
Hampir 24 jam Bima merasakan keutuhan sebuah keluarga. Walau mungkin harapan yang tersemat dalam hati kecilnya hanya sebatas angan, tapi tidak mengapa. Dia juga tidak akan memaksakan kehendak, terlebih lagi dia mengetahui sedalam apa luka yang Papa Atma torehkan di hati sang ibu.
Menjelang siang Yudha dan Papa Atma berlalu meninggalkan kediaman Bima. Jika dipikirkan lucu sebenarnya, orangtua lengkap, tapi mereka terpisah sejauh ini. Sebagai tanda perpisahan, Bima mengantarkan keduanya hingga ke bandara.
"Papa pergi, jaga kesehatan dan jika ada waktu pulanglah ke Semarang sesekali." Papa Atma pamit sebelum benar-benar meninggalkan putranya.
"Iya, Pa, nanti kalau Kara sudah benar-benar baik," jawabnya disertai anggukan pelan.
Sebisa mungkin Bima untuk benar-benar tidak menjadi pendendam. Sikap papanya semakin hari membuat hati Bima yang haus akan kasih sayang luluh secara perlahan.
Mungkin karena dahulu bak anak tak terlihat, hingga ketika Papa Atma memperlihatkan kasih sayang secara nyata Bima juga tidak bisa menutupi kebahagiaannya.
Bahkan, Bima sama sekali tidak malu membalas pelukan papanya sekalipun sudah dewasa. Maklum saja, dahulu dia tidak pernah dan hanya menjadi penonton kala papanya bersikap manis pada Raja dan Arjuna.
Hubungannya tidak hanya manis bersama Papa Atma, tapi Yudha juga. Terkadang keduanya memang saling mencekik dan memojokkan satu sama lain, tapi untuk beberapa keadaan keduanya tentu saja serius. Tidak tanggung-tanggung, dia juga memeluk Yudha sekilas usai melepas Papa Atma.
"Sudah pulanglah ... kasus Gilsa dan Panji sudah diproses, kau tidak perlu pikirkan cukup aku saja." Seperti biasa, Yudha adalah pria yang paling berperan dalam setiap masalah, siapapun itu.
"Terima kasih, Yudha, aku benar-benar mencintaimu," ucap Bima sontak membuat Yudha bergidik ngeri.
"Mau kubalas aku mencintaimu juga, tapi khawatir hidungku mimisan."
Dia tidak mengerti kenapa Bima mendadak begini. Entah karena memang merasa tersentuh dengan apa yang dia lakukan, atau memang hanya terbawa perasaan lantaran baru saja bersikap manis bersama Papanya.
"Lengkara bukan tukang pukul, kau ini ada-ada saja."
Sekalipun Bima bisa menjawab dengan cara yang berbeda, tapi kali ini dia mengalah dan tidak cari perkara. Aneh sekali memang, padahal biasanya Bima agak sensi jika Yudha kerap bicara sembarangan tentang istrinya.
"Jaga papa, Yudha."
__ADS_1
"Tentu saja, kau jangan khawatir."
"Kabari aku jika sudah tiba," tutur Bima lagi, sejak tadi Yudha sudah memintanya untuk berlalu pergi, tapi tetap saja pria itu mengekor di belakangnya.
"Hm," jawab Yudha singkat sekali.
"Aku serius, jangan sampai lupa," tambahnya sekali lagi, seakan belum puas dengan jawaban Yudha sebelumnya.
"Iya, Bima, kau kenapa jadi posesif begini?"
"Apa salahnya? Aku hanya ingin memastikan kalian tiba dengan selamat, itu saja ... kau tahu Yudha? sesibuk apapun dirimu ketika tiba di sana, jangan lupakan ada seseorang yang menantikan kabar dan keadaanmu," ucapnya datar sebelum kemudian menepuk pundak Yudha perlahan.
"Sepertinya aku kenal kata-kata itu," ucapnya menghela napas kasar, sebagai alumni, Yudha sangat ingat ucapan siapa itu.
"Kata-kata mantan kekasihmu yang sekarang jadi istri kesayanganku? Benar begitu?" tanya Bima menautkan alis dan sukses membuat Yudha gemas dan ingin mencolok kedua bola matanya.
"Sudah kuduga, kreatif dikit ... mana sama persis lagi."
Dia yang dahulu menutup mata seolah hidup sendirian di dunia, kini sisi hati Bima memiliki kekhawatiran tentang banyak orang dalam hidupnya. Hidupnya memang sedikit lebih rumit ketika melibatkan perasaan, kali ini contohnya.
Entah kenapa dia begitu berat melepas kepergian Yudha dan papanya. Bahkan, ketika kedua pria itu menghilang dari pandangan, Bima masih mematung dengan tatapan sendu di sana.
Kenapa? Padahal melepas kepergian semacam ini bukan kali pertama. Namun, hatinya gusar dan jantungnya berdegup tak karu-karuan. Bima menggigit bibir bawahnya, lamunan pria itu buyar kala sang istri kini menelponnya.
"Mas dimana?"
"I-ini sudah mau pulang, tunggu sebentar ya ... kamu mau sesuatu?" tanya Bima gugup bukan main, agaknya dia melupakan janji untuk pulang lebih cepat.
"Mau," jawabnya singkat tapi tetap lembut hingga senyum Bima mengembang seketika.
__ADS_1
"Mau apa?"
"Tape ketan."
Kening Bima mengerut seketika, dengan tegas dia mengatakan tidak hingga Lengkara terdengar kesal di sana. "Yang lain, tidak untuk yang satu itu," ujar Bima tak terbantahkan.
"Kok gitu sih, Mas? Yaudah jangan tape ketan deh."
"Gitu dong, apa jadinya?" Bima tersenyum, istrinya tidak pembangkang dan ini adalah salah-satu kelebihan Lengkara sebagai wanita di mata Bima.
"Tape singkong," sahut Lengkara lagi yang membuat raut wajah Bima berubah drastis, terlalu cepat dia memuji nyatanya masih saja sama.
"Yang tidak mas izinkan bukan ketan atau singkongnya, Kara ... tapi tapenya," jelas Bima lembut sekali walau jujur ingin menggigit telinga sang istri saat ini.
"Ih, buat apa nawarin kalau semua dilarang?" Tanpa melihat wajahnya, Bima dapat membayangkan bagaimana kesalnya Lengkara.
"Tidak semuanya, tadi ada yang jual pisang setandan, mau?" Bima kembali memberikan penawaran yang sukses membuat istrinya naik darah.
"Mas pikir aku monyet?"
Bima terbahak, jawaban spontan sang istri mengingatkan Bima pada mertuanya. Padahal saat ini Bima tidak bercanda, di perjalanan dia memang sempat melihat pisang dan Papa Atma mengatakan jika buah itu bagus untuk ibu hamil.
Dia sampai lupa saat ini berada dimana, hingga gelak tawa Bima terhenti kala seorang wanita menabraknya dari arah berlawanan hingga ponsel pria itu terlepas dari genggaman. Bima yang terkejut marah tentu saja, tidak peduli siapa yang menabraknya.
"Kau tidak punya mata? Jalanan luas, bisa-bisanya menab_"
"Mas Bima?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -