
Sejak dahulu Lengkara ketahui, bahwa Bima memang pelupa. Bukan kali pertama, bahkan di malam pertama mereka menikah dia salah kamar seolah lupa jika sudah memiliki istri. Kini, dia lupa tentang Raja, lebih parahnya lagi kenapa Lengkara sama iyanya.
Papa Atma tidak marah tentang ini, terlebih lagi usai mendengar cerita Yudha tentang Bima di malam pertama. Ya, walau sebenarnya kasihan karena Raja harus sendiri dahulu di sana.
Walau Yudha sudah memintanya untuk pulang sendiri, dia menolak dan mengatakan masih ada urusan. Entah apa, tapi Bima tidak mengatakan apa-apa pada Yudha yang Raja maksud sebenarnya.
Niat hati pulang di hari yang sama, bahkan Bima sudah berpesan pada sang ibu bahwa mereka tidak akan lama. Namun, ketika berada di Semarang dan memiliki kesempatan untuk berdua saja, keputusan Bima mendadak berubah.
Melihat keadaan papanya telah membaik, pulang kali ini Bima memilih untuk menyenangkan hati sang istri. Setelah menikah memang belum memiliki kenangan spesial. Maklum saja, begitu banyak yang terjadi hingga Bima kehilangan banyak waktu berdua bersama sang istri.
Pantai adalah tempat utama yang Bima tuju, jujur sebenarnya dia tidak tahu apa yang disukai sang istri. Hendak bertanya juga terasa aneh, dia hanya mencoba menerka dan berharap usahanya akan berhasil.
"Kamu suka pantai, Mas?" tanya Lengkara memperat pelukannya, sama sekali dia tidak peduli meski begitu banyak pasang mata yang menyaksikan mereka.
"Suka, Pak Chan sering mengajakku ke pantai sewaktu kecil, tempat ini indah dan mas suka," papar Bima kemudian, sebuah kenangan manis bersama sosok Chandra dikala papanya menggores luka.
"Hm jadi karena itu mas ajak aku ke sini?"
"Bukan, mas membawamu kemari untuk memperlihatkan pada laut dan kemilau senja di sana seberapa indah Lengkara-ku."
Sebuah momen langka yang membuat mata Lengkara membola, seharusnya dia abadikan. Sial, ponselnya tertinggal di mobil dan tidak memiliki bukti valid untuk dia tunjukkan pada Ameera bahwa Bima bisa romantis juga.
"Mas mabuk ya?" Sempat salah tingkah, tapi secepat mungkin Lengkara menepis itu semua, khawatir jika Bima tengah salah bicara.
"Tentu saja tidak, kenapa kau bisa bertanya semacam itu?" tanya Bima menoleh, dia sempat terkejut mendengar pertanyaan Lengkara.
"Aneh saja, belajar dari mana?" Terbiasa dengan Bima yang tidak banyak bicara dan sukar mengutarakan cinta, Lengkara hanya merasa terkejut saja.
__ADS_1
"Tidak dari mana-mana, aku tahu sendiri."
"Benarkah?" Lengkara butuh validasi, dia perlu pengakuan sejelas-jelasnya dari Bima jika ucapan itu murni dari hati, bukan meniru dari sosial media.
"Kau tahu aku paling tidak suka berbohong, dan juga sudah berjanji tidak akan berbohong padamu lagi, Kara."
Bima menjawab setegas itu, padahal hati dan jantungnya tengah berperang karena memang fakta tengah berkhianat. Mana mungkin kalimat itu murni idenya, sejak dahulu Bima tidak pandai merayu dengan kata-kata.
Hanya untuk sebuah kalimat manis itu, dia bahkan begadang demi mencari referensi agar tidak terlalu kaku. Namun, mana mau dia mengaku, Lengkara sudah sebahagia itu usai mendengar gombalan mautnya.
Tak pernah terpikirkan dalam hidup Bima, dia akan kembali mendatangi tempat ini dengan orang yang berbeda. Jika biasanya hanya bertemankan pak Chan yang berjuang menghiburnya, kini Bima datang bersama seorang wanita yang membuat Bima seolah lupa tentang perihnya sebuah luka.
.
.
Sejak tadi dia memandangi ombak tanpa menginjakkan kaki ke pasir pantai. Sudah jelas penyebab utama karena insiden kemarin, padahal sudah sembuh dan tidak separah itu, tapi Bima jadikan alasan agar sang istri menempel padanya.
"Tidak, di sini banyak bulu b4bi, nanti kakimu terluka."
"Bulu b4b_ mana ada," ujar Lengkara memotong pembicaraan Bima.
"Ada, memang terlihat baik-baik saja, tapi kamu tidak tahu seberapa bahayanya ... sesuatu yang terlihat aman, bisa jadi menyakitkan, Ra."
Begitu banyak alasan Bima, tapi Lengkara yang keras kepala memilih turun. Saat ini mereka tidak sependapat, Bima ingin Lengkara terus memeluknya, sementara Lengkara ingin bergandengan tangan dan melangkah bersama.
"Pasangan itu begini, berjalan bersama meniti langkah dengan tujuan yang sama ... kalau mas mau seperti tadi, pelihara tuyul saja." Kaki Lengkara terasa pegal sebenarnya, karena memang sejak tiga puluh menit lalu Bima tidak bersedia menurunkannya.
__ADS_1
"Jika begini bukan pasangan, teman biasa bisa bergandengan tangan." Bima tidak setuju, di sekitar mereka banyak yang bergandengan tangan dan bukan pasangan, melainkan teman bahkan beramai-ramai.
"Lalu yang benar bagaimana? Gendong juga tidak harus pasangan, sama ayah atau kakak juga bisa."
"Kamu mau kuperlihatkan bagaimana pasangan kalau ke pantai?" Bima menghentikan langkah, genggaman tangannya belum terlepas hingga Lengkara terpaksa melakukan hal yang sama.
"Hm, bagaimana memangnya?" Sungguh, Lengkara benar-benar penasaran bagaimana pandangan seorang pria yang minim pengalaman tentang hubungan ini.
Bima tidak segera menjawab, tapi bahasa tubuhnya mulai terlihat. Perlahan, tapi pasti dia mengikis jarak. Tubuh tinggi Bima membuat leher Lengkara agak sedikit sakit, tapi dia terpancing kala Bima menarik tekuk lehernya.
Sempat tak menduga, tapi memang Bima melakukan hal di luar kebiasaannya. Tanpa sedikitpun keraguan, Bima mengecup lembut bibir sang istri. Tidak hanya sekilas, tapi cukup dalam hingga tercipta decapan di antara keduanya.
"Siapa yang berani membantah bahwa kita memang pasangan jika sudah begini," ujarnya usai mengakhiri pagutannya, usapan lembut di bibir Lengkara yang basah membuat wanita itu tersadar dan mengerjap pelan.
Sejak kapan suaminya memiliki keberanian untuk melakukan hal semac ini. Padahal, di hadapan keluarga saja dia sembunyi-sembunyi. Kini, dia bahkan berani melakukannya di hadapan banyak orang, bahkan beberapa di antaranya mengenali Lengkara.
"Ih mas, malu!!"
"Kenapa malu? Bajumu tidak kulucuti, masih utuh begitu."
"Apa malu harus telanjjang dulu? Kan tidak," kesal Lengkara berdecak pelan dan mencubit lengannya.
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1
Hai!! Hari senin, jan lupa tebar kericuhan, vote maksudnya😗 Terima kasih, Zeyeng❣️