
Beberapa bulan kemudian.
Waktu berjalan begitu cepat, setelah sembilan bulan penantian panjang, Lengkara kini tiba di hari penentuan. Hari dimana sakit yang dia nanti itu benar-benar dia rasakan, tidak hanya sekadar sakit, tapi sangat-sangat sakit.
Sejak tengah malam Lengkara mulai merasakan tanda-tanda dia akan menyambut kelahiran sang buah hati. Hingga kini menjelang fajar dia masih bertarung antara hidup dan mati, teriakan yang lolos dari bibirnya seolah mengalahkan gemuruh petir di luar sana.
"Hiyaaaaaaaaa sakit sekali, Mama!!"
"Sabar, Ra ... nanti suaramu bisa habis."
Mama Zia berusaha menenangkan putrinya, dia yang baru masuk lima menit lalu sudah dibuat stres dengan proses kelahiran Lengkara. Lantas bagaimana Bima yang menemaninya sejak tadi? Tidak bisa Mama Zia bayangkan, wajar saja saat ini menantunya hanya bisa pasrah dan memejamkan mata kala Lengkara melampiaskan rasa sakit dengan menarik Bima.
"Sakit, Ma!! Seperti dilempar dari puncak Rinjani ... Awwww dok kenapa sakit banget ya? Pas bikin tidak ada sakit-sakitnya sama sekali padahal."
"Heh Lengkara!!"
Mungkin rasa sakit membuat rasa malunya gugur seketika hingga selancang itu bicara. Lengkara merengek, dia kembali dan membuat Bima semakin kacau balau. Sejak awal sudah dia katakan operasi saja, tapi karena Lengkara nekat dan mengatakan ingin merasakan perjuangan seorang ibu kala melahirkan normal Bima terpaksa mengalah.
Kini, terbukti bagaimana sulitnya sang istri. Tidak hanya dia sebagai suami yang repot, tapi juga mama mertuanya. Di luar itu Bima tidak tahu, mungkin saja papa mertua dan para kakak iparnya tengah berperang dengan rasa takut dan khawatir di sana.
"Aduh, Ma aku nyerah," ucapnya memejamkan mata dan membuat Bima panik seketika, sontak Bima menguat diri dan menggenggam erat tangan sang istri.
__ADS_1
"Tidak, Lengkara!! Jangan ucapkan itu, kamu ingat seberapa ingin kamu memiliki anak-anak yang lucu? Sedikit lagi, Sayang ... ayo mas bantu." Bima meyakinkan sang istri, andai benar Lengkara menyerah maka dunia Bima akan hancur seketika.
"Bantu apa? Mas bantuin buatnya doang lahirannya aku sendiri." Dia meringis sebelum kemudian kembali menitikkan air mata.
"Maaf, ini mas bantuin ayo kita usaha lagi," lirih Bima dengan mata yang kini membasah dan mulai putus asa.
"Capek, break dulu, Mas ... mungkin dede bayinya juga mager mau keluar, kita tunggu saja ya," ucapnya pelan dan kembali membuat Bima menarik napas dalam-dalam.
"Ya, Tuhan wanita ini, Bim tampar pipinya mungkin sudah terbawa mimpi itu." Meski sudah malu sekali, tapi Mama Zia harus bersikap biasa saja dan meminta Lengkara untuk sadar segera.
"Bu Lengkara ... kita mulai lagi ya, ayo tarik napas_" Ucapan dokter itu terhenti lantaran Kara memotong pembicaraannya.
"Lengkara sadar, buka matamu!! Jangan ngelantur ... kamu sedang melahirkan, bukan lebaran!!" Mama Zia yang sejak tadi sudah gemas berakhir ambil tindakan.
Maklum saja, Bima tidak begitu tega menepuk wajahnya. Karena dia sendiri yang melakukan, tidak begitu kuat dan dia lakukan pelan-pelan.
Lengkara bukan tidak berjuang, sejak tadi memang sudah dia lakukan. Namun, dia sampai di titik lelah dan kehilangan harapan. Segala usaha dia sudah lakukan, awalnya juga dia tenang saja, tapi seiring berjalannya waktu Kara tidak bisa mempertahankan kewarasannya.
Dia sempat terpejam, bahkan Bima yang memanggilnya sempat tidak lagi terdengar. Hingga, gelak tawa dan jerit tangis para keponakan membuat matanya kembali terbuka. Apa yang dia dengar seolah mengembalikan energi Kara, tanpa jerit tangis dan tanpa mengomel tak jelas Lengkara kembali memulai pertarungannya.
Tanpa peduli andai nanti robek atau semacamnya, rasa sakit itu Lengkara abaikan dan terus berpegang pada tangan Bima kuat-kuat. Titik akhir perjuangan Lengkara, dia mengerahkan seluruh tenaga yang dia punya.
__ADS_1
Hingga bersamaan dengan petir yang menggelegar di luar sana, jeritan tangis buah cinta mereka juga turut memecah suasana hingga membuat Bima mengecup keningnya begitu lama.
"Kamu berhasil, Sayang ... anak kita sudah lahir," bisik Bima begitu bangga pada sang istri, Tuhan begitu baik karena beberapa saat lalu Bima hampir dibuat pingsan kala Lengkara kehilangan kesadaran.
"Benarkah, kita tidak sedang bermimpi, 'kan?"
"Hm, tidak, Ra ... semua ini nyata dan keluarga kecil kita benar-benar terwujud, Sayang." Bima sampai bergetar, Lengkara adalah dunianya dan titik kebahagiaan pria itu adalah melihat sang istri kembali tersenyum padanya.
"Baik, Bu ... satunya lagi, tarik nap_"
"Apa? Belum semuanya, Dok?" Lengkara yang tadinya sudah tenang kembali dibuat terkejut kala dokter itu memintanya memulai kembali.
"Belum, Bu Kara, baik kita mulai ya."
"Ah mas Bima!! Kamu terlalu cepat bahagianya!!" sentak Lengkara seketika membuat Bima ingin tertawa sekaligus menangis dalam satu waktu.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1