
Sebagaimana rona kemerahan kala senja, semua akan berganti jika sudah waktunya. Tidak ada satupun yang abadi, begitu juga dengan nestapa dalam dada. Bertahun-tahun Bima merasakan lara, hidup dalam genggaman penguasa dan terpenjara dalam istana bak neraka, hari ini dia menikmati manis dari segala rasa sakit yang pernah dia terima.
Setelah drama panjang terlewati dengan sempurna, Bima dapat menatap wajah menyedihkan Gilsa yang tampak berontak dengan takdirnya. Bagaimana tidak, pasca statusnya resmi menjadi janda tanpa mendapatkan apa-apa, kini dia kembali menelan pil pahit lantaran harus menghabiskan 25 tahun penjara dalam menjalani sisa hidupnya.
"Kau puas sekarang? Ini yang kau mau sejak dulu, 'kan? Hahah dasar tidak tahu terima kasih, aku tetap ibumu kau jangan lupa itu, Bima."
"Ibu? Apa dinding penjara terlalu dingin hingga rasa malu itu benar-benar membeku dalam darahmu, Gilsa?" Bima tersenyum tipis, jika dia ingat-ingat mungkin ini adalah kali pertama Bima menatap mata Gilsa.
Sudah tentu bukan karena menghargai lawan bicara, melainkan merendahkan Gilsa serendah-rendahnya. Saat ini hanya mereka berdua, tidak ada yang lain dan Bima bicara tanpa perlu khawatir papanya marah seperti yang selama ini terjadi.
"Apa maumu? Jika hanya ingin menertawakan aku, pergilah."
"Salah-satunya, tapi kau tahu bahwa aku tidak sejahat itu bukan?" tanya Bima kembali tersenyum simpul, raut wajahnya benar-benar bahagia di atas penderitaan Gilsa.
"Cih, kau pikir aku tidak tahu isi otakmu ... pergilah, nikmati kebebasanmu selama aku mendekam di penjara, aku pastikan kau akan menyesali semua perbuatanmu padaku suatu saat nanti."
Sudah dalam keadaan selemah itu, tapi Gilsa masih berusaha memperlihatkan taringnya. Jika dahulu mungkin Bima pernah takut dengan bentakan dan ancaman Gilsa, kini tidak lagi. Jangankan takut, ucapan wanita itu bahkan sama sekali tidak membuat jiwanya terusik.
"25 tahun itu lama, apa kau yakin masih baik-baik saja, Gilsa? Kau akan renta dan menua, nasib baik jika tidak penyakitan, dengan keadaan yang begitu kau masih mampu mengancamku? Ada baiknya kau berpikir bagaimana caramu bertahan hidup 25 tahun kedepan."
__ADS_1
Seumur hidup Bima dipertemukan dengan banyak karakter manusia, dan Gilsa adalah wanita paling angkuh yang pernah dia temui. Sungguh, Bima masih tidak habis pikir kenapa bisa Papa Atma mencintai wanita iblis semacam ini sebagai pendamping hidupnya.
Bahkan, sikap Gilsa jauh lebih angkuh dibandingkan Panji yang mengakui semua kesalahan bahkan berlutut di kaki Bima dan Papa Atma demi mendapatkan kata maaf. Walau mungkin saja hal itu Panji lakukan demi mengurangi 25 tahun masa tahanan, tapi setidaknya pria itu sadar akan kesalahan yang dia perbuat.
"Silahkan kau berkhayal ... lakukan sesukamu dan aku tidak akan melarang, tapi satu hal yang perlu kau ingat, jangan terlalu percaya diri dan yakin jika takdir masih berpihak padamu."
Bima berlalu setelah memastikan jika Giska benar-benar hancur. Hatinya sangat puas, raungan dan teriakan yang menelisik indera pendengarannya semakin membuat senyum Bima mengembang.
"Anak badjingan!! Kau telah menghancurkan kebahagiaanku ... maka kau juga akan merasakan hal yang sama, entah kehilangan anak atau istri bahkan jika bisa kehilangan keduanya!!"
Deg
Cukup lama dia terdiam, bahkan tempat itu sudah hening sebenarnya. Namun, anehnya ucapan Gilsa seakan terngiang-ngiang dalam benak Bima. Bukan karena percaya mitos atau sebagainya, tapi kondisi Lengkara yang kini tengah mengandung buah hatinya membuat pendirian Bima seakan lemah.
.
.
"Sudahlah, sejak kapan kau percaya takhayul, Bima."
__ADS_1
Sebisa mungkin Bima bersikap tenang, tapi selama di perjalanan pria itu gusar juga. Niat hati hanya ingin membuat mental Gilsa tertekan, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Pria itu meghela napas panjang, hiruk pikuk ibu kota siang menjelang sore kali ini masih sama seperti dahulu.
Tidak ada yang berubah, bukankah seharusnya Bima merasa semuanya lebih baik? Perlahan, pria itu kembali melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Seraya berharap dia dapat membawakan sesuatu untung sang istri.
Sebenarnya Lengkara tidak begitu banyak permintaan. Sejak awal kehamilan hingga kini memasuki trimester kedua Lengkara tidak termasuk kategori ibu hamil yang rewel. Sedikit mengecewakan ekspetasi Bima, sejak lama dia yang justru berharap sang istri akan banyak mau seperti istri rekan kerjanya.
Satu minggu terakhir keduanya berada di Semarang. Bima beralasan merindukan rumahnya dan ingin menghabiskan waktu bersama Lengkara di sana. Padahal, alasan sebenarnya karena dia ingin menemui Gilsa dan Panji saja.
30 menit perjalanan yang Bima tempuh, pria itu tiba di kediaman Papa Atma dan disambut Yudha yang tengah mencuci mobil kesayangannya. Seperti tidak ada kegiatan lain saja, atau mungkin pria itu tengah berkurang kesibukannya.
"Kau dari mana?" tanya Yudha mengerutkan dahi, dia hanya pamit untuk mencoba mesin mobil lamanya, tapi pulang-pulang membawa buah sebegitu banyaknya.
Bima tidak menjawab, dia menghela napas perlahan dan menghampiri Yudha dengan wajah melasnya. Dia butuh pendengar yang bisa menenangkan diri, setidaknya paham bagaimana ketakutannya, itu saja.
"Kau percaya kutukan, Yudha?" tanya Bima seketika membuat kening Yudha berkerut, tiada angin tiada hujan Bima melontarkan pertanyaan konyol itu.
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -