Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 68 - Kamu Puas?!


__ADS_3

"Widih!! Baru keluar ... berapa ronde, Bim?"


"Hahaha sampai subuh mungkin, itu leher Lengkara sampai alergi," sahut Eshan menanggapi pertanyaan Zean yang tertuju pada adik iparnya.


Belum juga lima menit Lengkara bicara tentang keraguannya, kini semua terbukti nyata dan keyakinan Bima terpatahkan dengan fakta yang ada. Tidak ada Zean yang sibuk, tidak ada pula kedua sepupunya yang sangat menghargai waktu seperti katanya.


Yang ada kini hanya Lengkara yang terjebak keadaan. Semua anggota keluarganya masih setia di kediaman papa Mikhail, kebetulan saja tidak berisik karena para keponakannya bermain di luar.


"Tuh kan, aku bilang juga apa!! Kamu sih ngeyel ... mereka masih ada semua, Mas," bisik Lengkara yang memilih bersembunyi di balik punggung Bima, hendak berlari sudah telanjur dan terpaksa pura-pura biasa saja padahal malunya luar biasa.


Sementara Bima kini terpaku seraya susah payah meneguk salivanya. Bayangkan saja, ancaman tentang makan mie lewat hidung sudah terbayang jelas di otaknya. Kendati demikian, dia masih berusaha untuk terlihat tenang meski dadanya bergemuruh luar biasa.


"Kalian lihat ... dugaanku benar, 'kan?"


"Sedikit meleset, istrinya belum demam, Zain," sahut Sean yang sama sekali tidak Bima duga justru ikut-ikutan.


"Hahaha itu karena daya tahan tubuh Kara kuat, Kak."


"Naffsunya juga tinggi jadi seimbang," timpal Zean semakin membuat Lengkara ingin balik ke kamar detik ini juga.


"Jadi penasaran gaya helikopternya dipakai tidak, Ra?"


Lengkara memejamkan mata dan terus menyembunyikan wajahnya di balik pundak Bima. Menyesal sekali dia sempat membahas tentang gaya helikopter itu pada Ameera, sudah tiga tahun dan anehnya kalimat candaan semacam itu justru menjadi sebuah senjata membahayakan untuknya.


Bukan hanya Lengkara yang terpojok dan malu saat ini, tapi Bima juga. Sama halnya seperti Lengkara, jujur saja dia ingin menggali kuburannya sendiri saat ini. Beruntung saja mertuanya datang dan menghentikan pembicaraan konyol mereka.


"Kalian kenapa masih ada di sini?"


"Libur!!" jawab mereka serentak, mata masing-masing kembali fokus ke layar kaca di depan sana.


"Libur apanya? Tidak ada hari libur untuk cari uang!! Sana kerja!!" titahnya berkacak pinggang, memasang wajah garang, tapi sama sekali tidak menyeramkan.


"Tanggal merah, Papa Khail."


"Oh begitu, ya sudah kalian bantu papa di kebun saja," ucapnya seketika membuat mereka saling pandang, sementara Bima dan Lengkara segera berlari menuju ke meja makan.


"Ayo cepat!!"


"Aduh, Pa ... sepertinya aku ada urusan, pak Tamudin minta ketem_"

__ADS_1


"Tidak ada alasan!! Jangan sok sibuk kau, Zean, bantu papa sesekali ... kau juga, Sean!!" ujar papa Mikhail tak terbantahkan.


"Syauqi nangis, Pa."


"Ada Zalina, jangan banyak alasan!!"


"Lah terus Bima tidak diajak? Papa tidak adil," protes Zean sembari menunjuk Bima yang sudah duduk manis di ruang makan.


"Bima sudah sebulan, sudah cepat sana!!"


.


.


Pagi ini Bima merasakan bagaimana diistimewakan sang mertua, dia tertawa kecil kala melihat para iparnya tampak keberatan di sana. Terserah, tertawa di atas penderitaan mereka sesekali tidak masalah, bukankah mereka sejak tadi terus menjadikannya bahan candaan, pikir Bima.


Dia yang tertawa kecil sejak tadi tidak lepas dari pantauan Lengkara. Wanita itu menatap tajam Bima karena memang kekesalannya masih begitu membuncah, bahkan sengaja mengambilkan Bima porsi sarapan yang tidak lagi wajar.


"Kebanyakan, Ra ... sudah seperti porsi makan siang," ucap Bima kala melihat nasi goreng spesial itu sudah menggunung di piringnya.


"Sekalian, aku tidak mau turun pas nanti makan siang," jawabnya kemudian mencebikkan bibir, sama sekali Lengkara tidak berencana untuk kembali menjadi bahan ejekan siang nanti, sungguh.


"Tidak, mana bisa aku marah," jawab Lengkara tidak lagi sesuai dengan makna yang sebenarnya, padahal dari wajah saja sudah dapat disimpulkan dia menang marah.


"Ah istriku baik sekali ... tidak sia-sia aku berjuang di bawah sinar matahari jika hatimu selembut ini."


Lengkara ingin menangis rasanya, karena khawatir ada yang lain melihat dirinya dalam keadaan aneh begini, dia memilih tidak menjawab ucapan Bima.


Dia bingung kenapa Bima terlihat biasa saja, sementara dirinya merasa bak dilucuti di depan umum. Bahkan, Bima sengaja menyibak rambut Lengkara agar dia dapat kembali memandangi tanda kepemilikan yang dia berikan semalam.


"Jangan disentuh!!"


"Mas khawatir, rasanya tidak sekuat itu, tapi kenapa bisa berdarah begini," ucap Bima mengusap pelan bekas luka yang nyata terlihat di sana, tidak begitu besar namun sepertinya agak sakit.


"Perasaan saja tidak kuat, aku yang rasain kalau semalam memang kuat," desis Lengkara menajam mata, pura-pura lupa atau memang sengaja dia bersikap seakan tidak ada rasa bersalah begitu.


"Sakit?"


"Jangan disentuh terus, Mas ... sudah cepat sarapan sana, nanti kak Mikhayla malah masuk diledek lagi loh," kesal Lengkara benar-benar tidak habis pikir kenapa pikiran Bima tidak sejalan dengannya.

__ADS_1


"Hanya memastikan, Ra, sepertinya sangat sakit."


Plak!!


"Aaaaaakkkhh."


Maksud hati mendaratkan tamparan di paha Bima agar tangan sang suami berhenti berulah. Namun, tanpa Lengkara duga sama sekali dia justru mendessah hingga Lengkara panik dan menutup mulut Bima dengan telapak tangannya.


Lebih menyebalkan lagi, bukan dessahan pelan yang Bima loloskan, tapi cukup keras hingga membuat Lengkara mendelik tajam. Sialnya, apa yang dia takutkan benar-benar terjadi dan kini dengan jelas Mikhayla benar-benar menghampirinya di meja makan.


"Kakak mau apa?"


"Minta nasi goreng ... kakak belum sempat sarapan, Ra, kerjaan di rumah banyak banget mana Bibi pulang kampung."


"Oh, kak Evan mana?"


Dari pertanyaannya, Mikhayla tidak mendengar suara Bima, mungkin. Untuk itu, Lengkara mencoba berinteraksi baik-baik bersama kakak sulungnya.


"Masih tidur, kakakmu demam." Jawaban Mikhayla sejenak bisa membuat Lengkara bernapas lega.


"Makasih bilangin Mama, kakak pulang dulu."


"Tidak gabung saja, Kak? Masa dibawa-bawa begitu nasinya?"


"Maunya sih, tapi tidak mau ganggu pengantin baru," ucapnya mengedipkan mata hingga membuat firasat Lengkara mulai memburuk.


"Oh iya satu lagi, jangan di ruang makan, Ra ... kalau sudah di rumah sendiri tidak masalah, mau di balkon, kolam renang, atas genteng juga boleh. Kalau di sini tahan dulu," tambah Mikhayla tertawa sumbang yang membuat nasi goreng buatan mamanya itu hambar seketika.


"Kamu puas, Bimantara?!" kesal Lengkara ingin sekali mencekik sang suami kali ini.


"Belum, mulai saja belum puas apanya," jawab Bima tersenyum tipis seraya menopang dagunya.


.


.


- To Be Continued -


__ADS_1


__ADS_2