
"Pa ...."
Senyum Bima luntur kala sang papa seakan tidak menganggap kehadirannya. Jangankan menyapa Lengkara, dia bahkan pura-pura tidak melihat Bima, putranya sendiri.
Khawatir sikap sang papa menyakiti istrinya, Bima berusaha menghalau kepergian pria dengan kacamata hitam itu. Bima tahu mungkin papanya sangat marah, tapi bukan berarti perlu memperlihatkan kekesalan itu pada Lengkara juga.
"Kau pulang? Papa pikir tidak sudi lagi menginjakkan kaki di rumah ini," ucapnya dengan nada dingin, pria itu membuka kacamata dan menatap sekilas ke arah Lengkara yang terlihat bingung hendak melakukan apa.
Apa mungkin harus menjabat tangannya? Setahu Lengkara begitu dan dia menghampiri Bima meski sang suami belum memintanya mendekat.
"Istrimu?"
"Iya, Pa, Lengkara istriku," ujar Bima berusaha terlihat tenang sembari menatap Lengkara yang tersenyum kaku ke arahnya.
Pria itu mengangguk berkali, dengan tatapan tak terbaca dan senyum tipisnya, Bima kembali was-was dengan apa yang akan terjadi. Cara papanya menatap Lengkara dari ujung rambut hingga ujung kaki bisa dipastikan akan membuat istrinya sangat-sangat tidak nyaman.
Hingga, firasat buruk Bima benar-benar terjadi kala Lengkara mengulurkan tangannya. Seolah sengaja mengabaikan, Papa Atma kembali memakai kacamata hitam itu dan mengalihkan pandangan.
Jangankan menerima uluran tangan Lengkara, dia bahkan memasukkan tangan ke saku celana. Sungguh luar biasa caranya menerima kehadiran sosok menantu pertama di rumah ini.
"Jadi wanita ini yang membuatmu gila, Bima? Susah payah papa mendidikmu menjadi seorang pemimpin ... nyatanya patah karena seorang wanita."
Lengkara terhenyak, seumur hidup tidak pernah dia menerima ataupun memberikan perlakuan semacam ini. Bahkan, terhadap Nathalia yang dahulu membuat masalah, Lengkara tidak sebegitunya.
"Papa!! Apa maksudnya?"
"Tidak ada maksud, masuklah ke kamarmu ... nanti malam kita perlu bicara."
__ADS_1
Seakan tidak berdosa sama sekali, Papa Atma melewati mereka begitu saja. Tampak sebegitu santainya dan seolah tidak peduli apa tindakannya menyakiti Lengkara atau tidak.
Bima masih tidak mengerti kenapa papanya justru semakin dingin. Dua kali lipat dari sebelumnya, apa mungkin hanya karena Bima yang berontak pagi itu menjadi sepanjang ini? Entahlah.
Dugaan awalnya salah besar, agaknya yang mempersiapkan semua untuk menyambutnya datang bukan papanya, melainkan Yudha. Memang salah dia berharap seorang Atmadja benar-benar berubah, pada faktanya dia masih memaksakan seseorang harus menuruti kemauannya.
"Masuk yuk, kamu pasti lelah, 'kan?"
"Papa tidak menyukaiku ya, Mas?"
Bima mengeleng pelan, pria itu tersenyum getir seraya mengusap pelan pundak sang istri. Hendak bagaimanapun dia menjelaskan, apa yang dilakukan papanya memang menyakitkan.
"Bukan, mungkin Papa marah padaku ... jangan diambil pusing," ucapnya pelan, berusaha memberikan ketenangan walau jujur saat ini dia merasa malu pada Lengkara.
"Tapi sepertinya marah sama aku, bukan sama kamu."
"Maafkan sikapnya, nanti mas bicara pada papa ... sekarang kita naik, ada baiknya kamu istirahat saja."
Dia mengekor, mengikuti kemana langkah Bima hingga berakhir di sebuah kamar di lantai atas. Bima sudah begitu dewasa, tapi mata Lengkara dibuat tak berkedip kala melihat dinding kamar penuh coretan dan berbagai poster di sana.
Sama sekali tidak dia duga jika sang suami akan betah di kamar yang seramai itu. Padahal, dalam bayangan Lengkara, kamar Bima mungkin akan seperti kamar Kak Sean dan tidak begitu suka menyimpan banyak barang.
"Kamar Raja ... dulunya kamar mas di depan, tapi dipindah gara-gara Dajjal satu itu," jelas Bima kemudian, tanpa dimintai penjelasan dia sudah bicara lebih dahulu.
"Kenapa tidak dicat ulang? Biasanya mas suka satu warna ... kalau begini apa tidak sakit mata?" tanya Lengkara mengerutkan dahi.
Penataan kamar itu rapi sebenarnya. Hanya saja, warna dinding kamar Bima lebih mirip pagar belakang sekolahnya dulu. Mungkin bagi yang suka, hal semacam itu dianggap sebagai bentuk kesenangan dan memiliki nilai seni, tapi di mata Lengkara sama sekali tidak.
__ADS_1
"Jarang mas tempati, sejak kita bercerai mas jangan pulang ke rumah ... sekalinya pulang tidurnya di sofa ruang tamu, sesekali saja tidur di sini."
"Sehancur itu ya?"
"Kamu dengar sendiri papa bilang apa, aku gila, Ra," jawab Bima mengulas senyum tipis dan menarik sang istri untuk tidur di atas tubuhnya.
"Kenapa tidak dirawat saja kalau gila, Mas?" tanya Lengkara dengan polosnya seraya menyugar rambut sang suami dengan sela-sela jemarinya.
"Sialan, yang ada makin gila, Ra."
Sama sekali dia tidak marah walau Lengkara serius mengatakannya. Memang fakta dia hampir gila, bahkan papanya sudah berencana memasukkan Bima ke rumah sakit jiwa lantaran semakin hari semakin menjadi.
Menatap Lengkara dari bawah begini adalah hal yang begitu Bima sukai. Terlebih lagi, Lengkara yang kerap tiba-tiba mengunggapkan perasaan dengan mengecup wajahnya tanpa diminta. Untuk seorang pria yang tidak pandai bersikap seromantis itu, Lengkara adalah pasangan yang begitu sempurna.
"Mas."
"Iyaa, Sayang kenapa?"
"Aku merasa papa memang tidak menginginkanku ... apa karena kesalahanku dulu?" tanya Lengkara menghela napas panjang, dia sudah cukup dewasa untuk memahami sikap seseorang.
"Kesalahan yang mana? Kamu tidak bersalah."
"Tadi papa mengungkit aku sebagai penyebab mas gila dan merusak semua yang dahulu dia tata ... kalau tiba-tiba papa cari menantu lain gimana, Mas?"
"Mas juga akan cari orangtua yang lain," jawab Bima sesantai itu dan sejenak membuat Lengkara tersenyum tipis.
.
__ADS_1
.
- To Be Continued -