Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 76 - Tawaran Papa


__ADS_3

Berawal dari tukang pijat, berakhir menjadi pasien yang harus dipijat. Begitulah kata-kata yang paling sesuai untuk menggambarkan bagaimana Lengkara pagi ini. Memaksakan diri untuk bangun pagi lantaran di rumah mertua, dia justru mendapati tubuhnya seolah sakit semua.


Padahal, yang harus dia kerjakan juga tidak ada. Berbeda dengan mamanya, sang mertua ternyata tidak pernah menyentuh dapur. Semua diserahkan kepada pelayan, dan Lengkara sempat membantu mereka meski sudah dilarang.


Tanpa sepengetahuan Bima tentu saja, sang suami belum terjaga karena memang masih begitu pagi. Matahari belum memperlihatkan serinya dan kehidupan asisten rumah tangga di kediaman Atmadja sudah sesibuk itu.


Lengkara lelah dan hal itu tidak dapat dia sembunyikan dari Bima. Meski Lengkara mengatakan dia hanya membantu membersihkan halaman belakang, tapi Bima sama sekali tidak percaya. Curiga dia justru menyapu seluruh halaman hingga keringat di keningnya sampai membasah begini.


"Papa sudah membayar orang untuk melakukan semua itu, jadi menyapu halaman bukan tugasmu."


Ya, Lengkara tahu soal itu. Papanya juga membayar beberapa pelayan untuk melakukan tugas. Namun, bukan berarti dia diajarkan untuk benar-benar lepas tangan. Sekalipun dia bisa menjalani hidup layaknya anak raja, bukan berarti dibiarkan anti megang sapu.


"Kebablasan, aku suka ... sudah lama tidak pegang sapu lidi," ucap Lengkara seadanya, memang benar dia melakukan semua itu karena tertarik dengan sapu lidi.


Sudah lama dia tidak melakukan itu, terakhir sebelum dia menikah dan itu pun karena dipaksa papanya yang kala itu meminta anak cucunya kerja bakti. Lengkara merindukan semua itu, dia menyukainya hingga tidak sadar sekeliling rumah mertuanya beres meski akhirnya lelah sendiri.


"Tetap saja tidak boleh, lain kali jangan ... tenagamu habis di pagi hari, kalau tiba-tiba masuk angin bagaimana?" tanya Bima sembari terus memijat lengannya, sama sekali dia tidak menduga jika hilangnya Lengkara tadi pagi adalah menggantikan tugas mang Oji.


"Tidak, Mas, sesekali cari keringat tidak ada salahnya," tutur Lengkara menikmati sentuhan Bima yang cukup menenangkan, bahkan lebih nyaman dibandingkan pijatan mbok Ratri.


"Cari keringat terus ... semalam kurang?"


"Ih beda!! Pikiranmu kejauhan, Mas."


"Sama saja, sama-sama keringat dan lelahnya terbayar dengan ketenangan yang kita dapat setelahnya," jawabnya tampak santai dan merasa paling benar, untuk pertama kali Lengkara hanya menatap Bima datar.

__ADS_1


Dia bingung sendiri dengan pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Sebelum menikah tidak begini, bahkan bercanda saja dia batasi. Bukan hanya itu, di saat mereka menjalani pernikahan pertama juga Bima tidak begini, aneh saja apa yang diberikan papanya selama sebulan hingga Bima berkembang sepesat ini.


Cukup lama Lengkara menikmati pijatan sang suami, Bima benar-benar berusaha agar tubuhnya tidak merasakan sakit nanti. Namun, semua yang dia lakukan jelas tidak gratis dan Lengkara harus membayar mahal setelah ini.


Hal yang paling dia hindari agaknya benar-benar terjadi. Bima membopongnya ke kamar mandi, terpaksa dia pasrah begitu saja karena tidak mungkin lari dan meninggalkan Bima seorang diri.


"Pamrih ... aku pijat di mbok Ratri gratis, kenapa mas begini?"


"Jelas saja beda, jangan disamakan, Lengkara."


Sejak lama dia mengatur strategi agar bisa berendam dan mandi bersama, tapi selalu kalah lantaran Lengkara seolah tahu niatnya. Pagi ini, mana mungkin bisa mengelak dan jelas saja Bima merasa benar-benar merdeka.


"Jangan macam-macam ya, ini bukan di rumah, Mas."


"Kamu tahu seberapa tidak pedulinnya keluargaku dengan urusanku bukan? Jadi jangan pedulikan itu," tutur Bima sebelum kemudian melucuti pakaian sang istri yang sejak tadi sudah tampak basah dan memperlihatkan tubuh indahnya.


.


.


Seolah tidak belajar dari pengalaman, Lengkara kembali terjebak dalam dusta yang Bima ciptakan. Sama sekali tidak dia duga, jika percintaan di pagi hari itu akan menjadi malapetaka. Tidak hanya diejek, tapi Bima justru diwawancara ketika turun dari kamar.


"Bagaimana pengeluaran Anda setelah menikah? Terutama untuk shampo dan juga peralatan mandi lainnya, Pak Bima?"


"Penting pertanyaanmu?" Bima balik bertanya dan mendelik tajam ke arah Raja yang tiba-tiba bertanya dan mengarahkan mic layaknya wartawan sungguhan.

__ADS_1


"Tidak ada asiknya sama sekali," gumam Raja mengerjap pelan ke arah Bima, hingga menikah pria yang sudah dia tatap sejak pertama kali bisa melihat itu masih sama. Dia dingin, malas bicara dan tidak bisa diajak bercanda, jauh berbeda dengan Yudha.


Bima mengatakan jika keluarganya tidak begitu peduli dengan urusan masing-masing, terutama dirinya. Namun, pagi ini Lengkara merasa berbeda ketika kembali berjumpa mertuanya di meja makan.


Entah apa yang terjadi, tapi kali ini tatapan Papa Atma tidak lagi semenakutkan kemarin. Pria paruh baya itu bahkan menyelipkan candaan kala menyambut Bima, dia juga meminta Arjuna pindah agar mereka bisa duduk berdampingan.


"Kau tidak ada rencana membawa istrimu bulan madu? Papa belum memberikan hadiah pernikahan untuk kalian, Bim."


Bima mengerjap pelan, khawatir telinganya salah tangkap. Tidak hanya dia yang terkejut, ketiga saudaranya juga sama. Bahkan, Yudha sampai tersedak, entah karena mendengar ucapan Papa Atma atau karena cemburu tersirat di sana.


"Betul, Bim ... papa dulu sering bawa mama keliling Eropa, pulang-pulang hamil Raja," tutur mamanya dan entah kenapa Bima mendadak sakit dan suasana hati pria itu berubah, dia tersenyum getir kemudian menggeleng pelan.


"Tidak perlu, Pa," jawab Bima yang seketika membuat Lengkara menoleh dan melayangkan tatapan tak terbaca ke arah sang suami.


.


.


Bingung, Lengkara seolah kecewa mendengar ucapan Bima. Beberapa saat dia menghela napas sebelum kemudian mengucapkan alasannya. "Hari ini senin, jangan lupa vote Istri Tak Ternilai, terima kasih."


.


.


- To Be Continued -

__ADS_1



__ADS_2