
Gilsa panik, bingung, marah dan merasa putus asa. Lebih putus asa lagi, kala nomor telepon Panji tidak dapat dihubungi sama sekali. Hendak berteriak, tapi khawatir ketahuan sang suami. Hingga, dia mencoba meredam amarah dan bersikap sesantai mungkin.
Ya, santai dengan pikiran yang melayang kemana-mana dan khawatir tak terkira. Agaknya firasat seorang ibu memang tajam dan tidak pernah salah. Tujuan Yudha membawa kedua adiknya jelas saja bukan hanya untuk mengunjungi Bima.
Kendati demikian, Yudha tidak ingin mengingkari janji pada kedua adiknya. Sesuai janji, mereka bersenang-senang dan menikmati perjalanan layaknya orang mudik ketika hari raya. Ya, dari sekian banyak hal Raja dan Arjuna ingin merasakan sensasi perjalanan panjang seperti ini.
Maklum saja, Raja kerap mendengar Bima pulang-pergi dengan mobil dan baginya hal itu sangat menyenangkan. Dia ingin merasakan sensasi perjalanan panjang semacam itu, seru saja menurutnya.
"Kak dulu kecelakaannya di sini ya?"
"Bukan, masih lama ... kau mau lihat, Raja?" tanya Yudha kemudian diangguki pemilik manik bening itu.
Mereka pergi bertiga, tapi suara mereka persis anak-anak study tour. Bukan karena kurang piknik, tapi memang Raja dan Arjuna tidak bebas jika pergi bersama kedua orang tuanya. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan, liburan juga hanya mengikuti kehendak mamanya saja.
Jangan ditanya bagaiamana perasaan mereka hari ini, jelas saja bahagia. Raja dan Arjuna hidup sehidup-hidupnya, suara mereka yang berpadu mengikuti alunan musik disertai gelak tawa menegaskan jika mereka menginginkan hal ini sejak lama.
"Kalian suka?" tanya Yudha sembari terus fokus menatap ke depan, sejak tragedi berdarrah kala itu Yudh benar-benar mengedepankan keselamatan.
"Suka, nanti kita pergi lebih jauh ya, Kak!!" seru Arjuna tidak mau ketinggalan, duduk di belakang sama sekali tidak membatasinya untuk bergerak bebas.
__ADS_1
"Hm aku ingin ke ujung Indonesia jika bisa," tambah Raja masih terus menggerakkan tubuhnya.
"Tentu saja, tapi nanti ... selesaikan dulu kuliahmu, Papa sampai sakit kepala karena kau tidak lulus-lulus."
"Aman, jangan khawatir soal itu, Kak."
Yudha sedikit tidak tega, tapi Bima menginginkan cara ini untuk membuka tabir pengkhianatan Gilsa. Sedikit menyakiti dan mungkin tidak berperasaan, sama sekali mereka tidak menduga jika tengah dijadikan umpan untuk membuat seorang pria yang kini tengah duduk lesu di hadapan Bima mengakui semua kesalahannya.
Suara mereka terdengar begitu jelas, bahagianya sampai ke luar kota. Ruangan sempit dan sedikit lembab itu menjadi saksi bagaimana seorang Ayah merindukan darah dagingnya. Dia terpaku, bahkan tidak peduli sekalipun pria yang ada di hadapannya ini bisa saja membunuh tanpa dia duga-duga.
"Mereka sangat-sangat bahagia dan tumbuh dengan baik ... tapi bagaimana jika hari ini adalah perjalanan terakhir mereka?" tanya Bima tersenyum tipis dengan jemari yang dia ketuk-ketukan ke atas meja, tatapan tajam tetap tertuju pada manik sayu Panji yang agaknya terkejut karena diringkus malam tadi.
"Mereka tidak bersalah, kenapa kau menyeretnya dalam masalah ini?!!" hardik Panji seolah tak terima kala Bima memutuskan sambungan teleponnya dari Yudha, cukup sebentar saja. Naluri seorang ayah dalam diri Panji luar biasa terpancar, dan Bima sangat suka.
Bima bergetar kala mengutarakannya. Jujur saja, dia memang sempat meminta agar sakit hati sang ibu terbalaskan. Akan tetapi, setelah dihadapkan dengan fakta ini entah kenapa dia justru merasakan sakit lebih dahulu.
Mengetahui jika pengkhianatan Gilsa sejauh itu jelas saja dia murka. Apalagi, ketika dia mengetahui bahwa kecelakaan yang menimpa Yudha dan Lengkara adalah campur tangan darinya. Bima menghela napas panjang, dia menatap datar Panji yang sudah dalam keadaan memar akibat serangannya saat pertama kali Panji membuka mata.
"Tapi aku sering menderita karena anak-anak itu ... mereka egois, dan bertindak seenaknya seolah anak kesayangan papa. Hm, sayangnya papa rabun sampai tidak bisa menyadari jika Raja dan Arjuna berbeda dengannya ... kalau kuhabisi saat ini, kira-kira papa marah tidak ya? Apalagi jika dia tahu bahwa mereka bukan darah dagingnya?."
__ADS_1
"Kau mau apa lagi, Badjingan? Aku sudah mengakui kesalahanku seperti yang kau mau. Lantas kenapa kau masih berkeinginan untuk menghabisi kedua putraku?" tanya Panji geram, tangannya yang terikat rantai membuat sulit bergerak hingga hanya bisa pasrah menghadapi pria di hadapannya.
"Kedua putramu? Hahaha dua? Dua? Katakan sekali lagi sialan!!" hardik Bima dengan panas yang menjalar di dada, tidak pernah dia semarah ini sebelumnya.
"Faktanya mereka berdua adalah putraku!! Papamu tidak bisa memberikan Gilsa keturunan lagi setelah kalian berdua lahir, dan hal itu Gilsa tutup-tutupi karena ingin Papamu tetap merasa sempurna," jelas Panji yang sama sekali tidak membuat Bima melunak, tapi semakin marah.
"Hahah dasar penipu!! Kau pikir aku percaya? Jangan pernah beralasan apapun, harta yang menjadi tujuan kalian berdua, Bedebah!!"
Papanya yang dikhianati, tapi Bima merasakan sakitnya hingga dia kembali bangkit dan menyerang Panji tanpa ampun. Bima bukan pria yang suka berkelahi sebenarnya, tapi dia tidak bisa diinjak.
Tidak akan pernah lelah Bima menyerangnya, bahkan setelah pria itu meminta ampunan dengan darrah yang mengucur dari hidung dan sudut bibir Bima belum juga berhenti. Kemarahan pada Gilsa, semua yang terjadi di masa lalu, dan kejadian yang menimpa Yudha dan Lengkara tiga tahun lalu membuat Bima seakan ingin mengakhiri hidup Panji.
Namun, gerakan Bima terhenti kala mengingat pesan sang papa bahwa semarah-marahnya, dia tidak berhak menghabisi nyawa seseorang. Dada Bima naik turun, dia menghempaskan tubuh tak berdaya Panji usai puas memukulinya.
"Kita belum selesai, jangan mati dulu!!" ucap Bima sebelum berlalu dan menarik rambut pria itu hingga Panji kembali meringis, luka di kepalanya adalah alasan sakit itu semakin nyata.
Panji memejamkan mata, dia tidak lagi melihat Bima berlalu. Yang jelas, telinga pria itu bisa merespon derab langkah beberapa pria yang diminta untuk mengawasinya.
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -