Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 55 - Bukan Presdir


__ADS_3

Sesuai perintah, pagi-pagi sekali Bima kembali medatangi kediaman calon mertuanya. Bukan kali pertama mendatangi Papa Mikhail, tapi kini gugupnya berbeda. Selain karena gugup menunggu tugas apa yang akan dia terima, Bima juga khawatir tidak akan mampu memenuhi keinginannya.


Tidak tanggung-tanggung pengorbanan Bima, dia sudah bangun sejak fajar menjelang. Sesuai dengan arahan Zean, apapun yang akan dia terima ada baiknya berdoa lehih dahulu.


Meski tidak tahu tugasnya apa, tapi Bima tetap datang dengan pakaian rapi seperti biasa. Kemeja putih dengan jas hitam dan celana yang senada, penampilan layaknya seorang pemimpin perusahaan kala itu.


"Selamat pagi, Papa."


"Kau mau kemana pakai baju begitu?"


Belum apa-apa, Bima sudah mendapat pertanyaan semacam itu. Menandakan jika tindakan pertama yang dia ambil saja sudah salah. Bima mengatupkan bibir, dia bingung hendak menjawab apa kali ini, tapi yang jelas dia hanya punya satu jawaban pasti.


"Maaf, Pa ... aku tidak banyak bawa persiapan baju lain, hanya ini yang ada di koper."


"Ah begitu, masuklah."


Bima mengangguk patuh, dia mengekor di balik punggung pria itu. Tidak ada yang mencurigakan awalnya, Bima dipersilahkan duduk layaknya tamu sembari menunggu Papa Mikhail kembali.


Namun, beberapa saat kemudian firasat Bima mulai tidak baik kala pria itu membawakan baju ganti yang benar-benar bukan Bima sama sekali. Dia tahu pakaian sejenis itu pasti sangat panas, terlebih lagi di Jakarta, bisa meledak kepalanya.


Jika saat ini belum terasa, bisa dipastikan nanti siang. Kendati demikian Bima tidak memperlihatkan jika dia keberatan atau semacamnya, pria itu tetap mengenakan pakaian yang biasa Bima lihat ketika melewati pedesaan. Ya, pakaian seorang petani serta caping dan sepatunya.


Tapi kenapa pagi sekali? Bukankah setidaknya menunggu matahari meninggi, pikir Bima. Pertanyaan itu terjawab segera kala Papa Mikhail membawanya ke kandang ayam yang sedikit jauh dari rumah.


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan?"


"Papa mau aku melakukan apa? Jangan bilang membersihkan kandangnya? Ah shiitt yang benar saja ... bisa habis isi perutku."

__ADS_1


Bima tidak segera menjawab, mendengar riuh suara ayam dari luar dia sudah menduga-duga dan mengira Papa Mikhail akan sekejam itu padanya. Beruntungnya, sebelum Bima melontarkan pertanyaan tak mengenakan dia memberikan mangkok kecil yang diduga pakan ayam.


"Buka pintu kandangnya lalu tebarkan pakannya ke sana."


"Kenapa tidak diberi langsung di kandangnya saja, Pa?"


"Tidak bisa, ini ayam kampung jadi mereka harus merasakan kebebasan layaknya di kampung mereka ... anak-anaknya ada 18 dan kau harus lihat mereka makan adil atau tidaknya."


Agak sedikit mustahil, tapi Bima mengangguk pasti. Jika hanya tugas semacam ini jelas saja mudah, hanya beri makan lalu jaga anak-anaknya, Bima yakin betul bisa melewati tugasnya dengan baik pagi ini.


Papa Mikhail meninggalkan Bima usai memberikan kepercayaan semacam itu. Bima mulai menebar pakan ayam itu sesuai arahan, berkali-kali dia menghitung jumlah dan tentu harus memastikan mereka adil.


"Ck, kenapa mereka tidak bisa diatur ... hei itu bukan milikmu!!"


Bima terbawa suasana dan melangkah tanpa melihat jalan, hingga decitan anak ayam yang lain terdengar begitu dekat. Bima gugup dan perlahan mengangkat kakinya, sontak mata pria itu membulat sempurna kala menyaksikan salah-satu anak ayam calon mertuanya sudah tak berdaya akibat terinjak kakinya.


Tugas yang dia pikir akan cukup mudah, nyatanya justru berakhir tragis. Seekor anak ayam tak berdosa mati mengenaskan dan kini terkulai lemas kala Bima mengangkatnya. Pagi ini mungkin ayam yang pasti, besok dia.


"Bima kemari!!"


Panggilan dari Papa Mikhail membuat Bima bertindak cepat, tidak ingin terjebak dalam penyesalan dia membawa anak ayam itu ke hadapan Papa Mikhail. Bima berlari kecil menghampiri calon mertuanya yang tengah memantau di sana.


"Apa yang ada di tanganmu? Jeruk?" tanya pria itu karena memang tidak terlihat jelas bentuknya kala Bima baru tiba.


"Ayam, Pa ... mati," ucapnya ragu seraya menyerahkan anak ayam itu pada Papa Mikhail, sontak kopi panas itu tersembur keluar.


"Ma-mati? Kenapa bisa mati?"

__ADS_1


"Tidak sengaja kuinjak, Pa."


Jujur sekali dirinya, sejak dahulu Bima memang lurus-lurus saja. Jadi, dia yang jujur pada Papa Mikhail bukan karena tengah cari muka, tapi memang sejak lama begitu wataknya. Atmadjaya selalu menekan Bima untuk jujur dalam segala hal, tidak boleh ada kesalahan yang ditutup-tutupi demi melindungi diri.


"Ya Tuhan ... baru tugas pertama, apa yang terjadi denganmu, Bima!!"


Ingin marah, tapi sadar jika dia tidak diperkenankan semena-mena. Terpaksa, dia menerima kabar buruk itu dan meminta Bastian membuangnya. Melihat Bima yang belum apa-apa sudah menghilangkan nyawa hewan peliharaannya, Papa Mikhail meminta pria itu untuk istirahat saja.


"Burung tidak mau diberi makan juga, Pa?"


"Tidak!! Kau lepaskan nanti."


Padahal Bima sangat menyukai burung-burung peliharaan Papa Mikhail. Sewaktu Lengkara belum sadar dari koma, jika ada waktu Bima menyempatkan melihat kegiatan pria itu dengan hewan peliharaannya.


"Lalu apakah tugasku sudah selesai, Pa?" Kata orang, malu bertanya sesat di jalan, oleh karena itu dia bertanya walau tahu akan membuat Papa Mikhail murka.


"Selesai kepalamu ... baru permulaan," ucapnya kemudian kembali menyeruput kopi panas itu.


"Permulaan? Lalu yang sungguhannya bagaimana? Papa tidak pelihara sapi, 'kan?"


.


.


- To Be Continued -


__ADS_1


__ADS_2