
Berbeda dengan keluarganya, keluarga Bima ternyata lebih sibuk dari yang dia kira. Bukan hanya orangtua, tapi juga adik-adiknya. Hingga menjelang malam Lengkara belum melihat mereka berkumpul di rumah, hanya ada pelayan yang menyapanya.
Lengkara tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh, maklum saja mungkin memang kesibukan setiap orang berbeda. Hal itu juga yang membuat dia tersadar kenapa Bima begitu berbeda dari Yudha di awal pertemuan.
Suaminya hidup di lingkungan keluarga yang tidak sehangat Yudha, hal itulah yang menjadi pemicu utama kenapa Bima bahkan malas untuk sekadar bicara.
Bicara tentang Yudha, Lengkara penasaran bagaimana kabarnya. Lambat laun dia akan bertemu juga, apa mungkin senyum dan candanya masih sama ketika nanti saling bertatap mata? Entahlah, mungkin iya, walau tidak sedalam dulu.
Lengkara menghela napas pelan, ketika dia bertemu Papa Atma, pria itu mengatakan ingin bicara bersama Bima nanti malam. Entah apa yang akan mereka bahas, tapi hati Lengkara mulai was-was. Bahkan, dia sampai tidak fokus kala memilihkan pakaian untuk sang suami.
"Malam, Sayang ... masa pakai kemeja, kamu mau pergi keluar sama mas malam ini?"
Bima tersenyum tipis, sejak tadi dia sadari istrinya terlihat aneh. Entah apa yang dia pikirkan, tapi yang jelas gurat kesedihannya menjelaskan jika Lengkara sesedih itu.
"Tidak, Mas ... aku benar-benar lupa," jawabnya mengulas senyum hangat, secepat itu ekspresi Lengkara berubah, padahal dia pahami wajah itu menjelaskan tentang luka.
"Serius juga tidak masalah, kamu seperti tidak nyaman di sini," ucap Bima menghela napas panjang, dia tidak akan menganggap Lengkara berlebihan karena memang benar adanya dia tidak baik-baik saja.
"Nyaman, masa pergi juga nanti papa makin marah."
"Dia tidak berhak marah padamu, Ra ... suamimu itu mas, bukan papa."
__ADS_1
Seperti biasa, selain tidak banyak bicara Bima juga tidak suka sakit kepala. Semudah itu dia mengambil keputusan, tidak ada yang perlu dipermasalahkan karena memang benar adanya bahwa papanya tidak berhak marah pada Lengkara.
Kata orang, dalam pernikahan tidak ada yang sempurna. Selalu saja ada cacatnya, jika mertua baik, maka ipar yang bermasalah ataupun sebaliknya. Hal itu juga berlaku untuk suami, bukan berarti karena sudah menikahi maka dia akan selalu berusaha sempurna sebagai pendamping.
Lengkara sangat paham akan hal itu, kakaknya sudah menikah dan tidak ada yang lepas dari ujian semacam itu. Memiliki suami seperti Bima sudah lebih dari cukup, tidak perlu mertua baik selagi sang suami begitu menjaga hatinya
"Tapi aku takut mas juga yang kena sasarannya."
"Jangan khawatir, mas sudah sangat dewasa untuk menghadapi kemarahan papa," ucap Bima menenangkan sang istri, meski jujur saja dia agak khawatir malam ini justru benar-benar menjadi puncak dari memanasnya hubungan mereka.
Selang beberapa lama, terdengar ketukan pintu yang memaksa mereka harus keluar tentu saja. Sudah waktunya makan malam, dan hal ini yang selalu Lengkara takutkan. Besar kemungkinan pertemuan bersama Yudha akan dimulai sebentar lagi, Lengkara takut saja jika dia justru menyakiti Bima secara tidak sengaja nantinya.
Tiba di ruang makan Lengkara kembali merasakan hal yang begitu berbeda. Tidak ada candaan berebut kursi atau semacamnya. Lengkara mengekor di balik punggung Bima, rasa lapar yang tadi seakan musnah begitu saja, sungguh.
Suara Raja sejenak menenangkan hati Lengkara, maklum saja dia sudah terbiasa hidup di lingkungan keluarga yang terkadang sulit untuk serius. Jelas dia butuh interaksi semacam itu, tapi bukan berarti dia benar-benar tergoda untuk duduk di sisi Raja.
"Jangan bercanda di meja makan, Raja ... itu kursi Yudha, biarkan kakakmu duduk bersebelahan, jangan diganggu."
Lengkara pernah menghadapi dosen killer, tapi ketika berhadapan dengan mertuanya mata Lengkara terbuka bahwa ada yang lebih killer lagi dibandingkan dosennya.
Meski tidak terlalu dia perhatikan, tapi wajah kecewa Raja terlihat jelas di sana. Sementara Bima tersenyum tipis usai papanya bicara, mungkin karena dia tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk membuat Raja diam.
__ADS_1
"Pa ... kita harus tunggu kak Yudha ya? Lama, Pa basi nanti," keluh Arjuna yang mulai gusar dan menatap makanan di piringnya.
"Yudha tidak akan lama, tunggu saja."
Yudha memang istimewa, begitu yang dapat Bima simpulkan. Mungkin karena penderitaan pria itu hingga sang papa benar-benar menyayangi Yudha. Kendati demikian, Bima sama sekali tidak merasa iri karena Yudha pantas diperlakukan seperti itu.
"Papa tidak bohong, 'kan?"
"Tidak, kata pak Chan sudah di depan," jawab papanya kemudian yang seketika membuat Arjuna berseru yes seolah memenangkan undian.
Jawaban Papa Atma membuat Arjuna tersenyum, tapi Lengkara justru panas dingin. Bukan karena masih cinta atau semacamnya, tapi memang canggung saja. Setelah perpisahan menyakitkan itu, dia kembali dipertemukan dengan status yang berbeda, manusiawi sekali jika dia gusar.
"Malam semua ... kalian menungguku?!"
Suara itu, baru saja dipikirkan tiba-tiba terdengar dan hal itu membuat Lengkara menunduk dalam. Bima menyadari perubahan Lengkara, dia menggenggam jemari sang istri yang sejak tadi sudah terasa dingin.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1