
Apa yang terlihat memang tidak semanis kenyataannya. Setelah mendatangi sang kakak, Raja dan Arjuna merasa hubungan mereka semakin hangat. Beberapa hari terakhir, keduanya selalu membicarakan Bima di hadapan kedua orang tuanya.
Mereka benar-benar polos dan sama sekali tidak merasa ada yang aneh dalam keluarga mereka. Papa Atma bahkan mengira mereka akhirnya rukun setelah Bima menikah. Terlebih lagi, sejak dahulu Atma ketahui bahwa Bima tidak begitu menyukai kedua adiknya.
Begitu mendengar penurutan Raja dan Arjuna, jelas saja dia bahagia. Bukan hanya sebatas menerima Raja dan Arjuna sebagai adik, Papa Atma juga mengartikan sikap Bima yang perlahan menghangat sebagai cara sang putra menghargai dirinya.
Tidak hanya Papa Atma yang salah menduga, tapi Gilsa juga demikian. Sempat dibuat ketar-ketir kala kedua putranya pergi bersama Yudha untuk menemui Bima, setelah mendengar cerita Raja dan Arjuna akhirnya dia bisa bernapas lega.
Terlebih, Yudha tidak lagi lancang dan mulai bersikap sopan padanya. Dia kembali merasa merdeka dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tentang Panji yang tidak bisa dihubungi, sama sekali Gilsa tak peduli.
Bukankah itu adalah hal baik? Ya, tanpa kehadiran Panji maka sama kehidupannya akan baik-baik saja. Sama sekali Gilsa tidak memiliki keinginan agar Raja dan Arjuna mengenali ayah kandung mereka, hal itu cukup menjadi rahasia antara keduanya.
"Ehm, oh iya, Mas ... minggu depan adalah ulang tahun pernikahan kita, bagaimana jika kita rayakan sekaligus ajak Bima dan istrinya."
Senyum papa Atma memudar seketika, dia beralih menatap Gilsa yang tersenyum kikuk ke arahnya. Mungkin karena sikap dingin Atma akhir-akhir ini, agaknya dia memang masih marah besar atas perlakuan sang istri pada Bima.
"Benar, Pa, kak Bima pasti bersedia."
Raja yang bicara, dia terlihat antusias dengan ide mamanya. Namun, mata Papa Atma justru tertuju pada Yudha yang terlihat santai menikmati sarapan seakan tidak tertarik dengan pembicaraan mereka.
"Tapi_"
"Ayolah, Pa, sesekali tidak masalah ... lagi pula bukankah papa ingin kak Bima pulang ke rumah?" tanya Raja dengan tujuan membujuk sang papa, raut wajah Papa Atma begitu terbaca dan terlihat dia bingung mengambil keputusan.
Sikap Papa Atma yang seperti itu benar-benar membuat Gilsa tak suka. Dahulu, sang suami tidak pernah menolak apapun yang dia inginkan. Namun, saat ini dia terlihat berbeda dan terlalu banyak berpikir hanya untuk sekadar perayaan ulang tahun mereka.
"Tidak perlu, Papa tahu Bima tidak akan suka."
__ADS_1
Bukti nyata jika kedudukan Bima sudah berada di atas Gilsa. Sontak wanita itu mengepalkan tangan seraya mengeraskan rahang, demi apapun dia benci sekali pada sang suami pagi ini.
"Mas, biasanya juga kita merayakan dan semua baik-baik saja bukan? Ayolah, bukankah kita hanya perlu perbaiki komunikasi? Cara ini adalah salah-satunya, sekalipun Bima tidak suka, istrinya pasti tidak akan menolak."
"Tapi tetap saja, Gilsa, selama ini kita terlalu egois dan mengabaikan perasaannya," ujar Papa Atma sejujur-jujurnya, saat ini dia memang memiliki ketakutan jika apa yang dia lakukan akan menyakiti Bima.
