Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 80 - Mengulang Kembali


__ADS_3

Sedikit terkejut, Bima didahului kaki tangan papanya. Mereka bergerak sangat cepat, agaknya sang papa tidak main-main. Seperti yang telah Bima dengar, papanya dengan jelas meminta kembali semua harta Bima selama berada dalam kekuasaan Papa Atma.


Tidak mengapa, dengan cara itu maka sama halnya Bima tidak memiliki hutang budi. Meski semua didapatkan dari usahanya, tapi bukan berarti Bima memiliki hasrat untuk merebut semua itu. Anggap saja impas, papanya mendidik dan menghidupinya sejak lahir, sebagai anak dia hanya berusaha berbakti sampai di titik tidak lagi dihargai.


"Kenapa tadi harus dipukul kalau akhirnya dikasih, Mas?"


Jika menyerang demi mempertahankan haknya, maka tidak masalah. Namun, yang Bima lakukan justru sebaliknya. Jelas saja Lengkara tidak habis pikir, terlebih lagi dengan cara itu Bima justru merasakan sakit akibat diserang balik.


"Mereka tidak sopan pada ibu, Ra."


Bima tetap menjawab meski meringis kala merasakan perih akibat lebam di wajahnya. Sama sekali tidak Bima duga jika orang-orang yang dahulu menundukkan kepala padanya akan berakhir seperti ini.


Kembali lagi, jawaban Bima membuat Lengkara mengatupkan bibir. Pria ini sangat-sangat mencintai ibunya, dia tidak rela kala pengawal papanya berbuat kasar bahkan membuat punggung ibu Runi terasa sakit.


Sama seperti Yudha, sedikit banyak mereka memiliki kesamaan dan Lengkara merasakan hal itu. Ya, di beberapa situasi, Bima benar-benar persis Yudha, si baik yang selalu mengharapkan dia baik-baik saja.


"Sayang, kita tidur di kamar ini mau?"


Lengkara sejenak terdiam, dia mengingat kamar ini adalah tempat dia bertemu Yudha setelah tiga bulan tidak menatap indahnya dunia. Pertemuan pahit yang menyisakan sakit dan tidak mungkin bisa dia lupa itu sedikit mengusik benak Lengkara.


Dia bukan ingin kembali, bukan pula tidak bisa berdamai dengan masa lalunya. Hanya saja, untuk beberapa hal memang ada yang tidak bisa. Lengkara takut, hatinya secara tidak sengaja berkhianat dan dia enggan menyakiti Bima tanpa sengaja.


Lengkara yang diam seolah mengungkapkan jika dia keberatan. Tanpa perlu menjawab, Bima mengerti keinginan sang istri. Tatapan sendunya sudah mewakilkan apa yang dia rasa, secepat mungkin Bima mengusap wajahnya.

__ADS_1


"Bercanda ... kita tidur di sebelah, dulu kamu pernah masuk, 'kan?"


"Iya."


Lengkara tersenyum tipis, dia ingat masa itu. Masa dimana hatinya benar-benar hancur dan marah dalam satu waktu. Begitu jelas dia ingat Bima memintanya mengganti baju padahal dia sendiri basah juga.


Perhatian kesekian yang Bima berikan, tapi kala itu hati Lengkara benar-benar buta dan di pikirannya hanya ingin marah. Bima yang pendiam dan tidak banyak bicara itu mengikuti keinginannya untuk pulang dengan alasan tidak ingin satu atap dengan Yudha. Padahal, sore itu hujan lebat bahkan begitu membahayakan jika nekat berkendara sendirian.


Terlalu dalam Lengkara mengingatnya, hingga wanita itu perlahan menatap lekat manik indah Bima. Mata tajam yang selalu menjaga batasan hanya karena merasa Lengkara bukan haknya. Sial, hal semacam itu justru membuat Lengkara jatuh cinta.


"Aku sangat menyayangi pria ini ya, Tuhan."


Semakin lama dia tatap, hati Lengkara kian menghangat. Entah sejak kapan dia berpaling, secepat itu tanpa dia ketahui. Apapun yang Bima lakukan demi dirinya sudah cukup untuk membuat jiwa Lengkara tergila-gila. Bahkan, dia kehilangan segalanya hanya karena wanita yang dahulu seegois itu dan tidak menghargai posisinya sebagai suami dengan sempurna.


"Iyaa, Sayang ... mau bilang apa?" tanya Bima mengusap wajahnya pelan, entah sudah berapa kali Lengkara kerap memanggilnya padahal mereka bahkan saling berhadapan.


Lengkara bergeming sebelum mengakhiri kegiatannya, tatapan tulus Bima kembali membuat Lengkara menghela napas panjang. "Tidak jadi, Mas," jawabnya lembut kemudian beranjak dari sisinya.


"Serius, Lengkara ... ada apa? Tolong katakan agar kita tidak salah paham."


Belajar dari pengalaman, mereka berawal dari salah paham. Tiga tahun terpisah demi damainya masing-masing juga karena salah menerka, kurangnya komunikasi dan tidak saling memahami.


"Aku sayang kamu, Mas."

__ADS_1


Bukannya menjawab, Bima mengerjap pelan dan memang butuh waktu untuk memahami keadaan. Tidak ada candaan di wajah Lengkara, dia benar-benar tulus mengungkapkan rasa sayangnya. Namun, seperti biasa pria itu agak sedikit kurang dalam merespon keromantisan Lengkara.


"Sudah kuduga, males banget," kesal Lengkara yang kini mencebikkan bibirnya, memang berharap apa dia dari seorang Bima.


Bima tertawa sumbang menatap sang istri yang tampak kesal luar biasa, dia hanya terkejut dan terlalu bahagia hingga bibirnya seakan kelu untuk menjawab ungkapannya.


"Kenapa ketawa?"


"Lucu lah, masih tanya," jawab Bima santai dan semakin membuat Lengkara naik darah, bukannya dibujuk justru dijadikan bahan candaan.


"Oh jadi Mas tidak sayang aku?" tanya Lengkara dengan intonasi yang sedikit berbeda, dia berkacak pinggang di ambang pintu.


Seolah dejavu, dia pernah merasakan di posisi ini sewaktu mereka masih menjadi pengantin baru. Hari pertama dia dibuat sakit kepala dengan sikap Lengkara yang sama sekali tidak dia duga. Siapa yang mengira jika sikapnya yang begitu ternyata menghadirkan rindu hingga menyiksa batin Bima selama tiga tahun lamanya.


Bima mendekat, berusaha meredam kemarahan sang istri yang tampak mulai memanas. "Sayang, sangat-sangat sayang," jawabnya persis, tidak ada yang berbeda begitu juga dengan perasaannya.


"Aku menyayangimu jauh sebelum kamu menyayangiku, Lengkara," ucapnya mengusap sebelum kemudian mengecup pelan bibir sang istri begitu lembut, kecupan yang selalu membuat darah Lengkara berdesir.


Jika sudah memulai, mana mungkin bisa berakhir. Lengkara mengalungkan tangan ke leher Bima sementara pria itu merengkuh erat pinggang ramping sang istri. Tanpa mereka sadari jika kini seseorang yang begitu mencemaskan keduanya tengah menjadi saksi jika cinta Lengkara benar-benar sudah berlabuh untuk Bima.


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2