
Enam bulan berselang sejak kehadiran kedua putranya, Bima kini menjalani hari-hari sebagai seorang ayah yang sempurna. Meski memang cukup banyak kurangnya, tapi dia berusaha melakukan segala sesuatu dengan baik untuk malaikat kecilnya.
Terlahir sebagai anak yang kekurangan kasih sayang membuat Bima memposisikan Dewangga dan Dewantara sebagai prioritas utama. Tak jarang, dia hanya ke kantor beberapa saat dan mempercayakannya pada Mahendra, anak Om Babas yang Bima tunjuk sebagai tangan kanan karena memang pria itu cukup mumpumi untuk menjadi pendampingnya.
Seperti hari ini contohnya, hari masih panjang, tapi satu jam sebelum makan siang Bima sudah pulang dan berganti pakaian. Benar-benar tidak berniat kembali ke kantor dan meminta pengasuh putranya untuk beristirahat.
Bagi Bima, uang bisa dicari dan seumur hidup tidak akan berhenti. Namun, menikmati waktu bersama kedua bayinya tidak akan terulang lagi. Dewantara dan Dewangga sudah pasti akan terus tumbuh, tidak mungkin jadi bayi selamanya.
Hal itulah yang membuat Bima tidak ingin kehilangan waktu, dari hari ke hari dia melihat perkembangan sang buah hati. Terkadang Bima berharap waktu terhenti sesaat hanya demi ingin memandanginya mereka lebih lama.
Bima sangat berhasil menjadi ayah yang baik, tidak ada yang menyangkal hal itu. Dia mengasuh dua malaikat kecilnya tanpa mengeluh sedikit saja, tak kenal waktu bahkan aroma tubuh Bima sudah berganti aroma bayinya.
Sayangnya, dia yang begitu justru menciptakan masalah baru. Bagaimana tidak, pakaian yang kerap kali asal lempar begitu juga handuk akibat buru-buru ingin bertemu kedua putranya membuat beban Lengkara kian bertambah.
Jika Bima di kantor yang dia asuh mungkin hanya bayinya, itu juga dibantu hingga Lengkara tidak merasa begitu kesulitan. Namun, jika Bima pulang maka tugasnya justru bertambah. Sejak tiga bulan terakhir kesabaran Lengkara kerap diuji dengan kebiasaan baru Bima yang sudah seperti anak SD dan juga perlu pengasuhannya.
"Mas, makan dulu, nanti kamu sakit."
Lengkara menghela napas panjang, dia bingung apa memang telinga Bima dijual terpisah atau bagaimana. Namun, bicara pada Bima tidak cukup sekali dan itu juga hanya iya-iya saja, bukan segera dia turuti.
"Iya, Ra, nan_"
"Mas Bima makan!! Sudah lima kali aku nyuruh makan!! Kamu kenapa jadi bebal begini? Disuruh makan aja susah, ini handuk juga kalau habis dari kamar mandi itu jemur!! Kenapa harus dilempar ke tempat tidur? Patah tangan kamu kalau jemur handuknya?"
Percayalah, ini bukan kali pertama Bima berulah. Sejak berbulan-bulan Lengkara sabar saja, dia juga mengingatkan Bima secara halus, tapi memang sang suami hanya iya-iya saja dan menurut satu atau dua hari, selebihnya kembali lagi membuat kepala Lengkara berasap.
__ADS_1
Mendengar Lengkara yang mengomel panjang lebar, Bima menyembunyikan wajahnya di tengkuk sang putra. Ya, begitulah caranya berlindung saat ini, biasanya tatapan Dewangga atau Dewantara akan membuat hati Lengkara luluh dan berhenti marah.
"Mas Bima," panggil Lengkara yang kini bersedekap dada, dia bingung hendak dengan cara apa bicara pada sang suami agar bergerak cepat sedikit saja.
"Makan, aku tidak sesabar yang kamu kira ... ayo, Mas, nanti sakit lagi."
Lengkara sedikit melemah, dia menghampiri sang suami dan menarik pergelangan tangannya. Ya, memang benar mata bulat Dewangga membuat Lengkara kalah, dia kembali lemah dan mendadak tak tega.
Tak hanya Lengkara yang melemah, Bima juga demikian. Usai mendapati sang istri marah besar, dia patuh dan tidak menolak lagi saat ini. Masih bersama Dewangga dalam pelukannya, Bima mengikuti sang istri yang kini ada di depannya.
Tentu saja dengan syarat harus membawa kedua buah hatinya ke meja makan. Terkadang Lengkara cemburu dibuatnya, tapi di sisi lain dia bahagia karena dengan hadirnya sang buah hati, dia tidak pernah melihat Bima berdiam diri dengan tatapan kosong entah apa yang dia pikirkan.
.
.
"Sudah, jam makan siang sudah lewat ... kamu saja yang telat," ucap Lengkara masih terlihat sebal, sebuah jawaban yang membuat Bima tertawa pelan seraya menatapnya lekat-lekat.
"Jadi cuma menemaniku?" Tidak sadar diri dan seolah lupa jika sang istri baru saja naik darah, dia kembali bertanya dengan wajah yang kini bersemu merah.
"Iya lah, sudah sana makan."
Tidak berbohong sama sekali, memang Lengkara hanya menemani. Meski hatinya kesal luar biasa, tetap saja dia mana mungkin bisa tega. Lebih baik begini dibandingkan harus melihat Bima sakit lagi akibat telat makan, entah sampai kapan Bima harus ditemani dengan satu pasukan sekaligus begini.
Beruntung saja Dewantara tidak banyak ulah dalam pelukan Lengkara. Anak itu sepertinya paham suasana hati sang mama, sejak tadi dia duduk manis dan tidak peduli bagaimana saudaranya yang sibuk sendiri ikut makan bersama papanya.
__ADS_1
"Dicepetin makannya, Mas," pinta Lengkara pada sang suami lantaran Bima seolah sengaja menunda waktu agar lebih lama.
"Kasihan dia, Ra, lihat Dewangga juga mau."
"Aduh, belum waktunya dia makan begitu, Mas ... ada-ada saja." Lengkara menggeleng pelan. Ini adalah alasan kenapa harus dijaga, karena jika tidak mungkin Bima akan biarkan Dewangga makan ayam goreng dicocol saos dengan alasan lucu melihatnya.
"Tapi ini Dewangga makan, lihat ... berarti dia lapar, Ra." Bima tak mau kalah, seketika Lengkara memanggil pengasuh untuk membantunya.
Bima tampak panik kala wanita paruh baya itu mengambil alih Dewantara dari pelukan sang istri. Entah apa yang direncanakan Lengkara, tapi Bima kini mengeratkan pelukannya pada Dewangga.
"Dewangga laper? Sini sama mama, belum waktunya Dewangga mam ini, Sayang ... mending ini saja," ucap Lengkara menunjukkan senjata paling ampuh untuk merayu putranya, seketika Dewangga resah dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Bima kala melihat sumber kehidupan itu.
Tidak hanya Dewangga, tapi Bima juga turut tercengang bahkan tidak mengalihkan pandangan dari sang istri. Bima masih terkejut dan mendadak kenyang, dia hendak mengakhiri makannya kala Lengkara beranjak. Namun, detik itu juga Lengkara menggagalkan rencana Bima.
"Habiskan, jangan mubazir!!"
"Tu-tunggu, Ra!! Mas sebentar lagi sudah," pinta Bima panik kala sang istri kini mulai menjauh, meninggalkan dirinya sendiri saat ini.
"Pakai ditinggal lagi, Lengkara tunggu!!"
.
.
- Edisi Keluarga Kecil Bima -
__ADS_1