Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 113 - Perlakukan Dengan Baik


__ADS_3

Tidak peduli bagaimana cara Raja dan Arjuna mendekatkan diri, hati Bima masih tertutup pada nyatanya. Dia yang dahulu tidak begitu suka dengan kedua adiknya, jelas semakin tak suka. Dia benci dan rasanya ingin marah, tapi kedekatan Lengkara dengan keduanya membuat Bima berpikir dua kali untuk bersikap dingin.


Usai menikmati makan siang bersama, Raja dan Arjuna benar-benar Bima bebaskan hendak melakukan apa saja. Tidak seperti dahulu, Bima hanya diam sembari memerhatikan kegiatan mereka dari kejauhan.


Sejak kecil, bahkan sejak bayi Bima sudah bersama mereka. Hatinya seakan tidak terima saja kala mengetahui fakta bahwa dua pengganggu itu bukan darah daging papanya. Kenapa harus selama itu, kemana saja dirinya hingga sama sekali tidak menaruh curiga dan berpikir jauh tentang mama tirinya.


"Mereka senang sekali, padahal di rumah ada kolam renang ... tapi di sini, mereka seakan tidak pernah liburan."


Bima menoleh kala Yudha tiba-tiba bergabung di sisinya. Agaknya pemandangan itu cukup menarik untuk diabadikan dari atas balkon kamar. Pandangan keduanya bertemu, entah yang mereka pikirkan sama atau tidak, tapi dari raut wajahnya sama-sama kacau.


"Beberapa hari terakhir mereka memang terus menanyakanmu," tambah Yudha kemudian, jujur saja dia merasa agak sedikit sulit di posisi ini.


"Apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan, Yudha?" Bima menghela napas panjang, dia paham ada makna tersirat dari ungkapan saudaranya.


"Aku menyayangi mereka."


"Lalu?" Sedikit tidak peduli, dan Bima tahu betul soal ini.


"Hanya sedih saja, aku masih berharap mereka benar-benar anak papa sebenarnya." Ucapan Yudha terdengar bodoh, tapi jujur saja perasaan itu nyata dalam hatinya.


"Bodoh, apa yang kau pikirkan?Ibunya iblis dan kau jangan lupa itu!! Mereka lahir dari benalu yang menggerogoti tubuh papa, bisa-bisanya kau sesedih itu, Yudha?"


"Apa di hatimu tidak tersemat perasaan itu, Bima? Mereka anak-anak yang baik walau banyak maunya. Aku rasa mustahil, apalagi kau bersama mereka sejak kecil."


Jika ditanya soal sayang atau tidak, munafik jika Bima tidak menyayangi mereka sama sekali. Jelas saja ada, tapi mungkin tidak akan sedalam Yudha yang memang penyayang dan berhati lembut.


Namun, tentu saja Bima tidak ingin melupakan fakta tentang mereka. Walau pahit, lambat laun tetap harus diakhiri dan Bima tidak lagi kuasa untuk berkubang dalam lautan kotor yang diciptakan wanita paling buruk di dunia ini, Gilsa.


"Kak ayo turun ... berenang berempat!!" teriak Raja menyadarkan mereka jika seseorang yang dipantau sadar akan kehadiran mereka.


"Malas, kalian saja," tolak Bima mentah-mentah, mana mau dia menghabiskan waktu hanya untuk bermain air bersama mereka.

__ADS_1


"Yaah, Kak nolak terus. Kapan kita akurnya? Ayo turun!! Kami sudah jauh-jauh dari Semarang padahal." Tidak hanya Raja, tapi kini Arjuna turut merayu karena memang sulit sekali meluluhkan hati Bima.


"Kabulkan, Bim, kita tidak tahu kapan akan begini lagi. Benar, 'kan?" Yudha tersenyum getir, entah bagaimana kedepannya, tapi bayang-bayang kehancuran bukan hanya berlaku untuk kedua orang tuanya, tapi juga mereka.


"Ck, kenapa harus?"


