
Bima masih terlena usai mendapat restu dari Mikhail, dia seolah lupa saat ini mungkin saja Papa Atma tengah mengutuknya. Tanpa merasa bersalah, dia duduk di sisi Hudzai yang cemberut lantaran merasa kesal padanya.
"Dzai ... jangan sedih, nanti kita berkebun lagi ya," tutur Bima mengusap pelan puncak kepala Hudzai. Selain tidak begitu pandai membaca perubahan seorang wanita, dia juga sedikit bodoh mengartikan raut wajah anak kecil.
"Siapa yang sedih, itu kebun Om bukan kebun Hudzai."
Dia marah, cara bicaranya berbeda meski mulut Hudzai tetap penuh dengan makanan manis yang Bima bawa. Lucu sekali, tidak jauh berbeda dengan Mikhail yang kini sudah berada di meja makan.
"Hudzai kenapa? Marah ya? Om salah apa, Sayang?"
Dia bertanya karena memang sama sekali tidak mengerti. Namun, bukannya mendapat jawaban, putra sulung Zean itu berlalu meninggalkan Bima yang bergeming menatapnya.
Tidak berselang lama, Ameera melewati Bima dan mengulas senyum tipis. Begitu juga dengan pria gemulai yang masih diragukan jenis kelaminnya, kemungkinan besar wanita itu baru pulang kerja. Seperti biasa, setiap kali melihat Ameera, pria itu justru merindukan Lengkara.
Lama sekali, haruskah dia terbang ke Amerika secepatnya? Setidaknya bertemu dan berada di sisinya tidak apa. Namun, di sisi lain Bima khawatir andai berdekatan dengan Lengkara, terlebih lagi kemungkinan besar mereka akan kembali tidur di ranjang yang sama.
"Dia sedang apa ya," gumam Bima menatap layar ponselnya, sudah lebih dari 24 jam Lengkara tidak menghubunginya, aneh sekali.
Belum selesai keterkejutan Bima dengan Ameera yang pulang lebih cepat dari biasanya, kini dia kembali dibuat terkejut dengan kehadiran tamu dari luar kota. Pasangan yang Bima jadikan sebagai panutan meski akhirnya gagal juga. Baru mendengar dia mengucapkan salam, Bima sontak beranjak dan menghampiri mereka.
"Kak," sapa Bima mencium punggung tangannya sebagai ungkapan hormat. Diterima memang, tapi kala Bima hendak melalukan hal yang sama pada wanita berhijab itu, sontak dia berdehem diikuti tatapan tajam khasnya.
"Lupa, maaf, Kak Zalina."
__ADS_1
Jika di hadapan Zean, Bima sedikit mampu membawa diri. Namun, jika di hadapan calon kakak iparnya yang satu ini, dia benar-benar dibuat bungkam dan merasa kalah dalam segalanya. Mata Sean yang tajam, tapi begitu meneduhkan dan suara yang tidak meninggi selalu berhasil membuat Bima bak endapan debu di lautan.
"Kau di sini, Bim? Yudha apa kabar? Baik-baik saja?"
"Baik, Kak."
Sungguh, entah kenapa Bima justru lebih berdegub berhadapan dengannya dibandingkan Mikhail. Entah karena pernah diceramahi panjang lebar usai menjatuhkan talak pada Lengkara, atau memang karena pembawaan pria ini yang berbeda.
"Syukurlah jika begitu, Papa diman_"
Belum selesai Sean bertanya, Zean juga tiba dan mengetuk pintu utama. Tidak hanya sendiri, tapi bersama istri dan juga kedua anaknya, sementara Hudzai memang menetap di rumah opanya.
"Woah kita kalah, dedek Andja sudah lebih dulu di sini ternyata." Enteng sekali dia bicara, Sean berbalik dan menatap tajam Zean yang kini menggendong putri kecilnya.
"Kau ... bisa berhenti memanggilnya Andja? Syauqi apa susahnya?"
"Lebih keren Andja ... benar, 'kan, Sayang?"
Zean mendekat, menyapa putra bungsu Sean yang kini sudah berusia tiga tahun. Junior Sean yang memiliki wajah serupa uminya itu tampak bahagia dengan panggilan Andja yang melekat dalam dirinya.
"Haura turun dulu, Nak."
Tanpa basa-basi, Syauqi merentangkan tangan seolah benar-benar merindukan Zean. Cucu Mikhail bertebaran, belum lima menit bersama suasana yang semula tenang kini mendadak ramai.
__ADS_1
Kehangatan mereka tidak lepas dari perhatian Bima, dia sama sekali tidak curiga kenapa semua saudara berkumpul dalam satu waktu. Beberapa kali Bima menguap hingga Mikhail memintanya tidur lebih dahulu, maklum saja Bima memang sangat wajar andai lelah.
Tiba di kamar, Bima bukannya tidur melainkan merenung. Sudah berkali-kali dia mencoba, tapi ingatannya selalu tertuju pada Lengkara hingga pria itu benar-benar tidak bisa terlelap walau sebentar saja.
Tidak, sampai kapan Bima terus menahannya. Dia tidak sekuat itu jika harus menunggu Lengkara yang menghubunginya. Hanya karena alasan rindu, ini adalah kali pertama Bima menelponnya lebih dulu.
"Angkat tolonglah," gumam Bima seraya menggigit bibir, kakinya sama sekali tidak bisa diam sembari sesekali mengusap kasar wajahnya.
Namun, berulang kali Bima mengulangi yang dia dapati hanya sia-sia. Apa mungkin Lengkara marah karena dia tidak peka? Ya Tuhan, jika iya maka Bima benar-benar perlu kursus menghadapi wanita sepertinya.
"Apa dia marah? Tapi Lengkara tidak pernah kekanak-kanakan." Pria itu berpikir keras, selama dia mengenal Lengkara memang benar wanita itu begitu dewasa dalam menjaga komunikasi dan ngambek dengan sengaja menghilang bukan gayanya sama sekali.
Pria itu menatap nanar ke luar jendela, dari kamar yang dia tempati dapat memperlihatkan jelas bagaimana pasukan kecil di luar sana main petak umpet. Sudut bibir Bima tertarik begitu tipis, andai saja dia dan Yudha tidak terpisah, mungkin kenangan semacam itu akan terukir meski hanya sekali dalam hidupnya.
Beberapa saat memandang, mata Bima tertuju pada wanita cantik yang tengah menggendong Syauqi di sana. Bisa-bisanya dia kembali merindukan Lengkara, apa karena mereka begitu mirip, pikir Bima kemudian menggeleng pelan.
"Tunggu ... rambutnya hitam," gumam Bima mengerutkan dahi dan berpikir keras, terlebih lagi baru beberapa waktu lalu dia melihat Ameera dan penampilannya jauh berbeda.
"Sudahlah, Bima!! Apa kau lupa bahwa di dunia ini ada wig," ucap Bima kesal sendiri dan memilih kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Jika dia teruskan, yang ada di otaknya memang hanya Lengkara saja.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -