Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 41 - Masih Sama


__ADS_3

"Lengkara ...."


Sejak awal Bima sudah khawatir Lengkara yang katanya menata diri itu terjebak pergaulan bebas. Walau sudah Lengkara jelaskan tidak demikian, melihat seorang wanita yang dia yakini sebagai teman sekamar Lengkara itu, jelas dia semakin kacau.


Bima berlalu dengan langkah cepat, saat ini dia tidak peduli sekalipun Lengkara akan marah dengan kedatangannya, tapi yang pasti Bima merasa pasangan yang tadi akan berdampak buruk pada Lengkara.


Dia yakin betul wanita itu adalah Rona, seseorang yang Caren duga sebagai teman sekamar wanita milik Bima. Pakaiannya masih sama seperti tadi malam dan Caren juga sempat menunjukkan foto Rona dari dekat. Tidak butuh waktu lama, Bima sudah kembali berdiri di depan pintu unit apartemen Lengkara.


Masih dengan perasaan yang sama sekali tidak tenang, Bima menekan bel berkali-kali. Tidak mempan, dia mengetuk pintu dengan meluapkan sedikit emosi, terserah apa kata penghuninya nanti.


"What the ... kau siapa?"


Pintu terbuka, tapi bukan Lengkara yang ada di sana. Melainkan seorang pria bertelanjang dada yang tampak kesal dengan kedatangan Bima. Wajahnya merah padam dengan amarah yang membuncah, mungkin kesal karena terganggu kegiatannya.


"Izinkan aku masuk."


"Ck, kau siapa? Bertamu lihat waktu ... pergilah."


"Honey, siapa?"


Belum sempat Bima menjawab pria yang tadi mengusirnya, seorang wanita berambut pendek itu muncul dari kamar dengan berbalut selimut di tubuhnya. Sudah jelas sebab marah pria ini apa, tentu karena gairah membuncah yang terhenti akibat kedatangan Bima.


"Tidak tahu, kau mengenalnya?"


"Tidak juga, Anda cari siapa?" Berbeda dengan pria itu, kekasihnya lebih sedikit bersahabat.


"Lengkara."

__ADS_1


Bima menjawab tanpa menatap keduanya. Tanpa terduga, pria yang tadi terlihat marah mendadak bersikap baik kala Bima menyebut nama Lengkara. Seolah memang ditunggu, pria itu mempersilahkan Bima masuk segera.


"Masuklah, itu kamarnya."


Usai mengatakan hal itu, pria yang sempat mengenalkan diri sebagai Gery itu kembali ke kamar satunya. Melanjutkan aksi mereka, Bima bergidik begitu mendengar paduan suara dua insan yang sedang tenggelam dalam kenikmatan dunia.


Semakin lama berdiri di depan pintu, semakin Bima merasa tidak nyaman hingga lancang masuk ke kamar yang ditunjukkan Gery sebagai kamar Lengkara. Berharap dessahan dan rintihan itu akan sedikit berkurang, nyatanya begitu dia berada di kamar Lengkara masih juga terdengar.


"Siallan, dia betah tinggal di tempat semacam ini?"


Bima menatap sekeliling kamar Lengkara. Tidak begitu besar, tapi memang nyaman dan tertata seperti dugaannya, ucapan Lengkara bahwa kamarnya berantakan hanya sebuah penolakan karena tidak ingin diganggu.


Wanita itu meringkuk di atas tempat tidur dengan earphone yang terpasang di telinganya tampak tenang-tenang saja. Sama sekali tidak merasa terganggu dengan kericuhan di kamar sebelah.


Bima menghela napas lega, setidaknya ketakutannya tidak terbukti. Namun, bukan berarti dia baik-baik saja, sekalipun Bima bukan pemain, mengingat Lengkara yang semalam bukan tidak mungkin hal-hal semacam itu akan terjadi padanya.


Matanya masih terpejam, sebenarnya baru berencana untuk tidur. Mendapati Rona dan Gery yang begitu bukan kali pertama, sudah berkali-kali, tapi memang tidak setiap hari. Namun, selama ini Rona tidak pernah mengusiknya ketika menenangkan diri.


"Pintu tidak kamu kunci, kalau tiba-tiba pria itu juga menerkammu bagaimana, Lengkara?" tanya Bima menekan setiap kata-katanya hingga membuat mata Lengkara membulat sempurna, sontak dia terbangun dan kini duduk di tepian ranjang.


"Sejak kapan mas di sini? Bukannya tadi sudah pamit? Kenapa? Menyesal? Mau jilat ludah sendiri?" tanya Lengkara mulai mengada-ngada kemana arahnya, padahal baru beberapa saat dia pamit pergi dan kini sudah berada di sini.


"Apa penting hal itu dibahas, Ra? Kenapa bisa tinggal di tempat semacam ini? Apa tidak ada teman lain selain mereka?"


Bima seakan mengerti kemana arah pembicaraan Lengkara. Meski cukup menyakitkan, tapi Bima justru suka mendengarnya.


"Berlebihan deh, Mas ... lagi pula mereka tidak setiap hari, masih bisa dimaklumi."

__ADS_1


Lengkara tampak biasa saja, sama sekali tidak keberatan dengan urusan pribadi teman dekatnya. Selagi tidak mengusik, Lengkara tidak akan merasa terganggu.


"Dimaklumi? Dimaklumi bagaimana, Ra? Apa tidak terbesit sedikitpun ketakutan di benakmu? Hari ini mungkin temanmu, tapi bssok bagaimana? Mungkin saja kamu yang dia jadikan objek mencari kepuasan."


Panjang lebar Bima berucap, sudah persis Zean minggu lalu. Memang, pergaulan Rona cukup mengerikan, tapi soal pertemanan dan kepedulian pada Lengkara juga tidak dapat diragukan.


"Kuno, Mas terlalu berlebihan ... otaknya cuma sebatas itu-itu saja, Rona kekasihnya, kenapa jadi aku yang dibawa-bawa?"


"Kamu tidak mengerti juga? Sekarang mas tanya, laki-laki mana yang tidak berdebar melihatmu? Melihat tubuhmu dan melihat semua yang ada di dalam dirimu? Tidak ada, 'kan?"


"Ada!!" sambar Lengkara cepat, sejak tadi bicara panjang lebar dan dia seolah lupa fakta di lapangan.


"Oh iya? Tunjukkan padaku siapa orangnya? Andai ada berarti memang ada yang salah dengan dirinya," jawab Bima dengan dada yang kini naik turun, Lengkara masih sama, masih sedikit keras dan membantah juga.


"Mas orangnya, kenapa masih tanya," jawab Lengkara menunjuk dada Bima dengan menggerakkan dagunya, apapun alasannya memang benar Bima begitu.


"Apa? Matanya biasa saja ... faktanya beg_"


"Akh!! Cepat, Sayang!!


Belum usai Lengkara berucap, suara dua insan itu semakin mendominasi hingga membuat Bima menarik paksa Lengkara keluar dari kamar itu. Jika terus berdebat maka tidak akan selesai dan telinga Bima mungkin akan sakit dibuatnya.


"Susah payah aku menjagamu, bisa-bisanya berpikir sependek itu."


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2