
"Apa yang tidak bisa diperbaiki, Bim?"
Suara siapa itu? Wajah Lengkara seakan panas kala menyadari titisan Dewa petir itu tiba-tiba sudah berada di belakang mereka. Sama sekali tidak diundang, Lengkara benar-benar tidak berharap kakak iparnya itu kembali datang pagi ini.
Kurang kerjaan, kenapa tidak ke kantor saja? Bukankah dia sibuk? Lantas, kenapa aneh justru menyimpang ke rumah ini? Pikiran Lengkara saat ini begitu ramai. Ketakutan akan menjadi bahan lelucon Yudha menyeruak dalam benak sang pemilik mata indah itu.
"Yudha ... pagi sekali kau datang, apa papa tidak akan marah?"
Lengkara tersenyum, dia merasa lebih lega karena kini Bima mengabaikan pertanyannya. Memang benar, memiliki Bima adalah anugerah karena pria ini paham betul apa yang menjadi keresahan hatinya tanpa Lengkara bicara.
"Tidak apa-apa, aku merindukanmu saja," jawabnya seketika membuat asam lambuk Lengkara agak naik, dia mual walau wajar saja Yudha merindukan adiknya.
"Hahaha mimpi apa kau bicara begitu, aku geli."
"Apa salahnya."
Lengkara masih setia berdiri di samping Bima, agaknya Yudha tengah cari perkara dengan Sengaja mengungkapkan perasaan rindu semacam itu. Tapi tidak masalah, sama sekali Lengkara tidak peduli selagi Yudha tidak mengusiknya hari ini.
"Oh iya, kau belum jawab pertanyaanku tadi," ucap Yudha seketika membuat pasokan udara di sekitar Lengkara perlahan berkurang, tepatnya agak sedikit sesak.
"Pertanyaan mana?" Mata Lengkara perlahan membulat sempurna mendengar sang suami justru merespon ucapan Yudha, sepertinya dia memang terlalu cepat memuji pria itu.
"Yang katamu tidak bisa diperbaiki apa, Bima?"
Lengkara kian gusar, dia menggigit bibir dan mencubit lengan Bima dengan harapan pria itu akan mengerti kode yang dia berikan. Namun, bukannya mengerti Bima justru menjawab pertanyaan Yudha dengan polosnya.
__ADS_1
"Ranjang."
"Ih, malah dia kasih tahu."
"Hah? Ran-ranjang?" tanya Yudha lagi, khawatir jika telinganya salah tangkap.
"Iya, Lengkara memintaku memperbaikinya tapi menurutku tidak dapat lagi diselamatkan, Yudha."
Sejujur itu, apa penting dibahas di hadapan orang lain? Ya, memang Yudha bukan orang asing bagi Bima, tapi tetap saja pilihannya untuk mengatakan hal itu tidak perlu menurut Lengkara.
"Oh iya? Separah apa rusaknya memang?"
"Parah pokoknya, kalaupun mau diperbaiki susah, kecuali ahlinya mungkin bisa," jawab Bima yang sama sekali tidak menyadari jika sang istri tengah diselimuti rasa malu yang lebih besar dibandingkan tubuhnya sendiri.
"Mudah sekali menyerah, coba kulihat."
"Tergantung, makanya aku akan melihat keadaannya lebih dulu."
"Ah tepat sekali, kau benar-benar pahlawanku, Yudha!!"
Layaknya seseorang yang tesesat dan menemukan jalan keluar, begitulah Bima saat ini. Kedatangan Yudha di mata Bima sangat berharga, sementara di mata Lengkara tidak lebih dari bencana.
Lebih bencana lagi, kala dia mengiyakan pertanyaan Bima dan keduanya berlalu meninggalkan Lengkara yang kini panik tentu saja. Belum ada kalimat ejekan yang Yudha lontarkan, tapi dari tatapan matanya barusan sudah jelas menunjukkan bahwa Yudha merasa menang di atas penderitaannya.
Tiba di kamar, Yudha menutup mulut dengan kedua tangannya. Perlahan, dia beralih pada Lengkara yang pura-pura biasa saja padahal hatinya bergemuruh dan susah payah menahan malu.
__ADS_1
"Kenapa bisa?"
"Bisa apanya? Kenapa wajahmu malah terkejut begitu ... langsung saja, masih bisa diperbaiki atau tidak?" tanya Bima mendadak kesal sendiri melihat ekspresi yang luar biasa berlebihan dari Yudha.
"Kalian sebrutal apa sampai ranjangnya cacat begini?"
Yudha menggeleng pelan, dia berdecak heran hingga Bima sadar jika Yudha tidak betul-betul berniat menolong, melainkan penasaran. Sontak hal itu membuatnya geram sendiri, tapi sudah jelas Yudha tidak akan diam saja dan mencari alasan untuk tetap di sana.
"Tenang, Bim ... aku hubungi pak Chan lebih dulu, sepertinya tidak cukup jika hanya mengandalkan palu. Kerusakannya sangat-sangat parah, apa semalam ada gempa juga?!!"
"Sudah cepat sana," pinta Bima berusaha untuk tetap sabar, dia benar-benar butuh Yudha karena memang tidak mampu untuk memperbaiki ranjang itu dengan tangannya.
Lengkara yang berada tak jauh dari mereka berusaha mengatur napas dan mengalihkan pandangan. Hanya demi tidak kentara terlalu malu, Lengkara rela pura-pura membersihkan debu.
Lucu sekali, Bima tersenyum simpul melihat reaksi Lengkara. Tanpa dia sadari, jika saat ini hati sang istri tengah dipenuhi umpatan yang tertuju padanya. Sementara dia izinkan Yudha memerika dan menghubungi pak Chan, entah berbohong atau tidak yang jelas ada yang dia hubungi.
"Yud kenapa harus difoto?" tanya Bima curiga, pasalnya usai menghubungi seseorang yang dimaksud Yudha mengambil foto dari beberapa sisi entah tujuannya untuk apa.
"Dokumentasi itu penting, Bim ... kita harus mengabadikan before dan afternya nanti," ucap Yudha mengelak, sementara kini firasat Lengkara semakin tidak enak, terlebih lagi cara Yudha memfotonya sudah persia seorang yang handal di bidangnya.
"Penting ya?"
"Betul, ini juga adalah bukti bahwa Tuhan tidak suka orang-orang pamer," ucapnya terang-terangan menyindir Lengkara yang kini meremmas kuat gorden jendela kamarnya.
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -