
"Kenapa keluar sendiri? Bima belum selesai?"
"Iya belum," jawab Lengkara menerima minuman yang baru saja Yudha buka.
Belum berubah, kelemahannya masih sama. Bahkan untuk membuka minuman saja susah payah, Bima tentu banyak mengalami perubahan dalam hidupnya, pikir Yudha.
Lengkara yang tadi sudah berhasil mengimbangi permainan Yudha, kini justru terjebak sendiri. Faktanya, ketika berada di hadapan pria itu dia tetap kaku juga. Bukan kaku yang berdebar atau semacamnya, akan tetapi memang tidak bisa sesantai dahulu.
"Makasih, Mas ... aku ke atas dulu."
Lengkara sadar betul siapa dirinya, saat ini mereka tidak lebih dari masa lalu dan Bima adalah suami sahnya. Sudah tentu dia harus menjaga diri dan kehormatan sebagai istri seperti yang Sean sampaikan padanya.
Bukan karena dendam atau amarah, sama sekali perasaan itu tidak lagi ada. Lengkara tidak menyalahkan Yudha atas apa yang menimpanya, justru dia berterima kasih karena sudah menghadirkan Bima dalam hidupnya.
Hanya saja, sebisa mungkin Lengkara meminimalisir agar tidak berinteraksi terlalu dekat dengannya. Jika ada Bima mungkin bisa, tapi jika hanya sendiri Lengkara memilih lebih baik menghindar usai bicara seperlunya.
"Kara."
Yudha sudah berusaha untuk menahan, tapi hatinya seolah sesak membawa beban. Dia menghampiri Lengkara yang sudah meninggalkannya beberapa langkah, untuk terakhir kali Yudha ingin berbicara dengannya satu kali saja.
"Iya ... kenapa?"
"Aku tahu ini basi dan mungkin kamu sangat membenciku, tapi aku minta maaf atas semua yang telah kulakukan padamu, Ra."
Dia meminta maaf, terlalu banyak salahnya bahkan Yudha seakan tidak lagi memiliki keberanian untuk hadir di hadapan Lengkara. Pria itu tampak gugup, jantungnya berdebar tak karuan mana kala Lengkara menatapnya cukup lekat.
"Maafkan aku ... aku benar-benar hadir sebagai pengecut di dalam hidupmu, Lengkara."
"Tidak perlu merasa bersalah, semua sudah jalannya. Aku percaya Tuhan tidak pernah salah menentukan takdir hambanya, jadi tidak perlu diperpanjang."
__ADS_1
Yudha mengangguk pelan, jawaban santai dari Lengkara seolah menampar dirinya kuat-kuat. Jangan ditanya bagaimana perasaan Yudha, jelas saja masih terbesit cinta. Hanya saja, untuk memiliki Yudha tidak berniat sama sekali, dia percaya perasaannya untuk Lengkara lama-lama akan lenyap juga.
"Bahagia selalu, Ra ... bagaimanapun takdirmu, mas hanya berharap yang baik-baik."
Dia begitu berbeda dengan yang tadi dia lihat di meja makan, tidak ada Yudha yang sekuat itu mengabaikannya. Tatapan sendu pria itu menegaskan jika ada luka yang dia sembunyikan.
"Kamu juga, Mas."
Hanya itu yang Lengkara ucakan sebelum kemudian berlalu pergi meninggalkan Yudha. Harapan Yudha sejak tiga tahun lalu terkabul, Tuhan menjawab doanya. Lengkara bahagia dan bukan bersamanya, melainkan Bima yang dirasa lebih pantas.
Lengkara sudah berlalu cukup lama, tapi tatapan Yudha masih tertuju ke arah lantai dua. Sakit ternyata, dia pikir tidak akan separah ini. Bohong jika tidak sakit, mata Yudha bahkan mengembun setelahnya.
"Dia mantan terindahmu itu, Kak Yudha?"
"Ck, sejak kapan kau di sana?"
"Cantik ... aslinya lebih cantik ternyata, di film agak gendut mungkin karena memerankan ibu hamil ya?"
"Harus berapa kali kujelaskan, dia tidak main film, Raja!!" teriak Yudha yang tidak tahan lantaran pembahasan adiknya hanya itu-itu saja.
"Tapi mirip, Kak."
"Itu kembarannya, aku lelah bicara denganmu sumpah." Yudha yang tadi ingin menangis mendadak naik darah.
Raja tidak lagi menjawab, dia hanya menatap ke arah kakaknya yang kini kembali bergeming. Dia memang belum sedewasa kedua kakaknya, tapi Raja sudah bisa memahami apa yang terjadi.
Sejak awal kedatangan Bima saja dia sudah menyimpulkan bahwa wanita itu adalah yang dimaksud papanya. Awalnya Raja tidak percaya kenapa mereka bisa mencintai wanita yang sama, tapi setelah melihat bagaimana Lengkara, dia mengetahui alasannya.
"Cantik, tapi relakan saja ... memang lebih cocok bersama kak Bima dibandingkan denganmu, Kak."
__ADS_1
"Iya, Bima lebih pantas untuknya."
"Hm, kalau bersamamu aku ramal rumah tangganya tidak akan tentram," ucap Raja lagi dan untuk hal ini Yudha merasa tertarik.
"Oh iya? Kenapa memangnya?"
"Khawatir berebut skincare," jawab Raja santai sebelum kemudian berlalu meninggalkan Yudha.
Dia benar-benar dianggap gemulai, padahal cara itu Yudha gunakan agar Bima yakin bahwa dirinya tidak lagi terluka. Hanya itu cara yang bisa Yudha tunjukkan, baik di hadapan papa maupun Bima. Jika sendiri jelas beda cerita, sejak dahulu dia sudah terlatih untuk menyesuaikan diri di segala keadaan, bukan berarti benar-benar menyerupai perempuan.
.
.
Bicara tentang Bima, Yudha juga mendadak lupa. Sedang apa dirinya, kenapa jadi lama sekali dan malam sudah mulai larut. Jika memang ada yang dibahas, lantas apa, apa mungkin meminta poligami? Entahlah, terlalu rumit bagi Yudha untuk memahami keinginan papanya.
Jauh dari perkiraan Yudha, di dalam ruangan kerja sang papa tidak ada pembicaraan serius tentang poligami atau semacamnya. Yang ada kini Bima memerah menahan pegal lantaran sang papa memberinya hukuman dengan alasan kurang ajar.
"Pa ... sampai kapan aku begini? Kakiku sakit."
"Sampai papa bilang selesai."
"Aku bukan anak-anak lagi, Pa, hukuman semacam ini kuno," protes Bima sebal sendiri, dia diminta berdiri dengan satu kaki dengan tangan di telinga.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1