Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 93 - Muara Kasih Ibu


__ADS_3

Terkadang, apa yang terlihat tidak sesuai dengan faktanya. Begitulah kata-kata yang pas untuk menggambarkan keluarga kecil yang tengah menghabiskan waktu senggang di pagi ini. Dari kejauhan. mereka amat manis, tapi pada kenyataannya tidak sama sekali.


Usai berdebat perkara bentuk pisang, dua pria dewasa itu tengah beradu argumen terkait pakaian yang digunakan ibunya. Menurut Bima, sang ibu cantik menggunakan apa saja, sementara di mata Yudha jelas begitu berbeda hingga terjadilah adu mulut yang membuat Lengkara mengelus dada.


"Ganti bu, sudah ketinggalan zaman ... warnanya norak, bunganya juga jelek."


"Sinting, buka matamu, Yudha!! Perhatikan baik-baik ibu pantas saja pakai ini," balas Bima tidak terima kala Yudha mengomentari pakaian sang ibu seakan dia komentator di ajak pencarian bakat.


"Di matamu mungkin bagus, memang seleramu sama sekali tidak berkelas ... tapi di mataku gaun itu lebih cocok dipakai untuk ternak kambing."


Sempat terkejut, Lengkara bahkan tercengang mendengar ucapan Yudha. Tiga tahun putus, dia sampai lupa jika bibir Yudha memang begitu, lidahnya tercipta tajam melebihi keris dukun.


"Kau!! Bisa-bisanya? Bu, kenapa diam saja? Minimal pukul matanya," pinta Bima kesal sendiri karena sang ibu santai saja, seakan hal itu sudah sangat biasa.


"Mana tega ibu memukulku, Bim."


Iri sekali mendengarnya, Bima mencebik setiap kali Yudha mengatakan hal itu. Berbeda jauh dengan dirinya, Yudha memang tidak pernah merasakan pukulan atau semacamnya, Bu Seruni begitu menyayangi sang putra dengan penuh kelembutan hingga Yudha sudah sedewasa ini.


"Iya, karena tidak pernah dipukul mulutmu jadi kurang ajar."


Bima mencebik, meski terkesan bercanda, tapi ucapan Yudha yang mencela pakaian sang ibu membuat dia kesal saja. Terlebih lagi, Yudha sesantai itu menyuarakan isi hatinya kala Bu Runi keluar dan turut bergabung di sana.


"Ya, Tuhan kurang ajar katanya ... dengar ya berhala, aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan dan baju ibu memang tidak pantas lagi ... sudah jelek dan seharusnya diganti," ucapnya lancar sekali hingga Bima melirik Lengkara yang susah payah menahan tawa, mungkin panggilan baru dari Yudha lebih lucu dari segalanya.


"Ehem, ya kalaupun jelek di matamu kenapa? Toh ibu cuma di rumah, tidak ikut ke kantor ataupun menghadiri pesta pernikahanmu." Tidak ingin terlihat kalah, Bima mencari cara untuk bisa mematahkan argumen Yudha, agak sulit sebenarnya.


"Masalahnya aku sudah bertahun-tahun lihat ibu pakai baju ini ... dari SD kau bayangkan, Bima!!"

__ADS_1


Wajar saja Yudha mengatakan jika baju itu sudah ketinggalan zaman. Maklum, Bima tidak pernah melihat sang ibu mengenakan dress itu sebelumnya, jadi di matanya bagus-bagus saja dan tidak ada yang salah.


"Ibu nyaman, jangan mengusiknya."


"Huft memang payah kalau tidak paham fashion ... Kara, ajari suamimu gaul sedikit, seleranya kuno bahkan bisa dibilang terjerat fashion jaman purba," omel Yudha sesekali menatap ke arah Bima dengan pisang goreng yang sejak tadi tidak habis-habis.


"Dih sok gaul, Mas Bima kurang gaul bagaimana? Semua yang dia pakai juga masih sesuai zamannya, kecuali kalau dia pakainya daun-daunan baru boleh dikatain purba!!"


Berawal dari pakaian Bu Seruni, beralih mencela selera Bima yang Yudha anggap terlalu tua. Beruntung saja ada Lengkara yang menjadi garda terdepan untuk melawan cerewetnya bibir Yudha, sudah persis wanita dan memang begitulah jika dirawat sepenuhnya oleh seorang ibu.


"Ada-ada saja, Yudha ... padahal ibu tidak pernah mengajarimu begini dulu, bergaul dengan siapa kau ketika dewasa?"


"Tidak heran sih, Bu, memang ada kembarannya di Jakarta," sahut Lengkara yang kemudian disambut gelak tawa oleh Bu Seruni, sudah pasti yang dimaksud adalah mantan atasan Yudha yang baiknya luar biasa.


"Tapi serius, kenapa ibu senang sekali pakai baju itu? Padahal sudah kubelikan yang baru dan jumlahnya tidak cuma satu, aneh."


Satu hal yang membuat Yudha bingung, ibunya benar-benar setia dengan dress biru muda dengan motif bunga tulip di sana. Cantik memang, tapi menurut Yudha terlalu membosankan.


"Hah?"


"Baju ini menemani ibu sejak kalian berada di dalam kandungan ... katanya ibu cantik jika pakai ini."


Sedikit menyesal bertanya, Yudha tahu kemana arahnya, begitu juga dengan Bima. Setelah mendengar jawaban Bu Seruni, mungkin Yudha sama sekali tidak akan bertanya lagi.


Suasana berubah hening seketika, tapi Bu Seruni justru tersenyum hangat melihat reaksi kedua putranya. "Karena ibu hamil, jadi cantik," tambahnya kemudian dan hal itu tetap tidak membuat raut Bima dan Yudha berubah, sungguh.


"Papa yang bilang?" tanya Bima memberanikan diri, sementara Yudha sudah mendelik tajam dan meminta Bima berhenti bertanya.

__ADS_1


"Tentu saja, mana mungkin pak Chan."


Sangat tidak adil, Bima benar-benar tidak terima dengan situasi ini. Kenapa ibunya terlihat baik-baik saja setiap kali menyinggung papanya, hal ini berbeda jauh dengan reaksi Papa Atma yang bahkan marah besar jika menyangkut mantan istrinya.


.


.


Meski sedikit terlambat usai makan siang, Yudha tetap harus kembali dengan kehidupan sesungguhnya. Ya, meski dia masih ingin berada di kediaman ibunya, tetap saja dia harus kembali ke kantor.


Khawatir saja jika terjadi hal yang tidak diinginkan, terlebih lagi saat ini situasi sedang tidak baik-baik saja dan besar kemungkinan pak Atma marah besar andai tahu jika dia meninggalkan kantor di saat jam kerja.


Dia sudah tergesa-gesa, tapi betapa terkejutnya Yudha kala membuka pintu ruangan dan di sana sang papa sudah duduk manis Menantinya. Sontak Yudha gugup, hendak menjawab apa dia andai ditanya? Jika harus mendapatkan pukulan seperti yang Bima katakan, dia tidak siap.


"Papa?"


"Duduklah, papa menunggumu sejak tadi," ucapnya seraya menatap pergelangan tangan kirinya, besar kemungkinan Papa Atma sudah menunggu begitu lama.


"Kenapa tidak menghubungiku, Pa?"


"Papa tidak ingin mengganggu, kau punya waktu untuk makan siang bersama papa, Yudha?"


"Ada apa dengan papa? Tidak biasanya begini ... aku harus bagaimana? Mana perutku kenyang, aku makan banyak karena ibu masak enak."


"Kali ini saja, Nak."


.

__ADS_1


.


- To Be Continued -


__ADS_2