Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 54 - Jangan Menyiksa Diri


__ADS_3

Bima terhenyak, ungkapan itu bak anak panah yang menghujam tepat di dadanya. Benar, dia memang tidak tahu malu dan Bima sangat paham itu. Sama sekali Bima tidak tersinggung, tapi hanya tertampar saja kala Mikhail mempertegas kenyataan tentangnya.


"Maafkan aku, Pa."


"Maaf? Semudah itu kau meminta maaf? Ya tentu saja orang sepertimu mudah meminta maaf ... menjatuhkan talak saja mudah, bukan begitu, Bimantara Aksa?"


Ya Tuhan, Bima kembali mengatupkan bibirnya. Sempat bingung kemampuan Lengkara menyindir menurun dari siapa, kini dia tahu jawabannya. Lagi dan lagi, Mikhail melontarkan kalimat yang membuat Bima bak tengah dilucuti di depan umum, persis Lengkara sewaktu dia datangi.


"Menjatuhkan talak bukan hal mudah, Pa ... aku menimbang keputusan itu cukup lama, aku pikir dengan talak maka kami akan bisa hidup lebih baik nyatanya tidak. aku tahu papa marah, sakit dan terluka, tapi untuk kali kedua izinkan aku yang tahu malu ini meminta putri papa kembali."


Sama sekali Bima tidak bergetar, seperti yang Papa Mikhail katakan dia memang cukup berani dan nyalinya besar. Tidak peduli telah disindir dan dibuat jatuh berkali-kali, Bima masih memiliki keberanian untuk menatap mata tajam pria itu.


"Kau ingat apa yang kuucapkan sewaktu kau mengembalikan Lengkara padaku, Bima?"


Bima mengangguk, sama sekali dia tidak lupa. Bahkan ucapan itu terbayang jelas setiap saat, bahkan bagaimana Papa Mikhail menatapnya kala itu masih jelas di ingatan Bima.


Kendati demikian, dia tidak akan terpaku hanya dengan satu kalimat itu. Dia percaya sekeras-kerasnya pria itu, selagi Lengkara bahagia maka akan luluh juga.


"Bagus jika ingat ... sekarang pulanglah, cari kebahagiaanmu dan bukan Lengkara orangnya. Jangan pernah masuk dalam kehidupan putriku sedikit saja," tegasnya sebelum kemudian berlalu meninggalkan Bima tiba-tiba berlutut seketika.


"Lengkara adalah kebahagiaanku, Pa."


Setegas itu Bima mengatakannya, sungguh tidak ada rasa takut sama sekali. Papa Mikhail menoleh dan menghela napas panjang melihat Bima yang kembali berlutut di sana. Sudah dia katakan paling benci dengan seseorang yang berlutut di hadapan manusia, baginya sangat tidak berguna.


"Kau benar-benar pembangkang ternyata!! Sudah kukatakan aku tidak suka melihatmu berlutut!!" teriak Papa Mikhail menggema, dia tidak suka, salah-satu alasan dia melayangkan pukulan pada Bima juga karena dia berlutut.


"Aku akan terus berlutut sampai Papa memberikan izin untuk kembali pada Lengkara."


"Ya sudah kau berlututlah sampai lebaran kuda!!"

__ADS_1


Berbeda dengan Lengkara yang sedikit bisa diluluhkan, Papa Mikhail berbeda. Mungkin kecewanya lebih besar, terlebih lagi dia mengingat bagaimana Bima meminta Lengkara lalu tiba-tiba mengingkari janjinya.


Papa Mikhail berlalu, dan Bima tetap akan bertahan di posisi. Dia tahu pria itu sangat membenci seseorang yang berlutut begini, tapi setidaknya setelah nanti dia marah dengan cara yang lain, maka Bima akan merasa lebih lega.


.


.


Berbeda dengan Bima, Papa Mikhail justru merasa penolakan itu sudah sangat cukup. Usai meninggalkan Bima, dia melakukan banyak kegiatan di dalam rumah. Sementara Mama Zia tampak gelisah, seperti hendak ada yang diucapkan, tapi mereka urungkan.


Hampir tengah hari, Papa Mikhail masih bersantai di depan televisi. Bertemankan lumpia yang tadi dia kutuk tidak akan meluluhkan hati, faktanya dia menikmati hingga habis tanpa sisa.


"Astaga, Mas!! Kamu makan sebanyak ini?" tanya Mama Zia dengan tatapan tak percaya.


"Iya ... Bima beli buat dimakan, bukan buat gantungan kunci," jawabnya santai.


"Oleh-olehnya dimakan orangnya dijemur, sehat?" tanya Mama Zia seketika membuat pria itu tersedak, sama sekali tidak dia duga jika Bima belum angkat kaki juga.


"Dimana?"


"Belakang ... aku sudah memintanya masuk dia menolak. Kasihan, Mas jangan keterlaluan, dia datang baik-baik dan kembali meminta Lengkara baik-baik, berkaca dari masa lalu sesuci apa kita dan jangan egois tentang kebahagiaan anak-anak."


Papa Mikhail mengerjap pelan, selalu saja ketika dia bertindak maka istrinya akan mengungkit masa lalu, persis mamanya. Sang istri sudah tahu maksud dan tujuan Bima, benar-benar licik, batinnya.


"Benar-benar keras kepala!! Siapa yang memintanya terus di sana!!"


Usai mendengar ocehan panjang lebar dari istrinya, pria bertubuh besar itu kembali ke halaman belakang demi memastikan keadaan Bima, khawatir jadi ikan asin. Sama sekali dia tidak bermaksud menjemur Bima, tapi justru memintanya pergi, itu saja.


"Ya Tuhan ... otakmu dimana?!"

__ADS_1


Benar saja, Bima sudah mengkhawatirkan. Wajahnya sudah memerah, keringat sudah mengalir dan bibirnya tampak pucat. Kenapa bisa dia bertahan di bawah terik matahari demi menunggu sebuah kepastian, melihat kerasnya watak Bima, pria itu seakan dejavu dengan kejadian beberapa tahun silam.


"Apa kau sebodoh itu untuk mengerti ucapanku? Aku memintamu pergi, bukan menyiksa diri."


"Aku tidak sedang menyiksa diri, Pa ... sebelum papa menerimaku aku akan terus begini," tegas Bima tak terbantahkan.


"Kau sangat ingin diterima?"


"Iya, Pa ... sangat-sangat ingin."


"Tapi tidak semudah itu, aku tidak butuh janjimu sama sekali ... aku menyukai pria pekerja keras, pantaskan dirimu untuk kembali pada putriku. Apa sanggup?"


Tanpa basa-basi Bima mengangguk, dia tidak peduli apa yang akan dia terima yang jelas ada harapan untuk kembali pada Lengkara, itu saja. Tidak peduli sekalipun wajah Mikhail saat ini sama sekali belum bersahabat, bahkan masih tersulut dendam.


"Besok datang lagi jam lima pagi, sementara pergilah dulu untuk hari ini ... aku benar-benar muak melihat wajahmu, Bima."


Bima tersenyum penuh makna, padahal Papa Mikhail dengan jelas mengatakan jika muak melihat wajahnya, setidaknya hari ini berlututnya tidak sia-sia. Meski sebenarnya bingung, selain kasihan apa yang membuat pria itu berbaik hati.


.


.


- To Be Continued -


Guys sementara Bima - Lengkara up, mohon samperin Lucas - Zora ya. Minta tolong ini mah, ini kulanjut nggak jadi tunda sampai Kara selesai❣️ Yang kemarin tanya karyanya mana, sempet ganti judul, kehapus dan ini balik lagi ... silahkan dijenguk, terima kasih.


Gelora Hasrat Anak Tiri.


__ADS_1


__ADS_2