
Kebohongan tentang apa yang terjadi tadi malam tidak ingin Bima ulangi lagi. Beralasan tidak bisa pulang karena pekerjaan, kini dengan didampingi Kak Evan dan sahabatnya, Bima memasuki kediaman sang mertua dengan perasaan gugup.
Padahal, sebenarnya mereka sudah kembali ke ibu kota sejak fajar. Tentu saja Bima tidak bisa segera pulang, sebagai adik ipar yang baik dia hanya menuruti strategi Kak Evan. Ya, walau sebenarnya Bima agak keberatan karena memang lagi dan lagi semua tentang kebohongan.
Kendati demikian, taktik yang Kak Evan tata benar-benar berhasil dan seolah menjawab semua permasalahan yang Bima inginkan. Tidak hanya sekadar tahu, tapi Bima juga butuh bukti yang akan dia tunjukkan pada papanya.
Dia tahu cara ini sama halnya dengan mempercepat kematian sang papa. Tapi tidak masalah, bukankah lebih baik dibuka dibandingkan Gilsa menang dalam pengkhianatan yang tak berujung itu.
Pikiran Bima kacau balau, tapi dia berusaha terlihat santai kala Lengkara menghambur ke pelukannya. Tanpa sedikitpun malu, justru ketiga pria yang mendampingi Bima memilih mengalah dan pura-pura tidak melihat kala Lengkara dengan santai berjinjit dan mengecup bibirnya, mungkin sudah terbiasa diejek.
"Mas baju baru? Rasanya tidak ada yang seperti ini," ucap Lengkara mengerutkan dahi dan merasa pakaian Bima terlalu asing di matanya.
Benar kata Kak Evan, istrinya sangat peka. Beruntung saja sempat ganti baju, jika tidak maka bisa dipastikan urusannya akan panjang.
"Ehm, baju mas basah jadi terpaksa ganti," jawab Bima pelan, dia agak khawatir jika Lengkara justru bertanya dimana pakaian yang dia gunakan kemarin.
"Oh begitu, cepat masuk ... kita pulang biar kamu bisa tidur dan aku bantuin bibi siapin makanan, mas Yudha sebentar lagi sampai, 'kan?"
Beruntung saja dia tidak mempersalahkan hal itu, entah lupa atau memang dia anggap sebagai angin lalu. Yang jelas, Lengkara saat ini benar-benar percaya jika sang suami baru saja kembali dari perjalanan jauh.
"Iya, tapi pamit dulu sama papa."
Semua terlihat baik-baik saja, kemampuan Bima kali ini agaknya sudah lebih baik. Lengkara telanjur percaya dengan pengakuan Bima semalam, dan Bima juga masih betah menyimpan semuanya rapat-rapat.
Sebaik itu praduga Lengkara soal Bima. Meski sebenarnya dia juga bingung karena Bima tidak lagi membahas Raja dan Arjuna yang mirip dengan teman papanya. Lengkara tidak ingin terlalu ikut campur, khawatir jika Bima tidak nyaman.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama untuk mereka tiba di rumah baru mereka. Sengaja Bima memilih lokasi yang tidak begitu jauh dari rumah papanya. Bukan tanpa alasan, sudah tentu mengikuti permintaan Papa Mikhail, pria itu beralasan tidak bisa jauh dari putrinya.
Tiba di rumah Bima memang tidur seuai perintah Lengkara, tapi tidak begitu lama karena pada akhirnya dia memilih untuk mengganggu kegiatan istrinya di dapur. Tidak peduli meski salah semua, tapi Bima suka mendengar kekesalan istrinya, itu saja.
"Mas, bisa serius sedikit tidak?" tanya Lengkara kala melihat Bima mengambil ancang-ancang untuk memotong tahu yang sudah Lengkara persiapkan di hadapannya.
Tidak ada tanggapan, Bima masih fokus dengan kesibukannya sendiri hingga membuat Lengkara menghela napas kasar dan menghentikan pekerjaannya lebih dahulu.
"Mas Bim_"
"Shuut!! Mas sedang berpikir." Belum selesai Lengkara bicara, jemari pria itu membuatnya bungkam segera.
"Ppftt ... soal apa?" tanya Lengkara seraya menepis kasar tangan sang suami.
"Menurutmu potong horizontal atau vertikal?"
"Baiklah, mari kita potong," tutur Bima seraya mengatupkan bibirnya, hal semacam ini bukan hal biasa dan Bima tidak terlatih sebelumnya.
"Pakai tatakan!! Jangan langsung di sana, lecet," titah Lengkara menghentikan gerakan Bima.
"Ah pakai ini? Baiklah aku coba!!" Sesuai perintah, dia memang menuruti apa kata Lengkara. Namun, setelah masalah itu selesai Bima justru menimbulkan masalah baru yang kemudian kembali membuat tenggorokan Lengkara agak sakit.
"Motongnya tetap pakai pisau ... kenapa malah!! Astaga, kenapa justru pakai tatakannya!!!"
"Kamu bilang tadi pakai ini? Salah mas dimana?" tanya Bima seolah sama sekali tidak salah, tidakkah Bima sadari apa yang terjadi selama dia membantunya sejak tadi.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah kok, Sayang," ucap Lengkara dipaksakan lembut walau nalurinya ingin mengobrak-abrik wajah Bima dengan kuku tajamnya.
Sang istri tengah marah, tapi Bima hanya tertawa kecil seraya menatap wajahnya lekat-lekat. Lengkara yang seperti ini seakan menyejukkan jiwa Bima yang kusutnya luar biasa. Tentang orangtua, saudara dan juga karir kedepannya.
"Love you," ucapnya santai sebelum kemudian mengikis jarak, tadi malam mereka tidak tidur bersama dan hal itu membuat Bima terlalu merindukan wanitanya.
Niat hati hanya mengecup sekilas, tapi Bima justru telanjur dalam hingga napas Lengkara tersengal. Mereka lupa sedang ada dimana, hingga Lengkara baru tersadar jika dia benar-benar terbuai kala Bima mengusap bibirnya yang tampak basah.
"Mas Yudha sebentar lagi tiba ... aku takut kebablasan," tolak Lengkara kala Bima hendak menelusupkan tangan ke bagian sensitifnya.
Raut wajahnya sedikit tak terima, tapi bunyi bel yang kini terdengar seolah menegaskan jika sang istri memang benar adanya. Yudha dan kedua adiknya sudah tiba, jelas harus disambut dengan baik. Lengkara meminta sang suami untuk membuka pintu segera, sementara dirinya harus menyelesaikan menu terakhir favoritnya, tahu goreng.
Lain halnya dengan Lengkara, Bima justru sebal sendiri lantaran mereka menekan bel persis penagih butang. Jika saja bukan karena Lengkara, mungkin ketiganya sudah Bima usir tanpa rasa iba.
"Pintu sudah terbuka, apa salahnya masuk?"
"Sambutanmu hangat sekali ... aku sangat merindukanmu!! Kak Bima seperti ingin membunuhku dengan kerinduan ini," ucap Raja seperti biasa, dia mencoba menjalin kedekatan bersama Bima walau sulitnya luar biasa.
"Andai kau tahu, aku bahkan benar-benar memiliki keinginan untuk membunuhmu, Raja."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1