
Sudah bulat tekad Lengkara, setelah semalam Jack mencoba mencuri kesempatan, hari ini dia berniat membalaskan dendamnya. Bagaimana tidak marah, sudah berkali-kali Lengkara tolak, pria itu justru bertingkah ketika berada di dekat Lengkara.
"Mau apa ka_"
Ucapan Lengkara terhenti, amarahnya berganti dengan kebingungan yang membelenggu kepalanya. Hampir saja pisau dapur itu mendarat di kening pria yang berada di hadapannya, walau sempat mundur, tapi dia masih mampu mempertahankan wajah tenangnya.
"Boleh aku masuk?"
Setelah mengusik pikiran Lengkara sepanjang hari, pria itu benar-benar muncul di hadapannya. Lengkara berharap dia tengah berhalusinasi, sama sekali dia tidak ingin kembali menatap wajah itu.
Jangankan menghias diri, mandi pun tidak sempat sejak tadi pagi. Kini, sudah menjelang sore dan Lengkara justru terjebak dalam kekesalan pada diri sendiri. Cukup lama dia terdiam, berharap secepatnya Rona pulang.
"Tahu dari mana aku di sini?"
"Kebetulan saja," jawab Bima berbohong, padahal hanya demi mencari alamat Lengkara, pria itu meneror Kenzo dan tidak berhenti bertanya setiap lima menit sekali.
Tidak berhenti di sana, Bima bahkan menurunkan ego dan memberanikan diri bertanya secara langsung pada Caren. Hal itu terjadi akibat Kenzo memblokir nomor teleponnya, seumur hidup mungkin itu adalah kali pertama Bima menyebalkan.
"Agak berantakan, tidak ada tempat untuk duduk."
"Kamu pergi tanpa izinku, dan juga kamu meninggalkan ini," ucap Bima memberikan sebuah paper bag yang membuat Lengkara memerah, senyum tipis Bima membuatnya semakin salah tingkah, malu tepatnya.
Ternyata, meninggalkan sebuah tanda kepemilikan di leher tidak seberapa karena masih ada yang lebih memalukan lagi. Dia tidak begitu yakin, tapi memang sejak awal memang Lengkara menolak kala Rona menawarkan pantyhose agar penampilannya lebih sopan di acara ulang tahun Caren, besar kemungkinan dia melucuti benda itu dalam keadaan tidak sadar karena merasa tersiksa atau semacamnya.
__ADS_1
"Tidurmu masih sama ternyata," ucap Bima membuyarkan lamunan Lengkara, mungkin tengah berpikir keras hendak mengambil langkah apa setelah ini.
"Tidak terbiasa, ini bukan milikku dan juga tidak hanya ini yang kupakai semalam!!"
Sebelum Bima berpikir terlalu jauh, Lengkara menegaskan lebih dulu. Untuk yang kali ini dia tidak sedang berbohong, memang benar bukan miliknya. Rona hanya ingin penampilan Lengkara memikat Jack semalam.
"Oh iya? Aku juga lihat semalam."
Kembali Bima berucap dan membuat mata Lengkara mendelik tajam, seketika dia meraba bagian belakangnya demi memastikan jika memang dia menggunakan underwear juga sebelum mengenakan benda tipis itu.
"Bercanda."
Dia mencoba mencari cara agar pembicaraan mereka sedikit hangat, karena memang ucapan Bima di kamar hotel membuat Lengkara pamit. Hanya pamit, belum ada jawaban atau izin dari Bima, dia sudah berlalu pergi tanpa aba-aba.
"Mas pergi ya ... jaga diri, jangan seperti semalam lagi."
Lengkara mendongak, Bima menyebut dirinya sendiri dengan panggilan mas. Meski cara bicaranya masih sama, tapi berhasil membuat Lengkara bertanya-tanya. Karena ini adalah pertama kalinya, bahkan selama menjadi suami Lengkara, Bima tidak begitu sekalipun Lengkara begitu hangat padanya.
"Iya, Mas."
Tidak ada Lengkara yang menahan kepergiannya, Bima terhenyak sebenarnya. Namun, satu hal yang perlu Bima ingat, dia menjatuhkan talak di saat Lengkara mulai berusaha menerimanya sebagai suami. Walau tahu saat itu dia tersiksa, tapi Bima yakin sekuat itu Lengkara menerimanya sebagai suami.
Bima perlahan melangkah, berat sekali rasanya. Dia adalah pengingat yang luar biasa, Bima kerap merasakan momen dimana dia meninggalkan Lengkara seperti ini, pergi kerja misalnya.
__ADS_1
"Mas Bima!!" teriak Lengkara seketika membuat Bima berbalik, semudah itu dia kembali mendengar panggilan Lengkara.
"Iyaa," sahut Bima menatapnya dari jarak yang tidak begitu jauh, tampak Lengkara hendak mengucapkan sesuatu.
"Terima kasih telah menjagaku semalam, senang bisa bertemu denganmu."
Bima mengangguk, pria itu tersenyum getir mendengar ucapan Lengkara. Ingin dia katakan, menjaga Lengkara adalah kewajibannya, tapi lagi dan lagi Bima sadar diri untuk mengutarakan hal itu.
Usai bertahan beberapa lama, Bima benar-benar berlalu pergi. Dia sempat menoleh, Lengkara tidak lagi berada di sana dan pintu telah tertutup. Ya, tidak mengapa walau tidak dipersilahkan masuk dan melihat bagaimana tempat tidurnya, kacau atau rapi seperti kamar mereka dahulu, Bima ingin tahu sebenarnya.
Hingga, mata Bima menangkap pemandangan menggelikan dari sepasang kekasih kala dia hendak masuk lift. Bima menggeleng pelan, anak muda zaman sekarang benar-benar tidak tahu tempat, bisa-bisanya bercumbu hingga si wanita sesak dan terengah-engah.
"Sayang aku sudah tidak kuat menahannya ... ayo cepat," pinta wanita berambut pendek itu dengan suara yang seakan meminta lebih, Bima mendengar dengan jelas ucapan wanita itu.
"Cih menjijikkan," umpat Bima kala mereka berlalu pergi dengan tergopoh-gopoh di sana, mungkin sudah terbakar api asmara.
Dia mencoba untuk tak peduli, terserah juga mau apa lagi pula bukan urusannya. Namun, ketika sudah berada di lobby apartemen Bima menyadari satu hal kala mengingat penampilan wanita yang tadi dia lihat.
"Lengkara ...." Dada Bima berdegub tak karuan, firasatnya mendadak buruk dan kini tertuju pada Lengkara. Detik itu juga dia berubah pikiran untuk kembali ke hotel, ada yang lebih penting untuk saat ini.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -