Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 44 - Jangan Kasih Obat Tidur


__ADS_3

Jika Yudha tengah merasakan kehangatan dalam rangkulan papa dan adik-adiknya, di tempat lain justru sebaliknya. Masih sama seperti pertama bertemu, Bima hanya bisa mencuri pandang Lengkara tanpa bisa mengajaknya bicara.


Hari telah berganti, dewi malam sudah menepis rona senja di ufuk sana. Usai menemani Lengkara makan, pria itu kembali mencari cara untuk menunda perpisahan. Seperti yang Yudha katakan pada papanya, dia tidak akan lama lagi di negara ini, Bima hanya khawatir tidak memiliki kesempatan untuk bisa bertemu Lengkara lagi.


"Malam ini ... lakukan saja, jangan ragu."


Sejak tadi Bima begitu betah dalam diamnya, baru kali ini pria itu mengeluarkan suara. Lengkara yang mulai menguap akibat perutnya terlalu kenyang berusaha tetap terjaga hingga nanti tiba di apartemennya.


"Cukup tangannya saja, jangan kepala," tambah Bima kemudian, sontak Lengkara mengerutkan dahi dan rasa penasarannya menggebu seketika.


Namun, niat Lengkara untuk bertanya mendadak dia urungkan lantaran khawatir Bima berpikir jika dia terlalu mencampuri urusan pribadi orang lain. Ya, dia memang orang lain dan Lengkara merasa tidak berhak tahu apapun tentang Bima saat ini.


"Mas ... aku kapan dianter pulang? Muter-muter, lupa jalan atau gimana?"


Sejak tadi dia sabar, tapi memang Bima persis orang linglung, jelas saja dia bertanya apa sebabnya. Terlebih lagi, Lengkara merasakan beberapa titik di tubuhnya mulai gatal karena memang belum sempat mandi.


"Kamu pindah tempat saja ya? Jangan tinggal di sana lagi."


"Apa? Pindah? Mana bisa begitu ... rugi," tolak Lengkara menggeleng cepat, sekalipun dia anak orang kaya, tapi papanya melatih Lengkara begitu keras sejak kecil, terutama masalah uang.


Bima hanya bingung hendak mengungkapkan kekhawatirannya bagaimana. Sama sekali dia tidak lupa jalan, jauh sebelum Lengkara hidup di negara ini, Bima sudah merasakannya lebih dahulu.


"Rugi bagaimana, Ra? Kalau kamu sendiri mas tidak masalah, tapi temanmu itu yang bermasalah."


"Mas, aku sama Rona dua tahun sama-sama dan selama itu juga kami aman saja ... Gery juga sering tidur di sana, tapi am_"

__ADS_1


"Papa tahu soal ini?" Bima menyela pembicaraan Lengkara. Dia yang tadi sudah resah semakin resah kala mengetahui bahwa pria itu kerap tidur di sana.


"Ya jangan sampai tahu ... sudahlah mas jangan buat runyam deh."


Dia terlihat gugup, terlebih lagi kala Bima melibatkan papanya. Memang sejak dahulu Lengkara jujur untuk banyak hal, tapi tidak untuk Rona dan juga kehidupan pribadi temannya itu.


"Bagus, pindah kalau begitu."


"Aku pulang sebentar lagi, tidak perlu pindah karena tetap akan pisah juga," jawab Lengkara sedikit malas, niat hati untuk bungkam dan mengelang saat ditanya kapan pulang oleh Bima, kini dia justru mengaku sendiri.


"Kapan?" tanya Bima dengan tatapan tak terbaca dan senyum tipis yang nyaris tak terlihat, entah untuk alasan apa dia bahagia saja Lengkara akan kembali ke tanah air.


"Kurang lebih tiga bulan lagi ...."


"Tiga bulan?" Masih cukup lama, kategori sebentar menurut Bima bisa dihitung hari, tidak selama itu.


"Masih lama, Ra," gumamnya mengusap wajah kasar, terlihat jelas jika Bima frustrasi mendengar jawaban Lengkara.


Bima menghela napas panjang, dia gagal meminta Lengkara pindah, maka sudah jelas harus dia gunakan cara lain. Walau Lengkara mungkin menganggap dia bukan siapa-siapanya dan tidak berhak atas diri Lengkara, tapi untuk peduli tidak melulu harus memiliki ikatan lebih dahulu.


Malam ini Bima ingin mengakhiri pertemuan mereka lebih dulu, sudah cukup lama jika dihitung-hitung, tidak seharusnya rindu masih egois dan merasa enggan berpaling dari wanita itu. Sayangnya, tiba di apartemen Bima seakan berat sekali berlalu dan masih terus berdiri di hadapan Lengkara seolah menunggu tawaran wanita itu.


"Mas mau masuk dulu?"


"Mau!"

__ADS_1


Secepat itu dia menjawab, padahal Lengkara hanya basa-basi karena merasa tidak enak hati. Sementara Bima yang tidak peduli Lengkara hanya berbasa-basi atau sungguhan, segera masuk dengan senyum tertahan di sana.


Tiba di sana, tentu Bima masih menyaksikan kebersamaan pasangan yang tadi menggila. Sedikit ada kemajuan, mereka telah berganti pakaian. Namun, ketika melihat Bima mereka bukannya pergi, melainkan masuk ke dalam kamar dan mengurung diri.


"Duduklah, mas mau minum apa?"


"Susu," jawab Bima sekenanya, agak sedikit lancang, tapi Lengkara terhibur dengan sikapnya.


"Tunggu di sana, jangan sentuh apapun!!" tegas Lengkara kala melihat Bima memandangi foto-fotonya yang dipajang di sana.


"Okay ...."


"Oh iya, mau susu coklat atau vanila?" tanya Lengkara lagi, dia memang terbiasa memberikan penawaran semacam itu pada teman-temannya.


"Apa saja, asal jangan kamu campur obat tidur lagi, Ra," ucap Bima tersenyum tipis, masih dia ingat jelas bagaimana Lengkara yang tampak ragu memasukkan obat tidur ke susu yang dia berikan malam itu.


Lengkara membeliak, mungkin terkejut kenapa bisa Bima mengetahui hal itu. Tanpa dia ketahui, setelah mereka bercerai rekaman CCTV di rumah mereka Bima tonton berulang-ulang.


"Ap-apa aku pernah begitu? Wah sepertinya Mas selalu memimpikan aku ya sampai menuduhku melakukan hal segila itu?" tanya Lengkara masih berharap bisa cuci tangan dari perbuatannya di masa lalu.


"Iya ... setiap malam, tiga bulan pasca perceraian kita aku selalu menangis dan tidak ada malam tanpa memimpikanmu, Lengkara."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2