
Usai mengingat hingga kepalanya terasa sakit, Bima mendatangi kediaman Kenzo. Sudah tentu tujuannya untuk menanyakan alamat Lengkara, seyakin itu dia bisa menemukan Lengkara dengan mudah. Padahal, belum pasti juga bahwa Lengkara akan menerima kedatangannya.
"Bukan teman adikku ternyata, kau yakin tidak salah?"
"Bukan temannya bagaimana? Jelas-jelas tadi malam ada di pesta adikmu, Kenzo."
Kenzo bertanya baik-baik, tapi Bima justru meninggi seolah tengah terlilit hutang, sensi. Jelas saja hal itu membuat Kenzo terkekeh, dia bingung apa penyebabnya, Bima datang tiba-tiba bermodalkan foto seorang wanita yang tengah tertidur pulas.
"Aku sudah tanyakan pada Caren, dan dia tidak mengenal Lengkara yang kau maksud."
"Ken ... jangan bercanda, aku benar-benar butuh alamatnya," ucap Bima gusar, dia bingung sekali harus bertanya kemana sementara petunjuk yang dia punya hanya adik Kenzo saja.
"Astaga, Bima sejak kapan aku bercanda?"
Kenzo sudah seserius itu, dan memang dia tidak berbohong Caren tidak mengenal Lengkara. Namun, Bima yang kini tampak putus asa seketika membuat Kenzo penasaran, seingat Kenzo pria itu tidak memiliki kekasih ataupun saudara perempuan yang bisa membuatnya gusar begitu.
"Ken tolong tanyakan sekali lagi, aku tidak punya tempat bertanya dan tadi malam kami tidak sempat bic_"
"Oh aku mengerti, kau belum membayarnya?"
Bima menghela napas kasar seketika. Senyum tipis Kenzo yang mengejek dirinya benar-benar membuat Bima murka, sungguh. Kenapa pikiran semua orang sependek itu? Sama sekali tidak Bima sadari jika tanda di lehernya adalah pemicu pertanyaan semacam itu tertuju padanya.
"Santai, kau sudah dewasa ... lagi pula sah-sah saja, jangan terlalu kaku, Bim."
"Aku bukan dirimu, Kenzo."
__ADS_1
Kenzo menggangguk pelan, masih dengan senyum tipis yang seolah mengejek Bima. Maklum saja, sejak menempuh pendidikan Bima sekaku itu seolah tidak memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Yang ada di otaknya hanya belajar dan menjadi yang terbaik demi membuat bangga orang tuanya.
"Ken, kenapa cuma begitu?"
"Akan kutanyakan lagi ... apa kau ingat dia datang bersama siapa? Siapa tahu Caren mengenal teman atau kekasihnya," tutur Kenzo mencari jalan keluar untuk Bima, siapa tahu wanita yang membuat Bima menghilang semalam memang begitu berharga baginya.
"Aku tidak tahu, tapi yang kuingat dia datang bersama gadis berambut pendek dan duduk di samping badjingan dengan kemeja hitam dan lebih muda dari kita." Begitu jelasnya, dia tidak tahu nama pria yang mengaku kekasih Lengkara, yang jelas badjingan saja.
"Badjingan? Kemeja hitam? Dia tidak ingat rata-rata pakai kemeja hitam," ungkap Kenzo dalam hati, seketika kepala pria itu sakit saja.
Jika tahu Bima akan terjerat skandal semacam ini mungkin dia tidak akan meminta Bima datang dengan harapan pria itu akan membuka hati untuk adiknya.
"Kumohon, Ken ... aku tidak akan pulang sebelum bertemu dengannya."
"Hm, kau pulanglah nanti kuhubungi," tutur Kenzo menenangkan Bima, padahal dirinya sendiri tidak yakin bisa menemukan alamat wanita yang dia maksud.
"Memalukan, kenapa harus begitu, Ra? Apa tidak ada cara bertemu yang elegan sedikit?" tanya Lengkara menatap cermin, bayangan dirinya benar-benar menyedihkan.
Mencoba lupa, tapi selalu dia ingat. Bayangan dirinya yang menyerang Bima bertubi-tubi terekam jelas. Bahkan Bima berteriak meminta Lengkara berhenti juga terbayang jelas.
"Jangan mendekat!! Berhenti di sana!!"
"Kenapa? Mas menolakku lagi kali ini?"
Begitulah awal dari bermulanya serangan Lengkara. Wajah panik Bima yang berusaha menahan wajahnya begitu khas, persis seperti dia menghindari Lengkara di malam pertama.
__ADS_1
"Sakit, Lengkara!!" teriak Bima dan mencoba bangkit, tapi secepat itu juga Lengkara memeluk lehernya dari belakang.
Bima sempat berlari, kamar itu cukup luas dan jelas saja Lengkara tidak akan pernah melepaskannya. Sembari menatap Bima dengan tatapan tak terbaca dan tangis yang meminta Bima mendekat, dia terus berusaha meraih kemeja bagian belakang Bima.
Tanpa pikir panjang, dia menarik paksa Bima dan menghempaskan tubuh pria itu di atas tempat tidur. Entah dari mana dia mendapatkan ilmunya, tanpa pikir panjang Lengkara mengunci tangan Bima di atas kepala.
"Aku lelah, Ra ... menjauhlah atau kau mau aku ikat?" Ancaman semacam itu tidak berpengaruh sama sekali, jangankan takut dia justru tersenyum dan kembali melampiaskan kekesalannya di sana.
"Kok kasar? Papaku saja tidak," rengeknya yang membuat pria itu pasrah, bahkan ketika rasa asin dari darah yang keluar di lukanya Bima tidak lagi berani mengancamnya.
Tiga tahun tidak bertemu, bahkan berpikir untuk bertemu saja tidak. Kenapa bisa dia segila itu? Apa dendam pernah ditolak di malam pertama melekat sedalam itu? Sama sekali Lengkara tidak mengerti, apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
"Ya sudahlah, lagi pula aku mabuk ... arti mabuk, 'kan tidak sadar, benar begitu, Lengkara?" tuturnya meyakikan diri, tidak perlu diumbar, jika dia diam maka tidak akan malu. Dan juga, bukankah Bima begitu mudah diperdaya? Dengan dia yang pura-pura lupa semalam, sudah cukup sepertinya.
"Tenang, Ra, selagi kau jaga mulut maka aibmu aman."
Beberapa detik dia tenang, suara bel membuat Lengkara terperanjat. Penampilannya benar-benar persis korban tersengat listrik, dia berusaha merapikan penampilannya lebih dulu sebelum keluar.
"Jackson kah? Aku akan menghabisimu hari ini!!"
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1