuk kali ini kau harus mengikuti apa kata papa!!"
"Aku tidak mau, Pa," jawab Bima kemudian berlalu meninggalkan meja makan.
__ADS_1
"Bima tunggu!! Papa tidak menerima penolakan, kau ingat itu," tegas Papa Atma dan membuat Bima berdecih seraya berbalik ke arah papanya.
"Aku tidak mau, aku bukan robot yang bisa papa kendalikan!!" tolak Bima tegas dan sama-sama meninggi, kali pertama dia berani bersikap tidak sopan hingga berakhir dengan tamparan keras di wajahnya.
"Kau benar-benar kurang ajar sepertinya ... pernikahanmu dan Renjana sudah papa atur jadi jangan membuat malu."
"Egois ... aku tidak akan pernah menikah selain bersama Lengkara, hanya Lengkara wanita yang kumau."
Begitu tegas Bima bersuara hingga Yudha yang menatap dari kejauhan menghela napas panjang. Dia yang menginginkan ini, sejak awal dia percaya bahwa Bima akan mencintai Lengkara sedalam itu, tapi tetap saja sakit sudah pasti ada.
"Kau juga sama!! Egois!! Bagaimana nasib Yudha jika kau menikahi wanita di masa lalunya ... kalian berdua benar-benar gila!!"
"Apa harus aku mengorbankan perasaan lagi? Dulu demi Raja, sekarang demi Yudha ... Papa jangan memandang satu sisi saja, tanyakan padanya yang egois siapa," ujar Bima melirik sekilas ke arah Yudha yang berdiri tidak jauh darinya.
Pertama kali dalam hidup Bima, dia marah dan menatap Yudha tak suka. Pria itu berlalu ke kamar meninggalkan mereka dengan dada yang bergemuruh dan mata yang kini membasah, sial dia bahkan lebih lemah dari Yudha.
.
.
- To Be Continued -
Senin, jangan lupa ritual vote-nya wahai istri Bima dan istri Yudha❣️
__ADS_1