
Bima tidak menjawab pertanyaan Lengkara, dia hanya tersenyum tipis sebelum kemudian menerima panggilan itu. Setelah apa yang dia lakukan, ternyata Gilsa masih memiliki keberanian untuk menghubunginya.
"Hallo, Mama ... bagaimana kabarnya? Tadi malam tidur dim_"
"Diam kau, bedebah!!"
Baru juga sapaan pertama, Bima sudah terbahak dibuatnya. Benar-benar menghibur kegundahannya, setelah sempat panas dingin kini dia dibuat tergelitik begitu mendengar seorang Gilsa kembali memperlihatkan tabiatnya di masa lalu.
"Santai, kenapa kau marah sekali? Bukankah aku sudah berbaik hati? Kau bayangkan jika aku tidak membenarkan klarifikasi panjang lebarmu itu, kau sudah berakhir, Gilsa. Tidakkah kau ingin berterima kasih padaku wahai mama sambung yang baik?"
Awalnya tidak begitu tertarik, tapi setelah mendengar ucapan Gilsa hati Bima seolah terpacu untuk membuatnya semakin marah. Bahkan, jika bisa dia ingin pita suara Gilsa rusak usai bicara dengannya.
"Cih berterima kasih padamu? Aku tidak sudi!! Apa yang kau mau sebenarnya? Kau dengar kunyuk, sekalipun kau mencoba memperbaiki namaku di depan publik keluargaku tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu!!"
Semakin berteriak, Bima semakin suka. Dia tertawa pelan dan kini mencari posisi nyaman, duduk di sofa yang empuk seraya mendengarkan teriakan orang dalam gangguan jiwa ternyata menyenangkan juga.
"Ah kau percaya diri sekali, ehm sebelumnya aku ingin menyampaikan sesuatu ... pertama, aku tidak melakukannya demi kau, tapi papa. Kedua, keluarga mana yang kau maksud? Keluarga bersama Atmadjaya Aksa atau Panji?" tanya Bima santai, tidak ada emosi sama sekali.
"Diam!! Kau memang benar-benar lancang ternyata ... apa untungnya kau menghancurkan rumah tanggaku? Kau iri rupanya melihat kebahagiaan kami?"
__ADS_1
Sontak Bima terbahak, dimana letak irinya. Sama sekali tidak, sungguh pertanyaan Gilsa hanya membuat dia ingin muntah. Siapa yang pelaku, dan siapa pula yang berlagak sebagai korban.
Bima tidak lupa, dia pengingat handal dan dia meyakini bahwa ucapan Pak Chan tidak mungkin berbohong. Fakta yang sebenarnya berbanding terbalik, Gilsa seolah tenggelam dalam lautan tersebut.
"Kenapa kau tertawa? Lucu?"
"Hahah tentu saja, bicara tentang perusak rumah tangga orang ada baiknya kau berkaca lebih dahulu Gilsa Anora ... siapa yang pelaku dan siapa yang korban? Kau datang pada papaku di saat papa mulai menerima kehadiran kami dengan menjual kesedihanmu itu." Bima mulai serius, sejak tadi selalu diselipkan sebuah candaan yang membuat Gilsa berani membentaknya.
"Jangan lupakan juga, saat itu kau sudah menjalin hubungan bersama Panji yang ternyata berkelanjutan sampai 30 tahun lamanya ... miris sekali, aku tidak mengerti kenapa bisa papaku mencintai pelaccur tanpa harga seperti kau," paparnya masih dengan suara yang terdengar santai, tapi tujuannya jelas tengah marah.
"Bim_"
"Budak naffsu Panji dan mengemis cinta pada papaku begitu melihat dia perlahan naik, tidakkah kau sadari siapa yang mendukungnya saat itu? Hahaha dan sialnya, kau dan selingkuhanmu itu justru menikmati hasil usaha papa bertahun-tahun lamanya."
"Jaga mulutmu!! Soal itu seharusnya menjadi masalahku dan suamiku. Kenapa kau justru ikut campur, dan dengan tanpa malunya memblokir semua kartuku!" hardik Gilsa dengan suara yang kian meninggi.
"Hah? Sudah diblokir? Woah Pak Chan bergerak cepat sepertinya ... haruskah aku memberinya penghargaan setelah ini?" Seakan tidak peduli, dia justru memperlihatkan dengan jelas jika semua itu adalah keinginannya.
Tepatnya sejak beberapa minggu lalu, dia sudah mengutarakan semuanya pada Pak Chan dan meminta untuk mencabut semua fasilitas yang menunjang kehidupan mewah Gilsa di waktu yang tepat. Jika saja Gilsa tidak menghubunginya, mungkin Bima tidak akan tahu jika sudah dilakukan.
__ADS_1
"Kau pura-pura tuli sekarang? Dengarkan aku, kembalikan semua hakku, Badjingan!! Aku jauh lebih berhak dibandingkan dirimu!! Aku istrinya, jauh sebelum ibumu yang tidak punya harga diri itu menyerahkan tubuhnya, Atma adalah milikku! Tidakkah kau malu? Anak dari seorang wanita yang tid_"
"Diam!! Sudah kukatakan berkali-kali jangan pernah hina ibuku!! Kau bicara soal harga diri? Hah?" tanya Bima sembari tertawa kecil.
"Berkaca!! Siapa yang tidak punya harga diri. Tiga puluh tahun menjalin hubungan dengan pria lain, sementara kau sudah bersuami!! Di masa lalu mungkin kau berhadapan dengan ibuku, tapi kali ini lawanmu adalah aku. Jadi berhenti menyebut ibuku dengan mulut kotormu itu," hardik Bima kemudian lantaran sudah benar-benar murka.
Sejak tadi mampu bersikap biasa saja, pada akhirnya dia kehilangan kendali juga. "Oh iya, tolong tarik ucapanmu ... sejak tadi kau merasa berada di atasku hanya karena statusmu sebagai istri papa. Faktanya, sejak dua puluh menit lalu pernikahan kalian sudah berakhir."
Panjang lebar Bima memakinya, di saat amarah tengah memuncak, Yudha mengirimkan pesan bahwa Papa Atma telah menjatuhkan talak kala Gilsa datang ke rumah sakit. Sudah tentu bukan karena khawatir, tapi meminta hal yang sama, yakni meminta fasilitasnya dikembalikan.
"Benar begitu, ibu peri Gilsa?"
Gilsa mendadak bungkam, tapi sambungan telepon belum terputus. Mungkin kehilangan kata, yang jelas kini dia bahkan diam saja kala Bima kembali tertawa pelan.
"Nikmati hidupmu, tanpa uang, tanpa tempat tidur yang empuk dan tanpa tas serta perhiasan yang kerap kau pamerkan. Kau ingat, Gilsa, ibuku jauh lebih menderita dari ini."
Bima menekan setiap kalimatnya, tanpa dia sadari jika dibalik pintu seseorang dengan mata yang kini membasah tengah memukul dadanya berkali-kali. Dia menangis dalam diam hingga isak tangis itu terdengar dan menyadarkan Bima di luar sana.
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -