Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 75 - Jaga Sikap!!


__ADS_3

Hukuman semacam ini kerap dia rasakan ketika remaja. Bukan hal asing bagi Bima, dia sudah terbiasa dihukum dengan cara ini. Hanya karena dia menolak perjodohan dan meninggalkan papanya sewaktu pura-pura pingsan, kini dia harus menikmati hukuman semenyebalkan ini.


"Itu adalah hukuman karena kau berani membohongi papa!! Merahasiakan segalanya seolah papa tidak penting!! Dan membuat papa malu di hadapan pak Andra!!" tegas Papa Atma membuat Bima menghela napas panjang.


"Pa, sudah kukatakan aku tidak mau menikahi Renjana ... salah sendiri kenapa masih keras kepala," balas Bima sama sekali tidak peduli andai papanya akan semakin marah.


"Anak ini benar-benar ... hukumanmu kutambah 10 menit!!"


Bima jelas tidak terima, berjam-jam dia di minta masuk ke ruangan kerja sang papa ternyata hanya untuk menikmati hukuman semacam itu. Dia kira setelah dewasa hukuman semacam ini tidak akan lagi dia rasakan, nyatanya masih saja.


"Hei angkat kakimu!! Belum selesai, Bima!!"


"Melelahkan, Papa saja yang teruskan," ucapnya mengakhiri hukuman konyol itu meski tanpa persetujuan. Bima hendak berlalu, tapi dia sempat menoleh karena merasa ada yang kurang dan papanya perlu dengar.


"Oh iya, tolong jaga sikap papa di hadapan istriku, keluarganya begitu menghargai aku ... aku tidak segan meninggalkan papa jika papa tidak menginginkan kami berdua," tambahnya kemudian.


Bima berlalu begitu saja tanpa peduli walau papa Atma terus berteriak memanggil namanya. Tepat di depan pintu, Bima dibuat terkejut lantaran Yudha berdiri di sana, kemungkinan besar menguping pembicaraannya.


"Kau sedang apa?"


"Papa bilang apa? Diminta poligami?"


Bima bertanya, dan Yudha justru balik bertanya. Dia mengekor di belakang Bima demi meminta penjelasan terkait hasil pembicaraan antara kedua pria beda generasi itu. Dalam pikiran Yudha, hanya ada kemungkinan itu dan tidak mungkin meleset.


"Bim ... jawab pertanyaanku."


"Kau berharap papa memintaku poligami?" tanya Bima menghela napas kasar, jujur dia agak sedikit sebal pada Yudha malam ini.


Bukan dia tidak tahu, sebagai seorang suami jelas saja dia peka bagaimana cara seseorang memerhatikan istrinya. Terlebih lagi, Yudha adalah masa lalu Lengkara. Selama di meja makan, perhatian Bima hanya tertuju pada Yudha yang terkadang mencuri pandang ke arah istrinya.

__ADS_1


"Kau marah padaku? Kenapa lagi, Bima?"


"Kau masih mencintai istriku?" tanya Bima menatap tajam mata Yudha yang kini menganga seolah bingung dengan perubahan sikap Bima.


Dahulu, Bima memang mencintai Lengkara dan Yudha tahu akan hal itu. Kendati demikian, Bima tidak pernah melontarkan pertanyaan atau menunjukkan hal-hal yang membuat dia terlihat tak suka jika Yudha membahas perasaan.


"Kenapa pertanyaanmu begitu?"


"Iya atau tidak?!" desak Bima masih dengan tatapan tak terbaca ke arah Yudha. Sejak tadi dia hanya memendam saja, tapi tahu betul sikap Yudha di ruang makan justru memancing istrinya untuk peduli.


"Sial pertanyaanmu ...."


"Jawab saja apa susahnya, iya atau tidak?"


"Kalau aku jawab iya bagaimana?" Yudha ikut meninggi, dia hanya bertanya dan mungkin Bima justru tidak suka.


"Lupakan, jangan mencintainya lagi."


Namun, kali ini dia tidak bisa. Membayangkan ada hati lain yang mencintai istrinya saja dia tidak rela, sungguh. Terlebih lagi, dia sempat menyaksikan bagaimana Lengkara mencoba menatap Yudha ketika makan malam.


"Tidak lagi ... kenapa kau sensitif sekali?"


"Takut saja, aku tidak tahu isi otakmu yang sebenarnya, Yudha."


"Tidak, Bima ... kau boleh menganggapku banci, tapi satu hal yang tidak akan pernah aku lakukan di dunia ini adalah menjilat ludah sendiri."


"Kau menyindirku barusan?"


Dia sadar termasuk kategori penjilat ludah sendiri, Lengkara juga mengatakan hal itu dan dia sudah mengakuinya. Namun, ketika Yudha mengatakan hal itu sontak Bima naik darah dan ingin mengulitinya saat itu juga.

__ADS_1


"Tidak ada, kenapa emosimu semakin menjadi, Bima?"


Tidak ingin pertikaian itu kian menjadi, Yudha meminta Bima untuk ke kamar segera. Agaknya emosi pria itu memang tidak stabil sama sekali, mungkin karena kesal akibat menemui papanya, diberikan hukuman apa Yudha juga tidak lagi bertanya.


.


.


Benar saja, kekesalan Bima baru mereda kala dia tiba di kamar. Wajah cantik Lengkara yang tampak bosan menunggunya membuat Bima lupa jika kakinya sampai mati rasa.


"Kenapa belum tidur? Menungguku?" Bima yang lelah menghampur ke pelukan istrinya tanpa aba-aba.


"Tentu saja ... Mas kenapa lama?" tanya Lengkara mengusap pelan pundaknya, deru napas Bima tampak tidak biasa.


"Papa menghukumku dengan cara konyol, menyebalkan sekali."


"Hm? Dihukum gimana, Mas?"


Meski sedikit malas, Bima menjelaskan dengan detail apa yang dia alami di ruang kerja papanya. Hati Lengkara yang begitu mudah tersentuh jelas saja menghangat dengan hal ini, setidaknya sang suami tidak menjadi sasaran amarah papanya.


"Capek jadi ceritanya? Mas mau kupijat?"


"Pijat saja?" tanya Bima menatap wajah sang istri yang begitu tulus memberikan tawaran untuknya.


"Iya, aku jago loh, gini-gini aku suka pijat papa ... Mas tidak mau coba?"


"Mau, tapi kalau sama mas bukan pijat saja, 'kan pelayanannya?" Bima mengedipkan mata, mudah sekali terbaca hingga Lengkara hanya bisa mencubit perutnya.


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2