
Pertikaian malam itu berakhir dengan keputusan Atma untuk menceraikannya sudah bulat dan Seruni mengalah. Namun, bukan berarti mengalah atas segalanya. Dia hanya menerima perceraian, bukan berarti rela kedua putranya berada dalam kekuasaan Atma.
Beruntung saja, mertuanya masih berbaik hati dan menjadi penengah di antara keduanya. Melihat Seruni yang bekerja keras mungkin saja dia membesarkan seorang anak, tapi jika dua rasanya sedikit mustahil.
Untuk itu, diambil jalan tengah yang sekiranya paling adil. Beberapa hari setelah Seruni diizinkan pulang, dia pergi baik-baik dan Gilsa yang saat itu berstatus sebagai kekasih Atma hadir di sana.
"Jaga anak kita, Mas ... selayaknya aku menjaga Yudha," ucap Seruni dengan air mata yang bercucuran setiap kali menatap bayi mungil yang sempat dia susui tadi pagi.
"Tidak perlu kau ajari, mas Atma juga mengerti, Runi."
Sakit, tidak rela dan ingin rasanya dia berontak kala melihat Bima tertidur pulas dalam pelukan wanita lain. Wanita yang Atma katakan akan menggantikan perannya menjaga Bima, wajah wanita itu tampak puas melihat akhir dari pernikahan mereka.
Untuk terakhir kali, Seruni melangkah maju hendak mengecup putranya sekali lagi. Namun, secepat itu Gilsa menghindar hingga Seruni menatapnya bingung. Dadanya seolah sakit, seolah wanita asing ini berkuasa atas putranya dan hal itu benar-benar tidak bisa dia terima.
"Bima baru saja tertidur ... aku tidak ingin dia menangis dan kau jadi punya alasan untuk tetap di sini, lagi pula bukankah kau sudah setuju dan memberikan anak ini padaku? Jangan pernah menjilat ludah sendiri, Seruni."
Tidak ada pilihan lain, Seruni terpaksa melangkah pergi dengan membawa Yudha. Semakin jauh dia melangkah, semakin sakit hatinya. Dia sempat menoleh dan melihat Atma yang merangkul Gilsa dengan sang putra yang ada dalam pelukan wanita itu.
Tampak begitu bahagia, keluarga yang Seruni inginkan ada di belakangnya. Hari itu, Seruni berharap Bima akan mendapatkan kehidupan yang baik dan diselimuti kasih sayang sebagaimana yang Atma janjikan.
Sama sekali tidak dia ketahui jika Bima ternyata mengalami luka batin sejak kecil. Semua yang Atma ucapkan tidak terbukti, sialnya dia baru mengetahui itu ketika Bima sudah dewasa dan menemukannya kembali tanpa Seruni cari.
Dia bukan melupakan Bima, sama sekali tidak. Jika saja dia tahu pria penyayang itu bisa berubah menjadi monster untuk putranya, mungkin dia akan melakukan segala cara untuk mengambil Bima juga.
"Maafkan ibu, Nak ... sebelum membenci ayahmu, ibu adalah orang pertama yang harusnya kamu benci, Bima."
Dia terisak usai menjabarkan panjang lebar masa lalu yang mungkin seharusnya Bima tahu, tanpa ditutup-tutupi dan tidak membenarkan perbuatannya. Andai Bima benar-benar membencinya, maka Seruni akan terima.
"Ibu meninggalkanmu, ibu adalah penyebab luka yang kamu terima ... andai saja dulu ibu tidak menjerat papamu, ma_"
"Maka aku tidak akan dilahirkan wanita sehebat ibu, berhenti menangis dan menyalahkan diri, Bu ... cinta tidak pernah salah, hanya saja ibu mencintai orang yang salah dan papa tidak pantas menerima cinta dari wanita setulus ibu."
__ADS_1
Jangankan marah, Bima justru menyeka air mata ibunya penuh kelembutan. Genggaman tangan yang kini dia berikan tengah mencoba menguatkan sang ibu, sekalipun benar ibunya licik atau sebagainya, sama sekali Bima tidak marah dan menaruh kebencian padanya.
Takdir hanya sedikit kejam padanya, Bima tidak menyesal dilahirkan, dia bersyukur dengan semua yang terjadi padanya. Tidak mengapa meski banyak waktu terbuang, mungkin sewaktu kecil dia tidak menerima kasih sayang ibu kandung, tapi kali ini Tuhan menggantinya berlipat ganda.
"Kamu tidak membenci ibu?"
Bima menggeleng dan kembali bersembunyi dalam pelukan ibunya. Tidak ada alasan untuk Bima membenci ibunya, dia hanya berusaha melakukan apa yang dia bisa.
Apa yang dia dengar sebenarnya cukup menyedihkan. Namun, sama sekali Bima tidak menangis karena hal itu, melainkan dia merasa lega usai mendengar penjelasan panjang lebar dari ibunya.
Licik, tidak tahu diri dan lain sebagainya selalu tersemat untuk sang ibu setiap kali Bima mendapatkan kekerasan dari ibu tirinya. Bertahun-tahun Bima terjebak dalam tanya, dia bingung kenapa mama tirinya benar-benar benci pada sosok yang sudah tiada dan tidak akan mengusik kehidupan mereka lagi.
"Menangislah," ucap ibunya mengusap punggung Bima lembut, dia hanya sempat menjaga Bima kecil tidak lebih dari satu minggu dan itu sakitnya luar biasa.
.
.
"Dia lupa umur atau bagaimana?"
"Sejak kapan menangis kenal umur?" tanya Lengkara mendongak dan sedikit tidak terima kala Yudha berucap demikian.
"Seperti ada yang bicara, tapi siapa ...."
Detik itu Yudha bicara, detik itu pula Lengkara menarik rambutnya hingga pria itu mendongak dan merasakan sakit hingga akar rambutnya. Benar-benar tidak beruhah, kecepatannya dalam menyerah masih luar biasa.
"Ipar laknat!! Sakit."
"Makanya jangan asal ngomong, mas juga pasti pernah nangis dipeluk ibu."
"Tapi aku tidak semanja itu," jawab Yudha menjulurkan lidah dan menunjukkan raut menyebalkan yang berhasil membuat Lengkara murka.
__ADS_1
"Apa salahnya? Mas Bima nangis normal tidak sambil salto," jawab Lengkara tidak mau kalah, bibir cerewet Yudha memang sangat nikmat untuk temannya beradu mulut.
"Hello!! Manusia mana yang nangis sambil salto?" tanya Yudha dengan gaya khas yang dahulu kerap membuat Lengkara geli sendiri.
"Ya ada saja ... bawel banget sih, pulang sana."
"Tidak mau, aku akan tidur di sini kenapa memangnya?"
"Oh iya? Yakin kuat? Kami perang loh nanti malam."
"Bodo amat, semoga ranjangnya patah," pungkas Yudha yang membuat Lengkara mengerutkan dahi, sungguh baik sekali harapan kakak iparnya yang satu ini.
"Doa buruk tidak akan dikabulkan."
"Doa orang teraniaya biasanya diijabah, lihat sana nanti," ucap Yudha yakin betul jika dia akan menang kali ini.
"Tidak Aamiin."
"Aamiin."
"Tidak Aamiin."
"Aamiin."
"Tidak Aam_"
"Kalian sedang apa?"
.
.
__ADS_1
- To Be Continued -