
Saat ini Lengkara hanya butuh dilindungi, Bima mengerti dan bukan waktunya dia marah. Sebenarnya bisa saja Bima melontarkan kata-kata kualat pada Lengkara yang sempat menganggap remeh kekhawatirannya, tapi sifat semacam itu bukan Bima sama sekali.
Tanpa bertanya lagi, Bima memilih hotel tempatnya menginap sebagai tujuan. Beruntung saja dia memutuskan pindah hotel dengan alasan agar jarak keduanya lebih dekat dan mudah berjumpa esok hari. Ya, begitulah pikiran Bima, padahal hotel sebelumnya juga tidak sejauh itu.
Dia juga tidak bisa menyalahkan Lengkara sepenuhnya, terlebih lagi selama ini memang Gery tidak mengusiknya menurut penuturan Lengkara. Kendati demikian, bukan berarti Bima hanya akan diam mendapati Lengkara mendapat perlakuan tak senonoh oleh dua pria berturut-turut semacam ini.
Sementara Lengkara membersihkan diri, Bima kembali menghubungi seseorang di sana. Cukup lama dia menunggu, agaknya Lengkara butuh waktu lama hanya untuk sekadar membersihkan diri.
Sedikit bingung, apa yang Lengkara pikirkan hingga setelah dia tinggal pergi Lengkara masih begitu. Jangankan istirahat seperti katanya, mandi saja belum. Sungguh, watak Lengkara yang pembangkang dan keras masih begitu melekat, pikir pria itu.
"Lama sekali, apa dia menangis seperti yang di drama-drama itu?"
Bima membatin kala Lengkara muncul dengan rambut basah dan bathrobe yang membalut tubuhnya. Jika Bima ingat-ingat, sudah lebih dari tiga puluh menit, jelas saja Bima berpikir jika Lengkara menangis di bawah guyuran air seperti adegan di sebuah drama yang kerap saudaranya tonton di akhir pekan.
Sejak tiba di hotel Lengkara tidak begitu banyak bicara. Mungkin lelah menangis dan yang ada di pikirannya saat ini hanyalah tidur saja. Namun, dia tampak kebingungan dan panik dalam satu waktu, Bima yang sejak tadi memantau pergerakannya tentu paham apa yang Lengkara risaukan.
"Mas," panggilnya kemudian, mungkin sudah berada di titik putus asa dan bingung harus bagaimana.
"Hm, kenapa?"
"Basah," tuturnya terlihat ragu, wajah Lengkara memerah dan kini meremmas jemarinya, bisa dipastikan betapa besar penyesalan Lengkara dari raut wajah yang dia perlihatkan pada Bima.
"Pakai saja bajuku, aku rasa muat di tubuhmu," ucapnya santai, sudah dia duga Lengkara akan melakukan hal itu.
Kebiasaan sejak dahulu, terutama ketika dirinya kacau. Bahkan, dahulu Bima kerap kali kena getahnya akibat Lengkara yang melucuti pakaian di kamar mandi dan lupa memungutnya.
"Yang mana?" tanya Lengkara kemudian, mana mungkin dia memiliki keberanian membuka koper Bima, andai masih jadi istrinya mungkin saja.
Tidak akan selesai jika hanya Bima tunjukkan, pria itu beranjak turun tangan sendiri dan memilih pakaian yang sekiranya pas untuk Lengkara. Tanpa Bima duga, turut menghampiri dan melihat isi koper Bima dari dekat.
"Jangan kemeja panas," ucapnya kala Bima memegang kemeja biru muda di sana.
__ADS_1
"Ini?"
"Apa bedanya sama yang tadi ... baju kamu sama semua, beli kodian ya, Mas?" tanya Lengkara memerhatikan pakaian Bima, hendak membantah memang wajar saja Lengkara bertanya seperti itu.
"Lalu yang mana? Aku tidak bawa daster, Lengkara."
Sejak tadi pilihannya selalu salah, jelas saja Bima menyerah dan meminta Lengkara untuk mencari sendiri apa maunya. Pilihan Lengkara jatuh pada baju tidur yang memang paling nyaman menurut Bima, pilihan keduanya sama soal ini.
"Aku mau yang ini, tapi celananya mana, Mas?" tanya Lengkara mulai lelah setelah berusaha mencari pasangan bajunya, sementara Bima kini menunduk dan mengu-lum senyum kala menyadari apa yang dia kenakan.
"Kupakai," jawabnya santai yang membuat Lengkara kecewa setengah mati, dia menatap datar Bima yang tertawa sumbang seakan hal itu benar-benar lucu.
"Kenapa tidak dari tadi bilangnya ... terus aku gimana?"
"Ya gimana? Mana mungkin mas yang ganti," ucap Bima menggeleng pelan.
Baiklah, Lengkara mengalah dan tidak pembangkang kali ini. Sudah terlalu larut untuk mencari cara lain, dan tidak mungkin juga dia tidur tanpa mengenakan celana. Alhasil, pakaian itu terbagi di tubuh yang berbeda, hanya malam ini besok pagi tidak lagi.
Tidak ingin Lengkara terlalu lelah, Bima memintanya beristirahat segera. Setelah berdebat cukup lama, Bima memutuskan untuk tidur di ranjang yang sama, tapi dengan koper di tengah mereka.
.
.
"Kualat kenapa?"
Sejak tadi Bima Bima berusaha memejamkan mata dengan tangan yang juga dia jadikan bantal. Pria itu menoleh ke arah Lengkara yang ternyata masih sesedih itu, Bima pikir tidak lagi.
"Kualat karena pembangkang sama kamu," jawabnya sedikit lesu, dia juga ingin tidur, tapi ternyata tidak semudah itu.
"Tidak ada yang namanya kualat, Ra ... kejahatan bisa menimpamu kapan saja," jawab Bima lembut, walau mungkin memang benar, tapi dia tidak akan memojokkan Lengkara atas bencana yang dia alami.
__ADS_1
"Mulut kamu berbisa sepertinya," tambah Lengkara lagi, walau Bima membantah dia tetap percaya bahwa dia memang kualat.
"Kamu pikir ular atau bagaimana ... jangan menyalahkan diri sendiri, tapi lain kali nurut sama suami."
Mudah sekali dia bicara, Lengkara sontak menoleh kala mendengar ucapan Bima. Dia khawatir salah dengar, tapi rasanya tidak dan memang sejelas itu Bima menyebut dirinya suami.
"Mas tadi bilang apa?" tanya Lengkara kemudian, dia penasaran dan ingin mendengar sekali lagi.
"Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Bukan yang itu, setelahnya."
"Yang mana?" tanya Bima membuat Lengkara kesal sendiri, ingin rasanya dia mengangkat koper besar itu dan meletakkannya di atas perut Bima.
"Lain kali nurut kalau dibilangin."
"Bukan begitu awalnya, jangan diubah-ubah, aku mau versi originalnya," pinta Lengkara benar-benar penasaran, sungguh.
"Lain kali nurut sama suami," jawab Bima sedikit bergumam di bagian akhir, sengaja agar Lengkara naik darah sepertinya.
"Ck apasih, Mas!! Nurut sama apa?"
"Suami," tegas Bima kemudian membuka mata dan menatap Lengkara yang juga tengah menatapnya.
"Oh suami, tapi, 'kan mas mantan, bukan suami lagi ...."
"Jika mas meminta, apa masih ada kesempatan untuk bisa menjadi suamimu lagi, Ra?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -