
Usai meluapkan amarahnya, Bima menghempaskan tubuh lelah itu ke atas tempat tidur. Papanya tidak terima hanya karena Bima melakukan pekerjaan kasar. Tidakkah dirinya sadar bahwa yang Bima lakukan selama ini bahkan lebih melelahkan dari bertani, bahkan otak dan batinnya lebih tersiksa saat mempimpin perusahaan papanya.
"Bim ...."
Belum sampai lima menit, suara itu memecah keheningan yang Bima cari. Yudha ikut masuk, sementara Bima memilih mengabaikan panggilannya. Jangan ditanya bagaimana perasaan Bima, jelas saja kesal luar biasa.
"Bima," panggil Yudha lagi, diamnya Bima mungkin sesuatu yang sangat asing bagi Yudha.
"Keluarlah, aku lelah," jawab Bima pelan, dia malas dan benar-benar muak pada Yudha kali ini.
Lama terdiam, suasana mendadak hening seketika dan tergantikan denting dari jam jarum jam di dinding kamarnya. Dia sangat menyayangi Yudha, tapi untuk kali ini dia benar-benar tidak bisa andai tidak marah.
"Maafkan aku ... papa hanya khawatir padamu dan memeriksa ponselku."
Bima masih bergeming, caranya marah agak berbeda dan cukup membuat Yudha merasa begitu bersalah. Jika Bima berpikir dia yang mengadu, sama sekali tidak. Hanya saja, papanya memang tidak percaya dengan alasan Bima ke Jakarta hanya untuk menenangkan diri.
Cukup lama Yudha menatapnya, sama sekali tidak dia duga jika Bima juga berbakat mendiamkan seseorang jika sedang marah. Beberapa menit bertahan, Yudha kesal juga pada akhirnya.
"Jangan berlebihan, sebelum marah padamu papa sudah lebih dulu marah padaku, bahkan lebih parah kau tahu!!"
Sejak tadi dia menganggap Yudha bak patung, kini sebuah pengakuan Yudha membuat pria itu perlahan membuka mata. Masih dengan posisinya berbaring di sana, Bima mengerutkan dahi seolah meragukan ucapan pria itu.
"Aku memang egois, tapi bukan berarti tidak ingin kau bahagia ... aku sudah berusaha meyakinkan papa jika kau hanya bersenang-senang, tapi sialnya papa merebut paksa ponselku dan membaca semua percakapan kita."
Bima tidak menjawab, dia beranjak dan kini duduk di tepian tempat tidur. Langkahnya untuk menggapai Lengkara sudah begitu dekat, akan tetapi papanya tiba-tiba hadir dengan sebuah penawaran yang semakin membuat Bima sakit kepala.
__ADS_1
"Kapan?" tanya Bima singkat, dia tidak bisa semudah itu luluh sekalipun semua karena ketidaksengajaan Yudha.
"Tiga hari yang lalu ... papa tidak mengatakan apa-apa setelah marah, aku bahkan terkejut tadi siang dia memintamu pulang," tutur Yudha jujur, kejadian itu berlangsung malam hari setelah Bima mengirimkan foto ruam di tubuhnya akibat gigitan ulat pada Yudha.
"Tiga hari ...." Bima kembali berpikir keras, jika memang benar dalam tiga hari rasanya aneh jika papanya tiba-tiba menjodohkan Bima dengan rekan bisnisnya.
Besar kemungkinan kemarahan itu hanya senjata yang digunakan dan perjodohan itu justru sejak lama direncanakan tanpa dia ketahui. Karena, baik Bima maupun Yudha sama sekali tidak tahu dengan rencana itu walau sedikit saja.
"Aku tidak mengerti jalan pikiran papa, yang aku mengerti jalan pikiranmu saja ... jangan hiraukan soal itu, aku akan bicara pada papa dan kau bisa kembali ke Jakarta."
Tanpa diperintahkan, memang itu tujuan Bima. Dia tidak akan peduli sekalipun ditentang, sudah dia katakan yang dia inginkan hanya Lengkara, itu saja.
"Terima kasih, maaf aku sempat marah padamu."
Yudha hanya mengangguk sebelum kemudian tersenyum tipis, dia beranjak dan hendak berlalu dari kamar Bima. Kedatangan Yudha ke kamarnya hanya untuk memberikan penjelasan, dia tidak ingin terjadi salah paham di antara mereka.
"Yud tunggu!!"
Baru saja hendak kembali menutup pintu, suara Bima seketika menghentikan Yudha. Dia kembali mendorong pintu kamar sang adik dan kini Bima menghampirinya. Bibir pria itu terlihat sedikit ragu, ada sesuatu yang dia sampaikan dan tertahan begitu dalam benaknya.
"Ada apa? Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Yudha bersedekap dada, agaknya keraguan Bima tengah menggambarkan seberat apa hal yang akan dia utarakan.
"Apa kau benar-benar baik saja andai aku kembali pada Lengkara?"
Terlihat mengabaikan, tapi ucapan Papa Atma ketika marah padanya benar-benar membekas di otak Bima. Meski sudah Yudha katakan berkali-kali, tapi dia kembali butuh jawaban tanpa kebohongan dari Yudha.
__ADS_1
"Sudah berapa kali aku jelaskan, dan jawabanku akan sama, Bima ... aku baik-baik saja, sejak aku melepaskan Lengkara untukmu maka selamanya dia milikmu tanpa harus pedulikan aku ... egoislah, sekali saja dalam hidupmu," tutur Yudha tanpa jeda, tanpa melepaskan tatapan dari Bima agar pria itu tahu jika dia tidak sedang berbohong sama sekali.
"Ikhlas?"
"Sangat-sangat ikhlas," jawab Yudha kemudian, tidak ada keraguan dari raut wajahnya. Ya, seperti harapan Bima, pria itu benar-benar memegang teguh ucapannya sebagai pria.
"Terima kasih, Yudha, aku harap hatimu tidak berbohong." Bima menghela napas panjang seraya menepuk bahu Yudha, bahu yang dahulu lemah kini kembali kokoh bahkan memikul beban berat sebagai harapan utama sang papa.
"Tentu saja tidak, tapi ingat ... jangan sampai kau sakiti dia setelah ini, Bima. Aku menjaga jodohmu itu selama enam tahun asal kau tahu." Dia mengancam, tatapan Yudha yang sebegitu tajam hanya membuat Bima tertawa sumbang.
"Terima kas_"
"Shuut, seseorang yang saling menyayangi tidak perlu mengucapkan terima kasih."
"Lalu apa?" tanya Bima mengerutkan dahi.
"Cukup emuach saja," ucap Yudha mengecup Bima dari jarak jauh, sontak pria itu mengangkat tangannya dan siap mendarat di wajah Bima andai benar dia lakukan.
"Najish!! Kau dapat ilmu dari mana?" sentak Bima mengelus dada yang kini berdegub tak karu-karuan.
"Hahaha dari drama ... makanya sering-sering nonton agar wawasanmu luas, monoton sekali hidupmu," pungkas Yudha kemudian berlalu meninggalkan Bima yang masih tampak tertekan di ambang pintu.
"Bukan aku yang monoton, tapi wawasanmu yang terlalu luas!!"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -