Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
Bonus Chapter #3


__ADS_3

Jika kini Lengkara tengah bermanja dalam pelukan Bima, kedua putranya justru tengah menghabiskan waktu bersama opanya. Sakitnya Lengkara adalah kesempatan emas bagi Papa Mikhail. Bagaimana tidak? Dia bisa bebas bermain bersama kedua cucunya yang begitu menggemaskan itu.


Bukan dalam rangka 17 Agustus, tapi kini Papa Mikhail mengadakan lomba lari antar cucu-cucunya. Suasana kediaman Papa Mikhail sudah persis penitipan anak, ramai sekali. Mulai dari yang sudah bisa bermain tembak-tembakan, petak umpet, berenang, berkebun, cari telur ayam bahkan yang tengah aktif-aktifnya berjalan juga ada.


Sudah tentu yang dia jaga sepenuhnya adalah yang baru bisa berjalan, Dewangga dan Dewantara yang sama sekali tidak bisa diam walau sebentar saja. Cukup menguras tenaga, mereka yang berlari tapi Papa Mikhail yang basah akibat keringat bercucuran di tubuhnya.


"Dewangga!!"


Panggilan Papa Mikhail adalah sebuah pertanda yang membuat langkah Dewangga semakin cepat. Dia tidak sendiri, tentu saja bertemankan Dewantara yang terkadang ketinggalan di belakang akibat kerap kali terjatuh hingga lututnya terlihat memerah.


Pemandangan semacam ini adalah yang terbaik di mata Papa Mikhail. Maklum saja, sejak dahulu memang mereka menyukai anak kecil. Bahkan, Papa Mikhail kerap beberapa kali sengaja mendatangi panti asuhan yang didirikan Sean dengan alasan ingin menyaksikan senyum-senyum mereka.


Oleh karena itu, ketika Dewangga dan Dewantara lahir bahaginya luar biasa. Padahal bukan cucu pertama, tapi memang begitulah cara Mikhail menyambut semua cucunya, tanpa pilih kasih sedikit saja.


"Biarkan saja, Pa ... jangan digendong terus," tutur Mama Zia yang datang memberikan segelas air mineral untuk sang suami yang sejak tadi berada di taman belakang demi mengasuh para cucunya.


"Tapi lihat jalannya belum lancar, masih asal jalan semua ditab_ tuh, 'kan apa opa bilang!! Dewangga!!" teriak Papa Mukhail panik dan berlari menghampiri Dewangga yang sudah terperosok ke dalam rumpun pandan, persis kucing menerkam mangsanya.


Pria itu lengah sedikit, pengasuhnya yang mengawasi dari kejauhan sudah ketar-ketir dan bingung hendak berbuat apa begitu melihat tuan kecil mereka sudah diselamatkan. Entah apa yang Dewangga cari hingga tertarik masuk dalam serumpun pandan yang tumbuh subur di sudut halaman belakang.


"Ck, kalau mamamu tahu opa bisa dihukum, Dewangga," tutur Papa Mikhail kini menimbang cucunya, pemilik mata bulat dan tubuh berisi itu hanya tergelak seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Rasain!! Cubit sesekali, nakal nih buntelan kentut, Opa!!"


Jika Papa Mikhail setakut itu Dewangga merasakan sakit hingga menggendongnya saja begitu hati-hati, Ameera justru sebaliknya. Sungguh, dia gemas sendiri pada hingga tanpa sadar menggigit lengan gempal Dewangga.


Dewangga yang mendapat serangan dari Ameera, tapi yang terkejut dan menangis adalah Dewantara. Salah sasaran, mungkin dia mengira saudaranya tengah mendapat siksaan, hingga menangis sekencang itu.

__ADS_1


Terpaksa, Mama Zia membawa Dewantara menjauh agar sedikit lebih tenang. Sementara itu, Dewangga hanya menatap Ameera penuh tanya seolah butuh penjelasan apa maksudnya.


"Heum sakit, 'kan?"


"Tiiit," jawab Dewangga seraya mengusap pelan lengannya yang Ameera gigit. Memang tidak terlalu kuat, tapi bekas gigitan itu cukup nyata hingga Dewangga mencebik dan menatap mata opanya.


"Apa lihat-lihat? Mau opa tambahin? Sini opa gigit kepalanya," ancam Papa Mikhail yang membuat Ameera semakin bersemangat untuk mengusik ketenangannya, terlebih lagi putra Lengkara yang satu itu memang tidak mudah menangis.


"Kacian Dewangga mau digigit kepalanya sama opa hmm ...."


Mata bulat yang tampak sabar walau sudah dihujat itu masih terus berani menatap Ameera. Bahkan, dia diam saja kala Ameera kembali menggigit pahanya, pasrah seakan begitu menerima sekalipun Ameera gigit seluruh anggota tubuhnya.


"Sudah, Meera kasihan ... kamu pikir kebab atau apa?"


"Gemes, Pa, rasanya mau kumakan." Gigi Ameera sampai bergemelutuk seraya mencubit pipi gembul Dewangga.


"Ada-ada saja, Kara sudah pulang?"


"Sudah, Bima lagi di jalan ... mau jemput pacarku ini." Lagi lagi Ameera merubah suaranya dan mencium Dewangga hingga pipinya memerah.


"Hah? Masa dijemput, tidak boleh!!" Belum apa-apa, Dewangga sudah dilarang pulang. Persis sewaktu Hudzai masih kecil, semua balita adalah miliknya dan tidak boleh melakukan apapun selain dengan izinnya.


"Lah, wajar dong dijemput sama orang tuanya, Papa kenapa tidak terima begitu?"


"Tetap saja tidak boleh, Dewangga jangan pulang ... sama opa saja ya, janji?!"


"Oteey," jawab Dewangga tepat sekali, entah bagaimana nantinya, yang jelas Papa Mikhail sudah merasa aman-aman saja.

__ADS_1


Hingga, ketika sebuah mobil berwarna putih itu memasuki gerbang utama, Dewangga lupa akan janjinya. Bima belum memperlihatkan diri, tapi Dewangga tidak lagi bisa diam dan terpaksa Papa Mikhail lepaskan.


"Paaaah!!"


Suaranya melengking, suara yang selalu berhasil membuat Bima berdesir. Pria itu tersenyum simpul dan berlutut demi menyambut sang putra yang kini berlari ke arahnya. Setiap kali melihat sang putra, yang Bima rasakan hanya cinta tiada habisnya.


"Hai, jagoan Papa!! Keringatmu banyak sekali, bau pandan lagi, Dewangga habis ngapain? Hm?" Sudah biasa, jika berada di rumah opanya dibebaskan bermain dan hal itu terbukti dengan celana Dewangga yang luar biasa kotornya.


Sama sekali Bima tidak marah, dia justru bahagia dengan perkembangan putranya. Pria itu kini beranjak, mendekati Papa Mikhail yang kini memasang wajah sedih lantaran harus terpisah lagi.


"Pa, Dewantara mana?"


"Ada, mungkin nonton sama omanya," jawab Papa Mikhail tampak lesu, hidup segan mati tak mau.


"Hem, oh iya, Pa ... lusa kami mau ke Bali," ucap Bima yang membuat Papa Mikhail berbinar, dia beranggapan bahwa kedua cucunya akan kembali berada di rumah ini lebih lama.


"Bulan madu? Ahaha tidak masalah, Papa dukung saja nanti mereka tinggal di sini saja ya."


"Papa sama mama ikut dong, Ameera juga sekalian."


"Hah? Yang bener papa diajak?" Ekspresinya sama persis seperti sang istri, baru juga menginjakkan kaki Bima sudah merasa terhibur dengan kelakuan papa mertuanya.


.


.


🌹

__ADS_1


__ADS_2