
Paginya memang sedikit terganggu lantaran sang mertua tiba-tiba datang menjenguk Lengkara. Sesuai dugaan Bima, kakak iparnya yang memberitahukan kabar itu. Niat hati memilih diam karena takut menjadi sasaran emosi, Bima justru benar-benar membuat Papa Mikhail kesal karena tidak mengabarinya.
"Kenapa tidak bilang, Bima? Kau tahu, hal semacam ini tidak bisa dianggap sepele, jika terjadi sesuatu bagaimana?" tanya Papa Mikhail tidak habis pikir, dia sudah menyerang Lengkara dengan berbagai pertanyaan sebelumnya dan jelas tidak puas jika Bima tidak kena juga.
"Sudahlah, Pa ... jangan diperpanjang, lagi pula anaknya baik-baik saja begitu."
Sungguh tidak ada empati sedikitpun, Zean bicara santai hingga Lengkara mencebik kesal mendengarnya. Bagi Zean mungkin saja hal itu sudah biasa, toh Syila dulu sempat mengalami hal yang sama karena ulahnya.
"Kau ini, adiknya sakit tidak ada empati sama sekali."
"Bukan begitu, tapi mem_ halah sudahlah, Papa seperti tidak pernah mudah saja."
Bukan tengah berusaha menjadi penjilat dalam hidup Bima, tapi untuk kali ini dia memang berada di sisi Bima sebagai pembela. Berbeda dengan sebelumnya, Kak Zean sesigap itu demi membuat suasana menjadi baik-baik saja.
"Anak ini benar-benar ... dengar ya, Papa masih muda lebih dahsyat dibandingkan kau!! Paham?"
Niat hati bicara serius pada Bima seketika berubah lantaran kehadiran sang putra yang mendadak menjadi penengah entah karena habis makan apa.
"Dahsyat bagian mananya, sama saja menurutku," sahut Zean tanpa takut dan hal itu membuat Bima was-was, khawatir terjadi perang sebentar lagi
"Akui saja, pesona papa bahkan jauh darimu. Kau hanya 0,25 persen jika dibandingkan papa, Zean."
"Are you serious, Mr. Khail? Menjerat seorang gadis belia hanya karena kaca spion yang kata Anda tidak dibeli secara terpisah itu bukan sebuah pesona, tapi kekejaman"
Mulai, Zean memegang kartu AS papanya hingga pria yang tak lagi muda itu mendadak diam. Sudah jelas diam bukan karena takut, melainkan tengah berpikir bagian mana yang pantas untuk dipukul.
"Lebih parahnya lagi, gadis malang itu memiliki kekasih yang begitu tulus padanya ... oh om Zidan, peluk jauh untukmu," lanjut Zean kemudian tanpa peduli setajam apa tatapan Papa Mikhail padanya.
"Ya, terus apalagi?" tantang Papa Mikhail tidak peduli andai Zean membocorkan semua kisahnya di masa lalu.
"Ehem, segitu saja ... bagaimana, Bima? Menarik bukan kisah papa di masa lalu?"
Bima yang mendapat pertanyaan dari Kak Zean jelas ciut seketika. Sudah tentu dia harus berhati-hati dalam menjawab, terlebih lagi hal ini sangatlah sensitif dan besar kemungkinan Bima yang kena getahnya nanti.
"Hehe lu-luar biasa, Kak, Papa memang ... keren." Bima tidak tahu dimana letak kerennya, jujur saja dia terkejut usai mendengar penuturan Zean.
__ADS_1
"Ah keren, kau mau tahu yang lebih kerennya bagaimana?" tanya Zean kembali menciptakan celah untuk menyeret Bima dalam neraka.
"Ti-tidak, lain kali saja!!" tolak Bima tegas, mendengar kisah awalnya saja dia sudah bergidik ngeri. Lantas bagaimana momen yang lebih kerennya lagi? Dia tidak penasaran dan tidak ingin mencari tahu demi keselamatan hidupnya.
Detik ini Bima berharap seseorang akan menyelamatkan dirinya sebelum Zean kembali bicara. Bukan karena tidak suka, tapi Kak Evan sempat mengatakan terkadang Zean kerap menyeret seseorang dalam masalah.
"Ah begitu, padahal ada yang lebih ker_"
Kebetulan, dewa keberuntungan datang di saat yang tepat. Ponselnya berdering hingga Zean berhenti bicara, akhirnya nada dering sekeras lantunan Azan di masjid besar itu berguna dengan tepat.
"Sebentar, Yudha meneleponku."
Tidak ingin terlihat gugup, Bima berlalu menepi untuk menerima panggilan dari saudaranya. Tersisa kini Lengkara dan Papa Mikhail yang tengah melayangkan tatapan kesal ke arah Zean.
