Istri Tak Ternilai

Istri Tak Ternilai
BAB 133 - Cari Uang Itu Susah


__ADS_3

Salah-satu hal yang tidak boleh dilakukan di dunia ini percaya ucapan wanita. Ya, seperti itu juga yang Zean tuturkan tentang sosok Lengkara pada Bima. Memang tidak ada unsur penipuan, tapi Bima saja yang tidak berpikir panjang.


"Jangan cemberut, kita harus totalitas."


Bima pernah diperbudak untuk menjadi mesin pencetak uang di keluarganya. Kini, apa mungkin status Bima masih sama? Hanya berbeda keadaan saja. Kerjanya memang hanya berdiri dan mengikuti apa mau Lengkara, tapi malunya luar biasa dan seumur hidup Bima tidak pernah bermimpi akan mengenakan Abaya lengkap dengan kerudung di kepalanya.


"Kamu bilang pakaian muslim, kenapa yang begini?" Dalam bayangan Bima, dia akan terlihat gagah dan berkharisma seperti Kak Sean dan keluarga Zalina, nyatanya ekspetasi Bima terlalu berlebihan.


"Kan ini termasuk pakaian muslim ... mereka kirimnya berbagai ukuran, yang jumbo cocok di kamu, aku kegedean."


"Kenapa tidak ibu saja?" tanya Bima menghela napas pelan, hancur sudah wibawanya.


"Ibu juga kegedean, Mas Bima ... jangan banyak ngeluh, ikhlas, 'kan bantuin aku?" tanya Lengkara sebelum memulai mempromosikan produk yang bisa dipastikan banyak diburu sebelum hari raya.


"Ikhlas, ayo lanjut."


Bima ingin menangis? Tidak, sebenarnya dia sudah menangis beberapa saat lalu, tapi berusaha disembunyikan saja. Hendak menyerah sudah telanjur, anggap saja resiko menikahi seorang influencer.


Hidup Bima yang begitu terjaga dan dikenal kaku, tidak asik sama sekali mendadak berubah ketika menjadi suami Lengkara. Walau sebenarnya dia hanya diam di depan kamera dan tidak mengucapkan apa-apa, tapi percayalah peran Bima sangat penting bahkan banyak yang meminta Lengkara untuk melibatkan suaminya.


Tidak hanya mulai dikenal sebagai suami Lengkara, beberapa pihak juga mulai menghubungi Bima lantaran mereka pikir pria itu memiliki talenta. Padahal, sedikitpun tidak ada ketertarikan Bima terhadap dunia hiburan semacam itu.


Kendati demikian, Bima sama sekali tidak mempermasalahkan walau dunianya begitu berubah. Orang-orang seolah mengenalnya sebagai Bima yang berbeda, tapi dia sadari semua ini merupakan salah-satu ikhtiar dalam menjalankan hidupnya.


Terlahir kaya tidak membuat Lengkara terlena, meski dia sempat mengatakan jika harta papanya tidak akan habis tujuh turunan, Lengkara tidak hanya berpangku tangan.


Walau tidak dia katakan, dapat Bima simpulkan jika alasan Lengkara melakukan semua ini karena dirinya. Bagaimana tidak, awal mereka menikah Lengkara tidak bercita-cita kembali pada dunia yang dia sukai dahulu, tapi ketika Papa Atma mengusir Bima dan membiarkan dia berjalan tanpa membawa apa-apa, barulah Lengkara bergerak.


Cukup lama Bima berdiri di depan kamera, mungkin sekitar satu jam sebelum kemudian Lengkara memintanya untuk beristirahat. Cepat-cepat Bima hendak melepasnya, tapi Lengkara menahan pergerakan Bima dengan alasan ingin mengabadikan momen ketika mereka berada di titik terendah.


Ya, jika dibandingkan dengan saudaranya Lengkara berada di titik terendah. Hingga detik ini, dia tidak berpikir untuk membeli tas ataupun pakaian mahal demi mengembalikan uang Yudha dalam waktu cepat.


"Cari uang ternyata susah ya, Ra?" Bima tertawa pelan, mengenal Lengkara membuat matanya terbuka, begitu banyak hal yang Bima petik sejak menjadi suami dari wanita itu.


"Susah, tapi kalau sama-sama tidak berasa ... iya, 'kan?"


"Iya, tapi ini yang terakhir, 'kan?" tanya Bima tersenyum kikuk, jujur saja dia khawatir jika masih banyak yang harus dia kerjakan.

__ADS_1


"Masih ada."


Gleg


Firasat Bima kembali tidak enak, seketika dia berpikir apa yang harus dia lakukan setelah ini. "Tapi lain kali saja ... hari ini segini dulu," lanjut Lengkara seketika membuat Bima menghela napas lega.


.


.


Sesuai janji, sore hari mereka menghabiskan waktu di luar. Lagi dan lagi tujuannya hanya untuk memanfaatkan waktu berdua. Jika kemarin pantai, kali ini mereka akan menghabiskan waktu di sebuah pusat perbelanjaan di ibu kota.


Sosok Bima yang mulai dikenal sebagai suami Lengkara jelas saja membuat pria itu harus siap dengan segala resikonya. Beberapa dari mereka mengikuti Bima bahkan lancang mencuri kesempatan untuk memfotonya.


Bima mulai tak suka, dia marah dan berbalik demi menghadapi dua wanita yang sejak tadi mengikuti mereka. Lengkara yang tidak menyadari hal itu sontak panik dan mencari kemana perginya Bima.


"Apa yang kalian lakukan?"


Jauh dari jangkauan Lengkara, Bima kini memperlihatkan taringnya di hadapan penggemar Lengkara. Sama sekali dia tidak peduli apa yang akan terjadi ke depannya, tapi dia memang merasa terganggu dengan tindakan keduanya.


"Kemarikan ponselmu, kau mengambil fotoku tanpa izin bukan?" tanya Bima mengintimidasi kedua wanita itu.


"Tidak? Lalu untuk apa kalian mengikutiku?" tanya Bima tak suka, matanya begitu tajam dan menatap penuh kemarahan.


"Sejak tadi kita memang di sini."


Ketika dia merasa tak suka, maka tidak bisa berpura-pura. Hingga Bima merampas ponsel wanita dengan pakaian terbuka itu, dia yakin betul sejak tadi mereka mencuri kesempatan untuk mengambil fotonya.


"Lihat!! Kau mengambil fotoku, masih mau mengelak?" tanya Bima dengan rahang yang kini mengeras, raut Wajah mereka sungguh membuat Bima muak.


"Sudahlah, Mas ... cuma foto tidak masalah, 'kan?"


Lengkara yang baru tiba di dekatnya berusaha agar hal semacam ini tidak menjadi masalah. Mengingat profesinya saat ini, kemungkinan besar memang harus berusaha menyenangkan banyak orang. Meski, jujur saja dia tidak suka karena kentara sekali wanita itu hanya mengincar Bima tanpa memikirkan dirinya.


"Ra? Kamu apa-apaan? Dia mencuri fotoku!!"


"Tolong dihapus ya, suami saya tidak nyaman." Lengkara meminta dengan suara lembut, sebisa mungkin hasrat untuk menjambak wanita itu dia tahan sebaik mungkin.

__ADS_1


"Iya, Nyai, maaf suaminya bikin gemes soalnya," ucap wanita itu dan Lengkara hanya mengangguk pelan.


Setelah kehadiran Lengkara, mereka berlalu pergi meninggalkan Bima. Sudah tentu dengan gelak tawa yang ditahan dan Bima sadar betul akan hal itu, sungguh dia benar-benar marah dan sangat tidak suka.


"Cuma segitu? Kamu tidak marah sama sekali?" tanya Bima tak habis pikir, seketika dia merasa tak berharga di mata Lengkara.


"Mau marah gimana, sudahlah, Mas kan sudah dihapus jangan dipermasalahkan."


"Bagiku masalah, mereka melakukan sesuatu tanpa izin dan kalau jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab bagaimana, Kara?"


"Selagi bukan foto messum aman-aman saja, Mas tenanglah." Bingung, Lengkara tidak mengerti kenapa suaminya benar-benar tak tertebak semacam ini.


"Cih wanita ini, orang-orang itu mencuri fotoku dan tidak hanya satu atau dua, tapi banyak!! Anehnya, kamu tidak cemburu sama sekali? Why, Lengkara?"


"Heh?" Lengkara mengerjap pelan setelah mendengar pertanyaan Bima, sontak dia memastikan suhu tubuh Bima dengan punggung tangannya.


"Mas kenapa? Sakit ya?"


"Entahlah ... aku gila atau kenapa sebenarnya." Jika Lengkara bingung, dirinya lebih bingung lagi. Dahulu dia cukup sulit mengimbangi sikap Lengkara, kini dia merasa Lengkara tiga tahun lalu adalah dirinya.


"Laper? Kita makan aja ya?" Biasanya makan bisa memperbaiki suasana hati, mungkin Bima juga begitu.


"Boleh, makan apa?"


"Bakso mau? Aku kangen ... ada empat belas tahun aku tidak makan bakso," ujar Lengkara mengada-ada hingga Bima tertawa kecil, dia tidak terlihat sedang menghibur, tapi Bima sangat terhibur.


"Mau, tapi mas alergi."


"Kan ada bakso yang lain, bakso ayam, 'kan bisa," jawabnya kemudian, pikiran Bima memang agak cetek sepertinya.


"Ayam apa?" tanya Bima serius, tapi Lengkara justru menanggapinya berbeda.


"Ayam kampus," jawabbya santai sebelum kemudian berakhir toyoran di keningnya.


.


.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2