"Sebagai kakak, buang dulu ego dan kemarahanmu. Mereka tidak bersalah," bisik Yudha yang kemudian berlalu meninggalkan Bima.


Tidak berselang lama, kini Yudha juga turut memintanya dari bawah hingga Bima tergerak. Benar kata Yudha, setelah ini mungkin mereka tidak lagi akan merasakan hal itu. Bahkan, bisa jadi akan menjadi orang asing yang tidak saling mengenal.


Sementara waktu, Bima persilahkan Raja dan Arjuna menikmati hidup sebagai adiknya. Mereka bahagia, tampak sempurna dan merasa istimewa dengan memiliki orangtua dan kedua kakak yang menyayangi mereka.


Bima yang awalnya enggan, ternyata bisa merasakan kebahagiaan dalam riak air dan gelak tawa yang kini menyatu. Sebelumnya mereka punya banyak waktu, tapi jujur saja baru kali ini mereka bisa merasakan kebersamaan sebagai kakak adik secara nyata dan lengkap.


Seharian penuh, banyak hal mereka lalui hingga rona senja terganti kelamnya malam. Semua terjadi begitu saja, tanpa rencana dan ternyata menyenangkan juga. Tidak hanya mereka, tapi Bu Seruni dan Lengkara merasakan kehangatan yang sama.


.


.


"Kau sekarang buta, Yud?"


"Basa-basi, Bro kaku sekali kau ini," ucap Yudha tertawa sumbang, seperti kata Raja bicara dengan Bima harus siap sakit hati.


"Katakan yang penting saja," ucap Bima dingin sembari fokus dengan televisi di hadapannya.


"Okay, kita mulai sekarang," ucap Yudha kemudian menyerahkan beberapa sampel dari tubuh kedua adiknya pada Bima.


"Saat ini kondisi kesehatan papa bagaimana?" Bima bertanya serius kala menerima apa yang Yudha berikan padanya.


"Baik, papa semakin rutin olahraga dan beberapa kali dokter Indra juga datang memastikan kesehatannya," jawab Yudha menatap Bima sekilas, dia paham kemana arah pembicaraan saudaranya.

__ADS_1


"Bagus ... setelah hasil DNA keluar, aku akan menemui papa dan kau tetap awasi mereka."


"Apa perlu, Bim? Apa pengakuan dari om Panji tidak cukup? Bukankah kau merekam semuanya?" tanya Yudha kemudian, karena di mata Yudha hal itu sudah sangat cukup untuk membongkar pengkhianatan Gilsa.


"Kau tahu seberapa bodohnya papa bukan? Pengakuan om Panji akan sia-sia jika lidah Gilsa sudah bertindak merasuki otak papa," tegas Bima masih tetap pada pendiriannya, bagi Yudha mungkin tidak perlu, tapi bagi Bima jelas berbeda.


"Benar juga, aku lupa dia bahkan bisa menggoyahkan hati papa dengan lemah lembutnya."


"Hm, aku paling benci wanita yang menggunakan kelembutan, dasar ular!!" umpat Bima membuang napas kasar, sementara Yudha mulai menatapnya tak yakin.


"Benci?"


"Iya, apalagi lembut dan manja yang dibuat-buat ... argh menjijikkan sekali, ingin kupatahkan lehernya."


"Mas Bimaaaa!! Mas dimanaa?!" panggil Lengkara mendayu seolah balita minta elus.


"Iya, Sayang, sebentar!!" sahut Bima cepat dan berlalu pergi meninggalkan Yudha yang kini mengerjap pelan.


"Dasar aneh, dia tidak sadar jika istrinya adalah contoh nyata makhluk yang dia katakan?"


.


.


- To Be Continued -


Hai, maaf kemarin aku up telat. Ada sesuatu terjadi❣️ Kembali diusahakan untuk normal seperti biasa, terima kasih dukungannya.


Jan lupa, tap love dan ramein kolom komen, Cintaku💕 Hari senin, Vote dan hadiah juga ditunggu jika berkenan, terima kasih banyak🤗


__ADS_1


__ADS_2