
Manusia memang tidak lepas dari lupa, tapi ada satu level tertinggi dalam lupa yang cukup membahayakan, yakni lupa jika sudah punya istri. Ya, begitulah Bima saat ini, dia begitu lelap sementara istrinya kalang-kabut mencari keberadaannya.
Lebih menyebalkan lagi, semuanya seakan sengaja memperkeruh keadaan. Bukannya membantu, mereka justru menganggap Lengkara sesuatu yang lucu. Mereka bukan bodoh, jelas saja ada yang mengetahui dimana Bima berada, terutama Ameera dan Mikhayla yang tahu betul jika Bima tinggal di rumah ini sejak satu bulan lalu.
Namun, otak Lengkara yang memang mendadak beku karena panik itu hanya bisa menangis pada akhirnya. Bayang-bayang jika Bima meninggalkannya karena berbagai alasan menghantui benak Lengkara.
Siapa lagi pemicunya jika bukan Zean yang membuat wanita itu berpikir berlebihan. Alhasil, Lengkara yang muak dijadikan bahan olokan memilih kembali ke kamar dan menghentikan pencariannya.
Tepat tengah malam, Bima terbangun dengan napas yang terengah-engah. Dia mimpi buruk hingga keringat di keningnya sudah begitu basah, sejenak pria itu menatap ke samping.
Ada sesuatu yang hilang, Lengkara yang tadi ada di pelukannya tidak berada di sana. Sama seperti Lengkara, dia juga panik dan berlalu keluar. Masih dengan kesadaran yang belum terkumpul seluruhnya, dengan suara serak dia berteriak memanggil sang istri.
Tingkahnya yang demikian jelas saja menjadi bahan gunjingan saudara iparnya yang kini tengah menyaksikan liga sepak bola di ruang keluarga. Tidak hanya berdua, tapi mereka berlima dengan Ameera yang turut bergabung dan bersandar di bahu kakak kesayangannya.
"Dasar sarap ... ada pengantin begitu."
"Itu buktinya ada, berarti mereka kalau ketemu baik-baik Zean," sahut Sean seraya membukakan kacang kulit yang kemudian diserahkan untuk tuan putri di sana.
"Baik-baik gimana?"
"Bima sudah menikah dan dia tidur di kamar yang berbeda, itu artinya otak adik ipar kita itu masih suci dan tidak tercemar sepertimu," jawab Sean yang mulai membuat Ameera menatap ke arahnya.
"Memang kak Zean tidak suci?"
"Ya suci, Meera, tapi agak ternoda dan tidak sesuci otak Bima," jawab Sean yang berakhir mendapat pukulan di pundaknya.
"Ah bisa dibilang polos gitu ya, Kak?" tanya Ameera tetap menyatu meski kedua kakaknya sudah bapak-bapak.
"Hm begitu, bisa dibilang agak cupu," jawab Zean membenarkan ucapan Ameera, sama sekali dia tidak marah kala Sean menegaskan jika otaknya kotor.
__ADS_1
"Tapi menurutku dia tidak sepolos itu ... dari caranya memandang saja sudah menunjukkan kalau Bima diam-diam begitu suhu, kalian salah besar anggap dia cupu."
Pembicaraan ini semakin menarik, bahkan Zain turut angkat bicara. Tidak biasanya dia suka bergunjing, tapi topik bahasan sepupunya menarik perhatian seorang dosen fakultas Psikologi itu.
"Kau tahu dari mana? Ada bukti valid?"
"Percaya saja padaku, kita lihat beberapa hari ke depan ... bisa dipastikan Lengkara demam tinggi," ucapnya seyakin itu, sejak pernikahan pertama Lengkara memang pembahasan mereka tidak lepas dari sosok Bima.
"Kok demam? Apa hubungannya?"
"Kau kenapa masih di sini? Anak perawan itu di kamar, Meera." Eshan baru menyadari jika di tengah mereka ada Ameera yang memaksakan diri memahami, padahal bukan dunianya.
"Kata siapa Meera masih perawan ... dia sudah dijamah Hudzai asal kalian tahu."
Kembali Sean mengungkit masa lalu yang berakhir dengan gigitan di pundaknya hingga pria itu meringis seketika. Sebaik apapun dunia Sean saat ini, jika bersama saudaranya dia masih sama, meski memang tidak sekasar dahulu.
"Tidak apa-apa, Ra latihan biar nanti kalau punya bayi tidak terkejut," sahut Zean yang sama iyanya, benar-benar membuat malu hingga Meera ingin mengubur dirinya sendiri.
Persetan dengan gunjingan orang-orang tentangnya, Bima tidak terlalu peduli sekalipun dia tahu. Saat ini ada yang lebih penting, istrinya kemungkinan marah besar karena kini bersembunyi di balik gundukan selimut tebal.
Dia tampak ragu, tapi perlahan Bima naik ke atas tempat tidur demi bisa merayunya. Jujur saja dia tidak ahli, tapi kali ini akan dia coba hingga perlahan menyingkap selimut yang menutupi tubuh Lengkara.
Cantik, hanya itu yang dia utarakan setiap kali menatap wajah Lengkara. Sebelumnya memang sudah sangat cantik, tapi malam ini Bima merasa kecantikan Lengkara bak magnet yang selalu mengikat matanya agar tidak berpaling.
.
.
"Sayang maaf, mas salah kamar," ucap Bima lembut sebelum kemudian mengusap pelan wajahnya, tidak mengapa meski dia tampak tertidur lelap, tapi yang jelas Bima ingin mengutarakan kata maaf lebih dahulu.
__ADS_1
Tidak puas dengan mengusap, Bima mengecup keningnya berkali-kali. Tanpa dia sadari jika kecupan itu membuat tidur Lengkara terganggu hingga dia mendorong dada Bima sekuat tenaga.
"Mas baru pulang? Gimana? Diizinin sama istri pertamanya?"
Beberapa detik lalu dia begitu menenangkan, sekalinya bertanya berhasil membuat darah Bima seakan tumpah sebagian. Di antara banyaknya pertanyaan, kenapa harus begitu, pikir Bima.
"Kamu kenapa tanya begitu?"
"Sudah kukatakan jangan berbohong dan kamu sepakat kita kembali mengulang tanpa kebohongan, lalu kenapa tiba-tiba kamu begini? Jangan hanya memintaku selesai dengan masa lalu kalau mas tidak begitu."
"Ra? Apa yang kamu katakan? Kebohongan apa? Masa lalu yang mana? Mas hanya memiliki satu wanita dan itu adalah kamu ... ayolah jangan bercanda begini." Bima tidak mengerti kenapa tiba-tiba sang istri bicara begitu serius, bahkan matanya kini mulai membasah dan Bima menatapnya dengan jelas.
"Bohong, mas punya istri lain, 'kan? Dan tadi mas ngilang karena ngasih jatah ke istri pertama."
"Ya Tuhan, fitnah siapa itu? Seumur hidup mas hanya pernah menikahimu dan kau tahu sekalipun mas duda sama sekali tidak pernah terjamah," tegas Bima mendadak sebal dengan fitnah yang tertuju pada dirinya, entah siapa pelakunya.
"Oh iya? Tunjukkan kalau memang masih perjaka."
"Baik, siapa takut," tantang Bima tiba-tiba menarik tubuh Lengkara ke agar duduk di atasnya.
"Kenapa begini?"
"Oh salah? Lalu bagaimana seharusnya? Mas belum pernah," ucapnya tampak santai dan tengah menegaskan jika memang masih perjaka dan belum pernah melakukannya.
"Terus mas pikir aku pernah?!"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -