
Lebih mengejutkan lagi, kala Lengkara mendengar kabar bahwa Gery masuk ICU akibat mendapat serangan orang-orang tidak dikenal hingga mengalami cidera yang cukup serius, terutama di bagian intinya.
Keterkejutan Lengkara tidak berhenti di sana, Rona juga mengatakan dia bertemu Jack di rumah sakit yang sama. Pria itu mengalami cidera yang sama parahnya, bahkan satu tangannya patah.
"Kau tidak berbohong, Rona?"
"Untuk apa aku berbohong, Kara ... tepat tengah malam orang-orang datang ke apartemen kita, dan ketika aku membuka pintu mereka mencari Gery lalu menghajarnya tanpa ampun, aku bahkan khawatir dia mati."
"Ya Tuhan, apa kau terluka juga?" Jujur saja Lengkara tidak begitu peduli sekalipun Gery kehabisan darah, sungguh. Dia bertanya hanya karena khawatir Rona kena getahnya, itu saja.
"Tidak, Kara, aku baik-baik saja ... tapi Gery mengkhawatirkan, bagaimana jika miliknya benar-benar mengalami kerusakan seperti kata dokter," lirih Rona yang sama sekali tidak membuat Lengkara simpati sedikitpun, jika saja Rona tahu apa yang terjadi, apa mungkin dia akan tetap menangisi Gery separah ini.
Tidak ada yang bisa Lengkara utarakan selain menguatkan sahabatnya itu. Usai sambungan telepon mereka terputus, tatapan Lengkara tertuju pada Bima yang memasang wajah seakan tidak berdosa. Menyadari Lengkara kini seolah curiga padanya, Bima segera beranjak dan detik itu juga Lengkara menarik paksa pria itu untuk kembali duduk di sisinya.
"Mas lagi, 'kan?" tanya Lengkara menggenggam pergelangan tangannya, khawatir jika pria itu berlalu pergi sebelum dia bertanya.
"Apa?"
"Mereka masuk rumah sakit, tangan Jack juga patah dan sewaktu di mobil mas pernah bahas tangan ... iya, 'kan?" selidik Lengkara dengan pertanyaan bertubi, sudah jelas pasti Bima yang melakukannya.
"Iya, kenapa memangnya?"
__ADS_1
Santai sekali dia menjawab, Bima tidak memperlihatkan dia khawatir atau semacamnya, sedikitpun tidak. Yang terlihat di sana hanya senyum wajah datar Bima, tatapan tajam yang seolah menegaskan dia tidak bersalah.
"Separah itu, Mas, sampai patah begitu kok bisa sesantai ini?" Lengkara berdecak pelan, bingung sekaligus takut menjadi satu.
"Hukuman, mereka berani mengusik milikku ... baru juga patah, belum kubuat cacat seumur hidup," ucap Bima kemudian, selain diam tak terbaca diamnya juga sedikit gila.
.
.
Lengkara masih tidak habis pikir dengan tindakan Bima, hingga malam berganti pikiran wanita itu masih tertuju padanya. Tadi sore Bima sempat pamit, dia juga sempat mengatakan besok pagi harus pulang karena papanya mulai mengusik ketenangan Bima.
Selain itu, niat Bima pulang tetap sama. Mendatangi keluarga Lengkara secara baik-baik, menyatakan niat tulus untuk kembali padanya. Berhasil atau tidaknya, Lengkara tidak tahu karena sekalipun dia menerima, keputusan ada pada papanya.
Belum sempat mengenakan pakaiannya, Bima menghubungi dan Lengkara yang sedikit berlebihan dalam berekspesi sontak menerima panggilan Bima. Beberapa detik kemudian, dia tersadar dan mendadak mengutuk dirinya gampangan, harusnya jual mahal sedikit, batin wanita itu.
"Hallo, Sayang."
"I-iya," jawab Lengkara melemas, sudah berapa lama dia tidak mendengar Bima memanggilnya seperti itu, dulu pernah, hanya sesekali.
"Mas di depan, lupa passcode-nya berapa ... bisa tolong bukakan pintunya?" tanya Bima di seberang telepon, terdengar lembut dan tidak mendesaknya untuk bertindak cepat.
__ADS_1
Lengkara tidak menjawab, dia seolah melayang di awang-awang dengan langkah kaki yang sebegitu lancang menuju pintu tanpa berdiskusi dulu dengan hati. Apa mungkin seterbuka itu hatinya pada Bima? Apa hanya karena takut Bima tidak datang lagi untuk waktu lama setelah ini? Entahlah, Lengkara tidak bisa mengerti.
Bima beberapa kali memanggilnya, hingga kala pintu itu terbuka pria itu masih memaastikan Lengkara dari ponselnya. Tatapan Bima terpaku sejenak, melihat penampilan Lengkara seterbuka itu dalam keadaan sadar jelas membuat matanya tak berkedip untuk beberapa saat.
"Kamu keramas malam-malam begini, nanti masuk angin, Ra."
"Gerah, tadi aku tata mejanya ... kurang pas sama cahaya, aura kecantikanku tidak keluar 100 persen, Mas."
Bima hanya tersenyum tipis mendengar jawabannya, ada-ada saja bahasa Lengkara. Apa mungkin aura kecantikan bisa diukur sesuai arah meja rias, pikirnya.
"Kenapa tidak menghubungiku? Meja itu berat, Kara."
Lengkara tidak segera menjawab, melainkan membuka makanan yang Bima bawakan untuknya. Penasaran, padahal tadi sore juga sudah kenyang dan Bima pastikan dia tidak akan kelaparan.
"Ganti baju sana, kebiasaan," omel Bima menoyor keningnya, dia tidak sedang mengada-ada, memang Lengkara memiliki kebiasaan tidak segera mengenakan pakaian setelah mandi. Alasannya panas, tapi tidakkah dia sadari bahwa kebiasaan yang begini kerap membuat kepala Bima panas.
"Nan_"
"Ti, Mas, panas ... begitu, 'kan maksudmu? Ganti sana, atau mau dibantu, Lengkara?" tanya Bima sedikit mengancam dan membuat Lengkara melepaskan hamburger yang baru saja dia ambil dari sana.
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -