
"Ron ... Rona!!"
Lengkara menjerit bersamaan dengan mata yang kini membulat sempurna. Butuh waktu untuk Lengkara memahami situasi, dimana dia dan sedang bersama siapa saat ini. Tidak ada Rona di sisinya, dirinya tidak pula tengah disandera seperti mimpinya, melainkan di sebuah kamar hotel.
Syukurlah, semua hanya mimpi. Namun, tenangnya Lengkara tidak bertahan lebih dari lima detik kala menyadari tangan dan kakinya terikat. Mimpi Lengkara menjadi nyata? Kenapa secepat itu? Jika mimpi indah Lengkara bisa terima, tapi ini mimpi disandera.
Pikiran Lengkara mulai kemana-mana, dia mengatupkan bibir lantaran khawatir jika seseorang yang menculiknya. Bukan tanpa alasan dia berpikir sejauh itu, kakaknya dahulu pernah menjadi tawanan pria yang berniat menuntut balas.
Ya, meski pada akhirnya berbuah manis, bukan berarti Lengkara bercita-cita kisah cintanya persis Mikhayla. Sungguh, sama sekali dia tidak ingin hal itu terjadi. Pelan-pelan, Lengkara berusaha sendiri untuk melepaskan dasi yang mengikat pergelangan tangannya.
"Siallan, dia pikir aku sejenis kera atau apa? Kenapa harus diikat berkali-kali begini ya Tuhan!!"
Lengkara belum berhenti berusaha, hingga tangan seseorang tiba-tiba berusaha melepaskan ikatan itu. Lengkara masih terpaku, antara takut dan hendak berterima kasih. Perlahan dia mendongak, hatinya tersentak melihat wajah pria yang menjadi alasan dia benar-benar pergi sejauh ini.
"Mengumpat tidak akan menyelesaikan masalah," ucapnya tanpa menatap seperti biasa.
Sama sekali belum berubah, cara bicara dan ekspresi wajahnya masih sama. Konsisten sekali, tiga tahun berlalu tidak ada yang berubah, bahkan gaya rambutnya masih sama.
Lengkara masih bergeming, hingga ketika Bima melepas ikatan di pergelangan kakinya juga demikian. Seolah masih dalam pengaruh minuman, dia bingung sendiri dengan apa yang terjadi.
"Kamu yang melakukannya?"
Bingungnya Lengkara tidak membuat kekesalan dalam benaknya berkurang. Pria itu tiba-tiba membawanya ke hotel dan diikat layaknya hewan liar, sudah pasti Lengkara butuh penjelasan.
"Terpaksa, kamu benar-benar liar semalam," jawab Bima mundur beberapa langkah, sedikit bingung mencari kalimat yang cocok untuk Lengkara, tapi fakta semalam dia liar.
"Li-liar?" tanya Lengkara mengerjap pelan, liar yang bagaimana hingga Bima sampai mengikat tangan dan kakinya.
"Iya, sangat-sangat liar."
Bima tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Ekspresi Bima seketika membuat Lengkara menatap dirinya, memastikan bahwa pakaiannya masih melekat sempurna. Pertanda jika dia tidak melampaui batas, tapi liar yang bagaimana? Lengkara masih berusaha mengumpulkan kepingan ingatan semalam.
__ADS_1
"Liar yang bagaimana jika boleh tahu?"
"Kamu lihat ini? Menurutmu bagaimana?" tanya Bima memperlihatkan tanda kepemilikan yang dia dapatkan semalam, tepatnya tanda penyiksaan mungkin.
Lengkara mengatupkan bibir kala menyadari bekasnya separah itu. Tidak hanya memerah, tapi juga luka dan itu terlihat nyata. Bisa dipastikan perih, detik itu juga Lengkara memerah dan memalingkan muka.
Perlahan tapi pasti, dia mengerti alur kenapa dia bisa berada di sini. Mulai dari pertemuannya bersama Jackson hingga dia yang panik menghadapi sikap pria itu.
"Ingat?" tanya Bima setelah Lengkara berpikir cukup lama, tatapan Bima seolah tengah menunggu sadarnya Lengkara.
"Tenang, Lengkara ... bukankah semua masalah ada jalan keluarnya?"
"Entahlah, aku tidak ingat, tapi sepertinya itu bukan bekas gigiku."
Telanjur malu, lebih baik-baik pura-pura bodoh saja. Mana mau dia mengakui kegilaan semalam, dimana juga otaknya hingga segila itu menyerang Bima.
Tidak lagi menjawab, Bima hanya menghela napas panjang. Pria itu memilih duduk di sofa dengan posisi membelakangi Lengkara. Sejuta pertanyaan yang ingin Bima utarakan mendadak lupa dan dia bingung hendak bicara apa.
.
.
"Kamu apa kabar?"
Bima seolah tidak mendengar pertanyaan Lengkara dan justru kembali membuka pembicaraan. Dia tahu makna pertanyaan menanyakan tas, sudah jelas ingin pergi seketika.
"Baik, kamu sendiri bagaimana?" tanya Lengkara kemudian, dia masih berdiri di belakang Bima, niatnya untuk segera meninggalkan kamar ini tampaknya dia urungkan.
"Baik juga."
Lama terdiam, interaksi mereka mendadak canggung. Mungkin karena kini mulai serius, Lengkara meremmas jemarinya dengan mata yang mencuri pandang Bima di sana. Ingin dia dekati, cukup banyak yang perlu Lengkara tanyakan. Tidak hanya perihal Bima sendiri, tapi juga Yudha.
__ADS_1
"Syukurlah ... ehm mas Yudha bagaimana? Baik, 'kan?" tanya Lengkara kemudian.
"Yudha baik-baik saja, perusahaan lebih baik sejak dia yang memimpin dan papa sanggat bangga padanya."
"Benarkah?" Lengkara mendekat, dia kembali ingin memastikan yang dia dengar tidak salah. Yudha kembali seperti semula, dan mimpinya sebagai putra seorang konglomerat benar-benar menjadi nyata.
"Iya benar ... Yudha telah berhasil menata diri, tapi kenapa kamu justru begini?" Bima benar-benar salah paham, dalam bayangannya Lengkara hidup bebas hingga dia menggila seperti semalam.
"Begini? Begini bagaimana maksudnya?"
"Ya seperti tadi malam ... sebebas ini pergaulanmu dengan lawan jenis, Lengkara? Sekalipun dia kekasihmu, tapi pantaskah semesra itu di tempat umum? Dan juga, apa mabuk dan jatuh ke pelukan laki-laki jadi kebiasaanmu sekarang?"
Pertama kali Lengkara melihat Bima meluapkan amarah dengan suara bergetar bahkan nyaris terputus, dahulu tidak pernah. Sekalipun dia memang terkadang kasar jika terbawa emosi, tapi untuk yang kali ini berbeda.
"Tolonglah, Lengkara ... semula aku berpikir dengan menjatuhkan talak maka hidupmu akan lebih baik!! Jika tahu begini aku tidak akan pernah melakukannya sekalipun seumur hidup di otakmu hanya Yudha!!"
Ucapan Bima semakin jauh, Lengkara yang malas berdebat memilih beranjak dari sofa. Dia mengerti maksud Bima apa, pria itu menyesali keputusannya lantaran mengira jika Lengkara tidak baik-baik saja setelah perceraian mereka.
"Tidak perlu disesali ... percayalah tiga tahun aku di sini, semalam adalah yang pertama dan bukan mauku."
"Jika membahas masalah itu, aku juga berhasil menata diri dan berdamai dengan luka yang menyeret kita bertiga ... aku, kamu dan mas Yudha tidak lebih dari sekadar pelajaran, Mas."
Lengkara menghela napas perlahan, cukup berat sebelum dia mengutarakan hal ini. Mungkin akan menyakiti, tapi dugaan Bima sudah tentu harus dia tepis.
"Aku berusaha sangat keras, aku kuliah di dua kampus impianku sewaktu SMA dan sebentar lagi selesai semua ... selain itu, aku juga sudah mulai bekerja jadi tidak ada waktu meratapi luka yang seharusnya memang dikubur dalam-dalam."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1