Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 106 - Terlalu Kentara


__ADS_3

Hari yang dinantikan tiba, tepatnya dinantikan Bima. Sejak fajar menjelang dia sudah menghubungi Yudha untuk terus memantau apa yang terjadi dengan orang tuanya. Tidak peduli apapun itu, yang jelas Bima ingin tahu.


Sementara Gilsa justru sebaliknya, semalam suntuk dia tidak bisa tidur, otaknya seolah sakit dipaksa berpikir demi membuat Panji tidak datang. Dia mencoba menghubungi Panji berkali-kali, tapi hasilnya juga sama seakan diabaikan begitu saja.


Tidak berhenti di sana, Gilsa juga mencoba untuk menghubungi Panji menggunakan ponsel sang suami, tapi sialnya Atma justru mengganti password teleponnya. Benar-benar aneh dan berhasil membuat Gilsa semakin ketar-ketir.


Hingga kini, matahari mulai meninggi dan Atma sudah siap menyambut teman lamanya. Kebetulan akhir pekan, pria itu tidak ada kesibukan di luar sana. Hal ini jelas saja menjadi bencana, bagaimana tidak? Yudha juga berada di rumah.


"Pa ... mau pergi kemana?"


"Tidak kemana-mana, di rumah saja, Yud," jawab Papa Atma yang sejenak hanya Yudha angguki sebelum kemudian duduk di sana.


Lain halnya dengan Gilsa yang kini tengah sakit kepala dan berharap Panji tidak menunjukkan diri, Yudha justru sedikit kecewa karena tidak ada adegan saling hardik seperti yang dia harapkan. Sejak bangun pagi suasana rumah tampak aman-aman saja meski kedua adiknya belum menampakkan diri, entah pergi kemana.


Sayangnya, bukan situasi seperti ini yang Yudha mau. Dia sengaja tidak pergi keluar hanya demi menjadi mata-mata untuk Bima seharian penuh, tapi pertikaian itu sama sekali tidak ada. Entah karena Gilsa memberikan penawarnya pada sang papa atau bagaimana, yang jelas sebagai netizen, Yudha merasa penantiannya sia-sia.


"Tumben di rumah saja bajunya begitu, apa mau kencan sama Mama, Pa?" tanya Yudha tidak pada makna yang sebenarnya, dia hanya bercanda demi membuat Gilsa terpojok.


"Ck, kau ini ... seperti Papa tidak punya perkerjaan saja."


Tepat, itu jawaban yang Yudha inginkan. Dia tersenyum tipis seraya melirik mama tirinya lewat ekor mata. Jangan ditanya bagaimana perasaan Gilsa, jelas saja kesal luar biasa. Ya, Yudha memang sengaja cari perkara dan berusaha membuat wanita itu semakin tidak diinginkan oleh Papa Atma.


Tidak berhenti di sana, Yudha masih terus membuat suasana semakin menjadi panas dengan mempertanyakan masa muda mereka. Andai Papa Atma jawab dengan baik, mungkin Gilsa tidak akan marah.

__ADS_1


Sayangnya, hal itu justru berbanding terbalik dan yang keluar dari bibir Papa Atma justru terfokus pada masa-masa dirinya meniti karir, dan tentu saja hal itu terjadi ketika mereka masih berada dalam kandungan Bu Seruni.


.


.


Tidak berselang lama, Papa Atma menerima laporan dari seorang penjaga terkait tamu yang agaknya dia tunggu sejak tadi. Perhatian Yudha kini berganti, sang papa tampak bersemangat seolah tidak bertemu berpuluh tahun lamanya.


Tidak ingin ketinggalan berita sedikitpun, Yudha mengekor di belakang papanya. Sejak awal kedatangan pria itu, Papa Atma justru fokus mengenalkan Yudha dan belum membahas putranya yang lain.


"Wow!! Persis kau waktu muda, kalian seperti pinang dibelah dua," puji pria berkumis tipis itu, pujian yang cukup baik dan menyenangkan untuk didengar seorang anak.


"Haha benarkah? Aku bahkan lupa wajahku sewaktu muda," jawab Papa Atma seraya tersenyum dan menatap wajah Yudha sekilas, terkadang dia memang lupa jika pernah setampan putranya.


"Bisa saja kau ini ... ah iya, apa dia putramu bersama gadis culun itu?" tanya Panji yang seketika membuat Yudha mengerutkan dahi.


"Maksudku Seruni," ucap Panji membenarkan, tatapannya memang tertuju pada Atma, tapi dia mampu melirik wanita yang begitu cantik di matanya.


"Iya, aku dikaruniai anak kembar ... satu lagi di Jakarta ikut istrinya," jelas Papa Atma entah kenapa membuat Yudha mendadak merasa bersalah, tidak ada Arjuna dan Raja.


"Lalu yang lain? Kau bilang empat, mana lagi?"


"Ada, Raja dan Arjuna sepertinya keluar ... sejak tadi aku tidak melihat mereka," jawab Papa Atma kemudian.

__ADS_1


"Ah begitu, hidupmu sempurna sekali, Atma. Di antara kita, kau yang nasibnya paling baik, aku benar-benar salut padamu," puji Panji seraya memandangi rumah megah yang menegaskan jika pria itu memang bergelimang harta.


"Bisa saja, sementara kau terlihat awet muda. Rahasianya apa, Panji?"


"Aku memutuskan untuk tidak menikah, jadi kau tahulah rahasianya sekarang," ujar Panji disertai gelak tawa.


Dia disambut baik, papanya tampak ramah dan hangat sekali. Sesuai dugaan Yudha, mereka adalah teman lama. Namun, perhatian Yudha tidak lagi tertuju pada interaksi Papa Atma dengan seorang pria yang terlihat lebih muda dari papanya itu, melainkan mama tirinya.


Wanita itu terlihat berbeda, tidak hanya gusar dan gelisah, dia sampai bergetar serta berusaha memalingkan muka. Semua tertangkap jelas di matanya, tidak ada sedikitpun yang terlewatkan.


Hingga, di tengah fokusnya Yudha, ponsel pria itu bergetar. Sontak dia menghela napas kasar, batinnya mulai mengumpat dan menganggap Bima tidak sabaran. Belum juga satu jam, dan ini menyalahi perjanjian awal untuk menyampaikan apa yang dia dapatkan nanti malam.


"Kak Yudha, buka pintu ... kamarku dikunci dari luar."


Tebakan Yudha salah, bukan Bima yang menghubungi, melainkan adiknya. Jelas saja dia mengerutkan dahi, bukankah tadi papanya mengatakan jika Raja keluar? Lagi pula, cukup aneh jika sudah sesiang ini Raja masih di kamar.


"Kak cepat!! Teman-temanku sudah menunggu di lapangan."


"Dasar aneh, bagaimana bisa kau terkunci di kamarmu sendiri, Raja?" tanya Yudha pelan lantaran tidak ingin mengganggu papa dan tamunya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu ... kuncinya juga tidak ada di tempat biasa."


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2