Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 134 - Semua Salahku


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tidak ada yang bisa membaca alur kehidupan beberapa waktu ke depan. Begitu pula Bima, sama sekali tidak dia duga jika malam ini tiba-tiba dikejutkan dengan darah yang mengalir di bagian inti Lengkara usai sang istri tampak kesakitan di tengah malam panas mereka.


"Ra ... jangan bercanda, kamu kenapa?"


Tidak ada jawaban, dia hanya menekan bagian bawah perutnya kuat-kuat. Lengkara juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi, kenapa tiba-tiba biasanya tidak begini. Andai datang bulan sekalipun, biasanya tidak sesakit ini.


Tidak ada lagi gairrah ataupun kenikmatan tertahan yang Bima rasakan kini, yang ada ketakutan hingga dia bergegas mengenakan pakaian sebelum kemudian membawa sang istri.


Pikiran Bima sudah seburuk itu, besar kemungkinan bukan datang bulan, tapi yang lain hingga dirinya bahkan tidak sempat membangunkan Bu Seruni dan memilih ke rumah sakit sendiri.


"Jangan tinggalkan aku, Lengkara."


Sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah sakit hanya itu yang Bima katakan. Dia takut, sementara Lengkara yang tengah ditangani mungkin mengkhawatirkan dirinya juga.


Hampir pukul 02 pagi, Bima begitu setia menunggu seraya menatap nanar ke depan. Selain takut istrinya kenapa-kenapa, Bima juga takut keluarga besarnya marah, terutama Papa Mikhail..


"Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan?" Bima mengusap pelan wajahnya, bahkan hingga detik ini Bima belum berani menghubungi mereka.


Jika ditanya alasannya, jelas saja takut. Bagaimana tidak? Beberapa waktu lalu keluarga besar Lengkara datang dan memburunya lantaran tidak sengaja menginjak kaki Lengkara. Lantas, bagaimana jika hal ini sampai diketahui mereka? Besar kemungkinan bukan hanya pertikaian kecil, tapi siap-siap menjadi sasaran bogem mentah dari para kakaknya.


"Bima!!"


Detak jantungnya terpacu dua kali lebih cepat kala mendengar suara Kak Mikhayla yang berlari ke arahnya. Entah siapa yang menghubungi, tapi Bima belum memberitahukan hal ini pada siapapun.


"Kak ...."


"Apa yang terjadi? Kenapa kau di sini?"


Bima tidak mungkin bisa berbohong jika pada Mikhayla. Terpaksa, dia jujur sejujur-jujurnya dan mengatakan apa yang terjadi tanpa ditutup-tutupi. Sudah tentu dengan permintaan agar Mikhayla bisa menjaga rahasia, jujur saja dia takut menjadi sasaran amarah keluarga besar istrinya.


"Ya Tuhan, kenapa bisa? Apa tidak ada tanda-tanda dia hamil sebelumnya?"


"Hah?"


Usai menjelaskan panjang lebar, Bima justru dibuat bingung ketika Mikhayla balik bertanya. Hamil? Bima tidak tahu, sama sekali tidak ada tanda istrinya hamil dan mereka juga menjalani pernikahan tidak terlalu fokus pada anak.

__ADS_1


"Iya, walau belum pasti ... tapi aku yakin bocah itu hamil, kau kenapa terkejut begitu?"


Bagaimana tidak terkejut, selama ini semua baik-baik saja. Walau dia belum menikah, tapi sedikit banyak dia pahami jika wanita hamil jelas akan memperlihatkan tanda-tanda, minimal mual atau sakit kepala seperti dahulu mama tirinya mengandung Arjuna.


"Hamil." Bima bergumam, sesuatu dalam dirinya menghangat seketika, senyum itu terbit meski sebenarnya dia tengah berada di dalam pelukan bencana.


Namun, senyum Bima hanya berlangsung selama beberapa detik. Raut wajahnya mendadak berubah kala Mikhayla tampak gusar dan menggigit ujung kukunya. Hal biasa yang kerap dilakukan seseorang manakala hatinya gundah, besar kemungkinan Mikhayla juga tengah merasakan hal yang sama.


"Kenapa, Kak? Apa hal ini bisa berakibat fatal?" tanya Bima dengan perasaan yang mulai tak karu-karuan, berita itu seakan bukan hal baik, melainkan sebaliknya.


"Istrimu pendarahan, tidak hanya anakmu, tapi dia juga bisa celaka," papar Mikhayla seketika membuat Bima lemas.


Bima yang tadinya mulai sedikit tenang, mendadak semakin kacau dan waktu seolah sangat lama. Entah apa yang tengah Lengkara hadapi di dalam, tapi yang jelas kepala Bima sudah sakit luar biasa.


"Tenanglah, Zeeshan adalah dokter terbaik di rumah sakit ini ... kau hanya perlu berdoa," ucap Mikhayla meyakinkan adik iparnya, meski jujur saja dia ingin marah sebenarnya.


.


.


Kini, Lengkara telah selesai melewati masa kritisnya. Sejak diizinkan mendampingi, Bima selalu berada di sisi sang istri, hingga pagi ini dia kembali mengusap pelan wajah Lengkara seraya tersenyum menatap perut yang istri yang masih datar.


Setelah melewati malam-malam penuh ketakutan, pernyataan dokter akhirnya membuat Bima sedikit lebih tenang sekaligus bahagia. Dugaan Mikhayla jika Lengkara tengah hamil, ternyata benar adanya.


Berita itu jelas sangat baik, Bima tidak henti mengecup jemari sang istri sebagai ungkapan terima kasih karena telah melewati masa sulit. Namun, fakta yang terjadi hingga detik ini Lengkara belum bangun juga membuat Bima was-was dan tidak bisa berpikir jernih.


"Kau yakin dia baik-baik saja, Shan? Kenapa sampai detik ini belum bangun juga?"


Zeshan sudah masuk berkali-kali demi memastikan keadaan pasiennya. Namun, memang belum ada tanda-tanda dia akan terbangun segera. Entah karena Lengkara yang memang persis kerbau atau memang ada yang salah dengan wanita itu.


"Tunggu saja, Bima, dia memang baik-baik saja untuk saat ini."


"Boleh kutahu kenapa dia bisa sampai seperti ini? Selain karena aku," ucap Bima memerah, jujur saja dia malu, terlebih lagi kala Zeshan sudah tersenyum simpul di sana.


"Istrimu kelelahan ... apa yang dia lakukan sebenarnya? Apa kalian baru saja melakukan perjalanan jauh?" tanya Zeshan menatap lekat Lengkara.

__ADS_1


"Satu minggu lalu aku mengajaknya ke Semarang, banyak yang kami lakukan di sana. Aku tidak berbohong, dia terlihat baik-baik saja."


"Kau yakin? Aku lihat Lengkara kembali menggeluti dunia yang dia sukai, apa kau bisa pastikan istirahatnya cukup, Bima?" tanya Zeshan kemudian, detik itu juga Bima mendadak Bungkam.


Jika bicara masalah jam istirahat, sang istri memang terlalu keras pada diri sendiri akhir-akhir ini. Bahkan, dapat dikatakan jam tidur Lengkara lebih sedikit dibandingkan Bima. Terlebih lagi, dia mengingat Lengkara melakukan semuanya sendiri, Bima hanya bisa memantau keseharian Lengkara ketika akhir pekan.


Sibuknya memang luar biasa, tapi dia terlihat baik-baik saja. Agaknya Bima terlalu percaya melihat Lengkara yang aktif seakan tidak mengenal kata lelah. Tidak hanya sekali dua kali, tapi beberapa kali Bima kerap menangkap basah sang istri melanjutkan pekerjaan tanpa izinnya.


"Semua salahku," ucap Bima pada akhirnya, setelah dia pikir-pikir apa yang Lengkara alami adalah dia sebab utamanya.


"Jangan menyalahkan diri, aku hanya bertanya ... aku yakin kau tidak ingin dia seperti itu bukan?"


"Tetap saja, jika aku tidak begini maka Lengkara tidak akan susah payah membantuku," ucapnya kembali meratapi kesalahan yang dia lakukan.


Suasana seketika berubah sunyi, Zeshan tidak bisa berucap banyak karena mengerti apa yang dirasakan Bima saat ini. Beruntungnya, wanita yang sejak tadi mereka khawatirkan kini perlahan membuka mata dan menatap kedua pria itu secara bergantian.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanpa peduli ada Zeshan di sana, Bima mengecup dan merengkuh Lengkara begitu erat, menunjukkan jika dia benar-benar takut kehilangan.


"Kau siapa?" Lama terdiam, Bima tiba-tiba dibuat terkejut dengan pertanyaan yang lolos dari bibir Lengkara.


"Ra? Apa yang_"


"Apa kau mengenalku?" tanya Lengkara dengan raut wajah yang sama, sama-sama membuat Bima hampir gila.


"Shan, kenapa bisa begini?"


Zeshan yang menyaksikan hal itu hanya mengerutkan dahi, sama seperti Bima, dia juga bingung sendiri dan mulai menerka-nerka apa yang terjadi. "Curiga kepalanya terbentur, tapi kata Bima tidak."


.


.


- To Be Continued -


Akhir-akhir ini aku up 1000 kata lebih, apa mata kalian aman-aman saja?

__ADS_1


Ramein komentarnya, biar rada semangat dikit ... 300 komen kayak dulu bisa ya?😗 Author up empat eps besok kalau pagi-pagi beneran kecapai 300 komen (Kalau ya). Babay❣️


__ADS_2