
Bali 🌹
Bukan hanya sekadar wacana, Bima benar-benar memenuhi janjinya. Niat hati hanya mengajak sang mertua dan Ameera, tapi yang terjadi justru keluarga besar ikut semua.
Berawal dari Papa Mikhail yang pamer di group chat keluarga besar, anak-anaknya yang lain ikut iri dan mendadak ingin pergi juga. Bukan hanya yang ada di Jakarta, tapi yang di Bandung juga tidak mau ketinggalan.
Melihat keluarga Lengkara lengkap, Bima melakukan hal yang sama. Tanpa pikir panjang, dia menghubungi keluarga besarnya untuk liburan juga, lebih tepat dibilang memaksa karena dia tidak menerima penolakan.
Seribu satu cara Bima lakukan demi merayu kedua orang tuanya. Padahal, dua sejoli yang resmi dipersatukan kembali dalam ikatan pernikahan beberapa bulan lalu itu baru pulang dari tanah suci.
Kendati demikian Bima tetap memaksa dan mengatakan jika liburan kali ini adalah hadiah pernikahan mereka. Tidak peduli sekalipun ibunya malu atau bagaimana, yang jelas Bima ingin juga merasakan keluarga yang benar-benar sempurna.
Sayang, Yudha tidak bisa ikut mengingat kesibukannya yang luar biasa. Tadi pagi saja terakhir dihubungi dia tengah di perjalanan menuju Jakarta, entah kenapa Yudha sangat menyukai perjalanan mandiri semacam itu, kejadian beberapa tahun lalu sama sekali tidak membuatnya trauma.
Kemungkinan besar mereka akan menghabiskan satu minggu di Bali, bagi yang ingin pulang lebih dahulu jelas saja tidak masalah dan Bima tidak akan melarang, begitulah kira-kira.
"Bagaimana perasaanmu? Bahagia?" tanya Bima sembari mendekap erat tubuh sang istri.
Di bawah kemilau senja yang berbeda, suasana yang berbeda kini keduanya kembali memadu kasih seolah masih menjadi pengantin baru. Lengkara tersenyum simpul mendengar pertanyaan sang suami, entah kerasukan apa hingga dia kembali mesra begini.
"Tentu saja, mana mungkin tidak," jawab Kara menghela napas panjang.
Sempat bertanya-tanya kenapa Bima tidak seromantis dahulu, dia bahkan berpikir jika perubahan bentuk badannya adalah alasan. Kini semua itu perlahan terjawab dengan sikap Bima yang kembali.
"Maafkan mas, Ra ... terlalu bahagia jadi papa sampai lupa kalau bidadari yang satu ini butuh dimanja juga," tutur Bima mengecup kening sang istri.
Satu hal yang Bima sesali dan baru dia sadari kala Lengkara jatuh sakit. Sebenarnya bukan mengacuhkan atau sengaja mengabaikan, hanya saja memang sedikit berkurang. Di mata Ameera mereka masih begitu manis, tapi bagi Lengkara sudah berbeda.
Terlebih lagi, Sean sempat memberikan nasihat panjang lebar pada Bima. Sang kakak ipar berpesan, terkadang kalimat cemburu pada anak dari seorang istri bukan hanya sekadar kata. Setelah melahirkan, bukan berarti dia tidak butuh perhatian lagi.
__ADS_1
Wanita tidak akan pernah menjadi dewasa dalam hal kasih sayang jika sudah bertemu laki-laki yang tepat. Dia akan terus kekanak-kanakan dan ingin diperhatikan sepenuhnya, begitulah yang Bima dapatkan selama Lengkara terbaring di rumah sakit.
"Tumben, kesambet apa kamu, Mas?"
"Ck, orang lagi serius juga." Bima mencebik, mungkin karena sudah begitu lama tidak diperlakukan seperti itu sampai Lengkara menganggap manisnya Bima adalah sesuatu yang langka.
"Bercanda ... tapi bukan karena aku darah tinggi kemarin, 'kan?" Lengkara memastikan penyebab sang suami mendadak hangat seperti ini, jika benar iya maka dia akan mencari cara agar tekanan darahnya terus berada di atas rata-rata.
"Tidak, memang tersadar karena itu ... tapi bukan berarti mas hanya akan begini karena kamu sakit. Jangan pernah berpikir untuk sakit terus," tutur Bima mengacak rambut sang istri, lagi dan lagi tebakan Bima benar hingga Lengkara tampak mengerjap pelan.
Baru juga direncanakan, tapi Bima sudah mengetahui isi otaknya hingga Lengkara mencebikkan bibir. Sontak hal itu tertangkap di mata sang suami, tentu saja hal itu terlalu menggemaskan bagi Bima.
"Jangan sok imut, hotel jauh, Sayang," bisik Bima mencubit pelan kedua pipinya.
Lengkara yang mengerti maksud Bima kian memerah dan memalingkan muka. Berusaha mengalihkan pembicaraan dan menunjuk Dewangga yang tengah duduk santai menyambut ombak yang mendekat ke arahnya, sudah tentu diawasi Ameera.
"Lihat, dia lucu sekali."
"Ehem, kata kak Sean segala sesuatu memang tergantung niat." Baginya Bima aneh, tapi dia juga sama.
"Iya, tapi sayangnya mereka tidak mirip aku ... padahal tenagaku paling banyak, susah payah gerak cuma dapat hikmahnya saj_"
"Eeugh Mas Bima!! Kujahit mulutmu!!"
Lengkara mendelik tajam, bukan tanpa alasan dia mencegah sang suami bicara, tapi memang tidak jauh dari mereka tengah berdiri sang mertua yang menggeleng pelan kala melewati keduanya.
"Haha emosian, nanti darah tinggi lagi gimana?"
__ADS_1
.
.
Namanya saja liburan bersama, tapi orang-orangnya asik sendiri. Jika Lengkara bersama Bima menikmati kemilau senja di sana, lain halnya dengan Papa Mikhail yang duduk santai bersama putra dan menantunya lantaran tidak kuat jika harus menyusuri pantai seperti Zia bersama Dewantara dan cucunya yang lain.
"Seru ya, Pa?"
"Iya, sudah lama papa tidak begini ... untung saja punya menantu royal!!" ucapnya keras sekali, padahal di sisinya ada kedua putra dan sang menantu yang kini tersedak bersamaan.
Tengah menyindir atau apa, tapi terserah dan mereka tidak ambil pusing. Zean kembali menghangatkan suasana, bagi mereka ucapan sang papa tidak perlu diambil hati.
"Wuih Pa! Pa! Ada bule tuh, bugill, Pa!!"
"Astaghfirullah, Zean!! Mana?"
Evan yang sejak tadi diam dan masih bisa mempertahankan citra sebagai pria dingin, kini terbahak usai mendengar reaksi sang mertua kala adik iparnya memberitahukan kabar semacam itu.
"Hahahaha ya, Tuhan, Papa." Evan tergelak diikuti Sean yang kini kembali memakaikan kacamata hitam untuk papanya.
"Tutup matanya, Pa!! Nanti ternoda," tambah Sean lagi.
"Papa kan cuma penasaran."
"Ih Papa!! Aduin Mama ah, Maaaaaaaaaa!!" pekik Zean kini berlalu pergi dengan langkah seribu usai membuat papanya terancam.
"Heh? Zean!! Kembali kau!!"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -