Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 116 - 29 Tahun Tak Terlupakan


__ADS_3

"Happy anniversary, Papa."


Belum selesai kepanikan mereka, kini perhatian orang-orang di sana tertuju suara itu. Papa Atma tersenyum simpul, meski tidak melihat wajahnya dia tahu jika Bima yang tengah bicara.


"Maaf aku terlambat, dan maaf juga aku tidak bisa menjadi putra yang baik untuk papa dan juga mama ... tapi di ulang tahun pernikahan yang ke-29 ini, aku hanya ingin memberikan kado terbaik dan tidak akan pernah kalian lupakan, terutama mama Gilsa."


Mama Gilsa, panggilan itu terdengar amat manis hingga membuat Gilsa turut tersenyum. Ya, dia benar-benar menjadi pemenangnya kali ini, tidak hanya Papa Atma, tapi kedua putranya juga.


Sejak dahulu dia menginginkan Bima patuh dalam kekuasaannya. Tunduk dan sopan seperti yang dilakukan Yudha saat ini. Wajah wanita itu berbinar, dia tidak sabar menunggu kado apa yang akan Bima berikan.


Salah-satu hal yang sangat sulit dia gapai adalah sikap manis Bima. Sungguh, sejak dahulu dia benar-benar berusaha, tapi memang jiwa Bima yang pendendam membuat pria itu selalu menatap Gilsa dengan penuh kebencian.


Tidak sia-sia penantiannya, Bima akhirnya melunak juga. Ya, begitulah dugaan Gilsa begitu mendengar ucapan manis dari Bima, sama sekali tidak dia kira bahwa kalimat itu adalah awal petaka yang membuat hidupnya akan benar-benar berubah.


"Ah baiklah, sepertinya Papa dan mama sudah tidak sabar ya ... tapi sebelum itu, aku ingin memberikan salam pembuka lebih dahulu."


Gilsa menggenggam jemari Papa Atma begitu erat. Hari ini dia seakan menjadi pemeran utama yang begitu istimewa, hingga raut wajahnya perlahan berubah beberapa detik pasca Bima mengatakan akan memulainya.


"Jangan berani menunjukkan diri di hadapanku lagi, Panji ... kita hanya perlu waktu, sampai Raja dewasa dan setelah itu cita-cita kita akan terwujud."


"Ap-apa yang dia lakukan?"


Baru satu kalimat, tapi suasana ballroom sudah mulai riuh dengan bisik-bisik para tamu yang dibuat bingung sekaligus penasaran. Tanpa perlu dijelaskan, mereka bisa tahu bahwa suara itu milik Gilsa. Lampu yang hingga kini belum menyala juga seolah menjadi penyelamat untuk menyamarkan wajah Gilsa yang memerah.


"Sampai kapan? Aku hanya menjadi figuranmu ... bahkan kedua anak kita tidak mengenaliku sebagai ayahnya, kau memang tidak berperasaan, Gilsa!!"


"Sabar, sedikit lagi dan kumohon jangan mengacaukan langkah yang sudah kita tata sejak lama!! Raja sudah beranjak dewasa. Kita hanya perlu menunggu sampai Mas Atma memberikan perusahaan dan seluruh harta pada Raja dan Arjuna, kau paham?"


Gawat, celaka besar dan kini Gilsa benar-benar menantang maut. Dia masih ingat betul, itu adalah percakapan antara dia dan Panji setelah pria itu lancang mendantangi rumahnya. Entah kenapa bisa sampai pada orang lain, hancur sudah dirinya kini.

__ADS_1


"Hentikan!! Siapapun itu, kenapa kalian diam saja? Yudha!!!" teriak Gilsa melangkah tanpa arah, dia mengumpat dan meminta Bima untuk diam dengan kalimat kasar yang cukup membuat para tamu sedikit terkejut.


"Tapi sampai kapan? Aku lihat Atma lebih percaya kepala anak yang dia dapatkan dari pelaccur itu bukan?"


"Bima hentikan!!!"


Dia tidak tahu bagaimana kacaunya situasi saat ini. Bagaimana kedua putranya, Gilsa sudah tidak peduli lagi. Yang dia pikirkan saat ini hanya rasa malu, dia ingin Bima berhenti, itu saja.


"Aku sudah memintamu melenyapkannya, tapi kau saja yang bodoh, Panji!!"


"Mas, kenapa kamu diam saja? Bantu aku, Mas!!"


Bisik-bisik para tamu semakin riuh saja, padahal masih terjebak dalam gelap dan mereka sangat betah. Air mata sudah membasahi wajah Gilsa, besar kemungkinan make-up tebal yang menutupi kerutan di wajahnya sudah luntur.


"Hentikan, Bima!! Kumohon!! Kau berani berulah padaku anak sial?!" hardik Gilsa masih terus berjalan tanpa arah, hingga kurangnya pencahayaan membuat dia terjatuh ke lantai.


"Ah kasihan, sepertinya Mama butuh penerangan ... aku benar-benar tidak peka."


Dunia mendadak berubah, tidak ada lagi kekaguman di mata orang-orang ketika menatapnya. Yang ada hanya cemooh berkepanjangan, Gilsa beralih menatap suami dan kedua putranya.


Mereka masih berada di tempat, dengan Raja yang memalingkan wajah kala Gilsa menatap ke arah mereka. Dia berharap Raja dan Arjuna segera berlari, dia ingin kedua putranya pergi dan tidak mendengar rahasia tentang dirinya lebih jauh.


Namun, tidak peduli bagaimana dirinya berteriak meminta mereka pergi, sama sekali tidak ada yang mengindahkan perintah Gilsa. Benar saja, yang tadi Bima lakukan hanya pembukaan, memasuki intinya Gilsa bahkan tidak lagi memiliki keberanian untuk mengangkap wajahnya.


"Awalnya aku tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga kalian ... tapi, karena papaku terlalu bodoh, sepertinya aku perlu bertindak," ucapnya sembari tertawa kecil, entah dimana Bima kini berada yang jelas Gilsa ingin sekali menghabisi nyawanya.


Bima membongkar perselingkuhan yang Gilsa lakukan selama tiga puluh tahun tanpa sisa. Pengakuan dari Panji secara langsung serta bukti-bukti yang dia miliki membuat Gilsa tidak bisa mengelak lagi. Hingga tiba waktu dimana Bima mengakhiri pertunjukannya dan mempersilahkan para tamu dan awak media untuk segera pergi.


.

__ADS_1


.


Sunyi, dalam sekejap Bima mampu mengubah suasana. Menyisakan beberapa orang di sana, Papa Atma berusaha mengatur napas seraya menahan rasa sakit di bagian belakang kepalanya.


Detik itu juga, Gilsa kembali menghambur pada sang suami demi menyita simpati. Sudah terduga bagaimana reaksi Papa Atma, jelas saja penolakan bahkan dia mendorong tubuh sang istri hingga terhuyung cukup jauh.


Mirisnya lagi, Raja dan Arjuna justru tak peduli dan tenggelam dalam kesedihannya sendiri. Keduanya menangis dalam diam dan mencoba memahami keadaan, tidak pernah merasakan sakit dan kecewa pada sang mama, kali ini mereka seakan dibuat hancur sehancur-hancurnya.


"Papa ingin melihatku bukan?"


Hingga, Gilsa menyadari kedatangan seseorang yang telah menginjak harga dirinya. Bima, pria itu mendekat dengan langkah pelan yang kemudian menjadi objek kemarahan Gilsa.


"Kau membuatku malu, maka artinya kau siap mati, anak haram."


Tanpa pikir panjang dia meraih botol wine sebelum kemudian menghampiri Bima. Yudha yang melihat hal itu sontak bergerak cepat. Namun, sayang semua terlambat kala dia mendengar pecahan botol bersamaan dengan suara berat dari pria yang kini terjatuh dalam pelukan Bima.


"Pa? Papa!!


"Papa!!"


Tidak hanya Yudha, tapi Raja dan Arjuna juga melakukan hal yang sama. Darrah yang bercucuran ke lantai semakin membuat ketiganya panik, meninggalkan Gilsa yang saat ini terdiam dengan bola mata membulat sempurna menatap pemandangan di hadapannya.


"Dasar monster!! Mama memang menyeramkan, kenapa aku harus lahir dari rahimmu!!"


"Raja ...."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


Mau tanya, apa notif up-ku tidak masuk lagi sejak dilebel End?


__ADS_2