"Mas, Bima sudah dewasa dan aku yakin dia pasti mengerti." Tidak ingin kalah, Gilsa masih mencoba meyakinkan sang suami.
"Benar, Pa ... Bima sudah dewasa, aku rasa hal semacam ini bukan masalah besar."
Setelah sejak tadi diam dan seakan tidak tertarik, Yudha angkat bicara dan hal itu berhasil membuat Gilsa mengerutkan dahi. Entah apa yang merasuki pikiran pria itu hingga menyetujui keinginannya, demi apapun Gilsa dibuat tersenyum dan berpikir jika putra Seruni yang satu ini benar-benar berpihak padanya.
"Kau yakin, Yud?"
"Yakin, Pa, untuk kali ini mama benar," jawab Yudha menatap sekilas wajah Gilsa yang tengah bersorak dengan bendera kemenangannya.
Sama sekali tidak mereka ketahui, jika sejak tadi Yudha mempertimbangkan segala sesuatu yang akan terjadi.
"Santai saja, Ma ... untuk kali ini serahkan saja padaku, ulang tahun pernikahan yang ke 29 harusnya sangat berkesan bukan?"
Gilsa berbinar, sementara Papa Atma justru mendelik kala mendengar ucapan Yudha. Bagaimana tidak, putranya justru melontarkan sebuah kalimat yang membuatnya semakin terpojok.
"Wah kau baik sekali, kau bahkan lebih mengerti dari papamu," puji Gilsa membanggakan Yudha, bahkan dia lupa bahwa sikap Yudha sempat membuat hatinya bengkak.
"Bagaimana, Mas? Yudha saja sudah bersedia loh."
"Terserah, aku ikut saja."
__ADS_1
.
.
"Melelahkan, sampai kapan aku terus bersandiwara semacam ini."
Demi mengikuti perintah Bima, setiap tiba di kantor Yudha selalu mengumpat dan berusaha meredam rasa muak dalam dirinya. Bagaimana tidak, selama tujuan mereka belum tercapai maka Yudha harus tetap bertahan dan bersikap sebaik mungkin di hadapan Gilsa.
Benar-benar melelahkan, aktor tanpa gaji yang harus mengikuti perintah sutradara banyak mau itu terkadang lelah juga. Pagi ini adalah puncak kekesalannya, dia harus berpura-pura baik demi membuat Gilsa terlena.
Yudha menghempaskan tubuh di kursi kebesarannya. Dia menghubungi Bima dan mengatakan jika semua sudah sesuai dengan perintahnya. Sungguh Yudha tidak habis pikir, bahkan hingga dirinya menjadi pemimpin perusahaan masih saja ada yang berani memerintahnya.
"Kau bercanda? Apa perlu mengundang mereka juga, Bima?"
"Hm, kenapa? Kau merasa ini berlebihan?" tanya Bima tampak santai usai membuat jantung Yudha berdegup tak karu-karuan.
"Tentu saja, tidak hanya Gilsa yang malu, tapi papa juga ... dan yang lebih mengerikan bisa jadi hal itu berdampak pada apa yang sudah papa bangun dari nol, Bima."
"Aku hanya ingin membalaskan sakit yang ibu rasakan, Yudha ... tidak perlu berhati malaikat untuk iblis seperti mereka."
"Tapi, Bim ... Bim tungg_ hallo? Astaga keras sekali hatinya," gumam Yudha kala menyadari Bima sudah memutuskan sambungan telepon secara sepihak usai memberikan perintah dengan resiko yang luar biasa mengerikan.
"Lakukan, jika kau tidak bersedia maka aku yang akan ambil alih."
Yudha menghela napas panjang begitu membaca pesan singkat dari Bima. Benar-benar pemaksa dan dia seolah kembali menjadi seorang asisten yang memiliki atasan seenak dengkul, "Dulu kakaknya, sekarang suaminya juga pemaksa, otakku mau meledak rasanya ya, Tuhan!!!"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -