Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 100 - Musuh Paling Berbahaya


__ADS_3

"Bima," desis Yudha berharap Bima tidak meneruskan ucapannya.


"Kenapa, Yudha? Aku hanya cerita agar kau tahu aku sekuat apa ... bahkan, aku bisa menahan lapar dalam keadaan kamar terkunci dan papa menikmati waktu bersama mama tiri padahal janji perginya bersamaku."


Lama tidak bertemu, sekalinya dipertemukan seorang Atmadjaya dibuat bungkam oleh putranya. Bima kecil yang dahulu tidak sempat Bu Seruni kecup sebelum pergi dan tidak memiliki daya untuk berteriak meminta ibunya kembali kini menjadi musuh paling berbahaya untuk Papa Atma.


Kebencian seolah sudah menyatu dalam aliran darah Bima, terlebih setelah kejadian pagi itu. Pagi dimana mereka bertikai dan Papa Atma menyeret Lengkara yang dianggap sebagai pemicu perubahan sikap kedua putranya.


"Jangan berlagak khawatir, Pa ... aku geli, jadi Papa pulang saja."


Begitulah kalimat yang Bima ucapkan kala Papa Atma bertanya tentang keadaannya. Mungkin karena sudah terbiasa diabaikan, Bima menjadi tidak nyaman kala Papa Atma menunjukkan perhatian.


Jujur saja, respon putranya membuat mata Papa Atma memanas. Jantungnya berdegup tak karu-karuan dengan tangan yang mengepal kuat. Dia hendak marah, tapi kemana? Sudah jelas semua adalah salahnya.


Untuk pertama kali setelah puluhan tahun menjadi sosok ayah, Papa Atma merasakan hancur dengan pemberontakan Bima. Tidak begitu kentara, tidak ada Bima yang berteriak ataupun membentak, tapi Bima yang terlihat dingin ternyata begitu menyakitkan.


Tidak kuasa terus berada di sana, Papa Atma berlalu keluar dengan alasan ingin cari angin, padahal mencari tempat untuk menata dirinya. Bertahun-tahun dia mendidik Bima dengan sangat keras, dia yang sibuk dan hanya memiliki waktu begitu singkat terkadang melewatkan banyak hal tentang putranya.


Termasuklah sakit yang dibiarkan, tanpa usaha ke rumah sakit. Bukan maunya, tapi kala itu yang Papa Atma ketahui putranya sangat baik-baik saja. Semua memang kesalahannya terlalu percaya pada Gilsa hingga kerap mengabaikan Bima hanya karena ucapan wanita itu.


"Kau benar-benar membenci papa, Bima?"


Dalam kesendirian, Papa Atma bertanya seraya menatap nanar tanpa arah. Mendengar pengakuannya tadi, waktu seolah membawa Papa Atma menyelami masa lalu. Masa dimana Atmadja muda yang kerap kali menghela napas panjang lantaran selalu telat lagi.

__ADS_1


"Mas telat lagi? Bima sudah tidur ... kita berdua saja ya jalan-jalannya!!"


"Telat ya? Padahal aku sudah lebih cepat dari kemarin," ucap pria tampan itu seraya menatap pergelangan tangannya, kembali dia mengingkari janji bersama putranya.


"Hm, telat sedikit."


"Besok saja bagaimana? Kasihan Bima tidur ... aku usaha lebih cepat besok," ujar Atma yang kemudian membuat wajah istrinya mendadak berubah.


"Aku sudah siap loh, Mas, sudah cantik begini kenapa gagal sih? Belum tentu juga mas besok tidak sibuk, Bima lain kali saja ya," rengek Gilsa bergelayut manja di lengan Atmadja hingga pada akhirnya luluh juga.


Bertahun-tahun Bima diam dan dirinya seakan tidak peduli, hari ini Papa Atma mengetahui bahwa malam itu Bima tidak tidur, melainkan menahan lapar dan memori itu tertanam dalam memori Bima.


Bukan sebentar, berpuluh-puluh tahun dia pendam dan bodohnya Atma percaya begitu saja. Memalukan sekali, rasanya dia tidak memiliki muka di hadapan mantan istrinya. Bahkan, untuk kembali masuk ke ruangan rawat Bima dia sudah tidak kuasa.


Dia akan ulangi meski tidak sedang berada di sisi Bima. Sebelumnya sudah dia utarakan, dan Bima hanya menatap datar seolah tidak ikhlas, ya dia tahu Bima luar biasa marahnya.


Masih dengan sejuta sesal dalam hati, Papa Atma memejamkan mata dan mengatur napasnya. Dia terlena, Bima yang patuh ternyata menyimpan sejuta kebencian, pandai sekali Bima menyembunyikan perasaan itu.


"Maafkan ucapan Bima, aku harap kau tidak semakin membenci putraku dengan sikapnya hari ini."


Suara itu, mata Papa Atma terbuka perlahan kala mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Walau sudah lama tidak dia dengar lantaran terus menghindar, kini Papa Atma kembali mendengar mantan istrinya bicara sedikit panjang.


Sama seperti Bima, caranya bicara terkesan dingin dan sedikit tidak bersahabat. Papa Atma memberanikan diri untuk menatap mata indah Seruni, mata yang dahulu sempat memberikannya kesejukan dikala penat menata masa depan.

__ADS_1


"Bima putraku juga, mana mungkin aku membencinya, Runi," balas Papa Atma terdengar lesu.


"Tapi sepertinya orang sepertimu benar-benar tidak pantas disebut ayah ... sejak awal sudah kukatakan aku saja yang membawa mereka, tapi sikap angkuhmu terlalu merendahkanku," ucap Bu Seruni menatap tajam mata elang Atma yang dahulu begitu dia impi-impikan.


"Aku tidak tahu jika akhirnya begini," jawab Atma begitu pelan seraya mengusap wajahnya kasar.


"Aku yang bodoh!! Kenapa waktu itu percaya padamu. Andai saja aku lebih keras kepala, mungkin Bima tidak akan menjadi korban dan terjebak di neraka yang kau ciptakan bersama wanita itu."


Setelah tadi Bima, kini ibunya menyerang Papa Atma hingga pria itu sulit untuk bicara. Tidak hanya Bima yang seolah mengeluarkan taringnya, wanita itu juga demikian.


"Aku tidak menciptakan neraka."


"Menurutmu tidak, pada faktanya berbeda ... tapi aku bisa dimaklumi hal itu, karena memang iblis seperti kalian berdua mana mungkin menciptakan surga untuk putraku," pungkas Bu Seruni kemudian, dia puas sekali melihat Atmadja yang dahulu membuangnya beberapa saat setelah melahirkan kini diam seolah tidak lagi memiliki daya sedikitpun.


"Iya, kau benar!! Iblis sepertiku tidak mungkin bisa menciptakan surga untuk siapapun, termasuk untukmu ... maafkan aku, Seruni." Ucapan itu mengalir saja, padahal dia tidak memiliki rencana untuk meminta maaf.


"Minta maaf pada Bima, bukan padaku."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1


__ADS_2