"Dasar ember, mulutmu memang perlu dijahit," gerutu Papa Mikhail seraya menghela napas kasar.
"Memang, kak Zean lupa ngaca, Pa ... padahal dia juga lebih parah, punya istri dua sekaligus terus nikah lagi sebelum jadi duda, apaan begitu." Lengkara yang juga memendam kekesalan akibat Zean ingin memberikan hadiah bunga tabur padanya sontak menjadi garda terdepan sang papa.
"Betul!! Seratus buat Kara, besok papa kasih sertifikat tanah," ucap Papa Mikhail mengacak pelan rambut putrinya, sementara Zean kini menatap mereka sedatar mungkin seolah tidak merasa kalah.
"Tentu saja, sejak kapan Papa bohong? Buat cucu papa nanti, biar mainnya bebas di taman pribadi," ucap Papa Mikhail sungguh-sungguh, terdengar bercanda, tapi pada faktanya memang nyata.
"Asik!! Jadi semangat punya anak banyak," seru Lengkara seraya bertepuk tangan yang seketika membuat mata Zean membola, dia tahu sejak dahulu adik perempuannya yang satu itu sedikit berbeda.
"Hahah kau ini ada-ada saja ... papa tidak akan mengatur hidupmu, Kara. Papa hanya berharap putri papa ini selalu bahagia sampai akhir," tutur Papa Mikhail begitu lembut, sungguh interaksi manis dan membuat Zean iri lahir batin.
"Pilih kasih, dulu aku diatur harus punya anak enam ... terus tidak ada tuh papa kasih aku tanah segala."
"Dasar iri hati, kau sudah punya segala yang papa punya masih kurang? Cari papa lain sana," gertak Papa Mikhail, sungguh dia dijadikan musuh bebuyutan hanya karena membongkar kelakuan sang papa di masa muda.
.
.
Perdebatan kecil mereka baru berhenti kala Bima kembali mendekat. Nampaknya dia baru saja mendengar kabar penting dari Yudha, entah apa, tapi yang jelas raut wajah Bima mengkhawatirkan.
__ADS_1
"Sudah, Bim? Apa terjadi sesuatu pada papamu?" tanya Papa Mikhail kemudian, khawatir saja jika besannya itu justru mengalami hal buruk.
"Bukan, Pa, papa baik-baik saja dan mereka sedang dalam perjalanan ke sini," jawab Bima menatap kagum pada sosok cinta pertama sang istri yang mungkin tidak akan pernah bisa Bima saingi.
"Kau menghubungi mereka?"
"Iya, Pa, semalam dia menghubungiku," jawab Bima sedikit khawatir papa mertuanya akan merasa dibeda-bedakan.
"Wah jadi benar besanku akan datang?" Papa Mikhail antusias sekali, dia sempat bertemu Papa Atma kala itu dan cukup banyak hal yang menarik dari seorang Atmadjaya.
Namun, belum sempat Bima menjawab, pintu kembali diketuk sebelum kemudian Bima menyaksikan senyum sang ibu di sana. Wanita itu baru tiba usai Bima memberikan izin pada pak Iwan tadi pagi.
"Bu Runi panjang umur, baru saja dibicarakan, benar-benar datang." Sedikit berbohong, padahal yang tadinya dia bahas bukan Bu Seruni, melainkan Papa Atma.
"Ah benarkah begitu?"
"Bohong, Bu, tadi Papa bukan bahas ibu, tapi bahas Papa Atma," timpal Zean sekalipun tidak diajak bicara.
"Astaga anak ini, sama-sama besan maksudnya. Jadi Bu Runi juga termasuk," tutur Papa Mikhail berusaha memberikan penjelasan lantaran khawatir Bu Seruni benar-benar tersinggung.
"Oh begitu ... apa aku datang di saat yang tidak tepat?"
"Tentu saja tidak, bukankah hal baik kalian bisa bertemu di sini, kebetulan istri saya akan datang sebentar lagi. Jadi nanti siang kita bisa makan bersama jika Anda tidak keberatan," ucap Papa Mikhail yang membuat Bu Seruni menatap Bima segera, entah apa makna tatapan Bima yang jelas pria itu tersenyum tipis sebelum kemudian menunduk dalam-dalam.
"Eum saya ...."
"Tidak apa-apa, Bu, aku tidak melarang dan nikmati waktu kalian," ucap Bima semangat sekali, tatapan sang ibu membuatnya salah sangka.
Bu Seruni tengah mencari cara agar menolaknya, tapi dengan Bima yang bicara seperti itu jelas saja keadaan Bu Seruni justru terjebak. "Dasar anak nakal, ingin sekali kutarik telinganya itu."
.
.
- To Be Continued -
__ADS_1